Foto: SALMAN TOYIBI/ JAWA POS MENUNTUT HAK: Seorang korban investasi Pandawa melapor di pos pengaduan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan. Total lebih dari 300 orang yang mengaku tertipu.

 

 

MENUNTUT HAK: Seorang korban investasi Pandawa melapor di pos pengaduan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan. Total lebih dari 300 orang yang mengaku tertipu. Foto: SALMAN TOYIBI/ JAWA POS

RADAR DEPOK.COM – Selain mencari aset milik Salman Nuryanto, pendiri Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group, penyidik menelusuri pihak-pihak yang terlibat dalam praktik investasi bodong kasus ini.

Kamis dini hari (23/2) ada tiga orang yang dijadikan tersangka baru. Yakni, Nani (istri pertama Nuryanto); Cici (istri kedua); dan Darkim (ayah Cici).

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Humas (Kabidhumas) Mapolda Metro Kombespol Argo Yuwono membenarkan hal itu. Dia menyatakan, tiga orang tersebut terbukti terlibat dalam kasus investasi. Namun, ketiganya memiliki keterlibatan yang berbeda.

Untuk kedua istri, lanjut Argo, mereka berperan sebagai administrator KSP Pandawa. Kemudian, Darkim hanya menerima dana dari Nuryanto.

“Setelah profit didapat, Nuryanto memberikannya kepada mertuanya (Darkim, Red). Sebatas itu,” tuturnya.

Ketiganya ditangkap di Indramayu, Jawa Barat. Argo menambahkan, penyidik mengarah kepada tiga orang tersebut setelah memeriksa Nuryanto pada Selasa-Rabu (21-22/2). Saat ditangkap, ketiganya tidak melakukan perlawanan.

“Tidak ada perlawanan dari ketiganya,” katanya.

Argo sebenarnya mengklaim bahwa Cici pernah diamankan aparat kepolisian saat penangkapan Nuryanto di Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (19/2). Namun, Cici tidak sampai dibawa ke Mapolda Metro.

“Saat penangkapan Nuryanto, Cici ada. Tapi, ketika itu kami lepas karena belum ada bukti yang bisa menyeretnya untuk ditangkap polisi,” kata pria kelahiran Jogjakarta itu.

Berdasar pengakuan ketiga keluarga Nuryanto kepada penyidik, Argo menjelaskan, anggota keluarga sebenarnya mengetahui apa yang dilakukan Nuryanto. Yakni, menjalankan bisnis investasi melalui sebuah koperasi simpan pinjam. Namun, saat KSP Pandawa goyah, tiga orang tersebut tidak mengetahui hal itu.

“Kami tahan karena mereka diam saja. Izin praktik investasi Pandawa tidak ada. Kalau praktik koperasi ada. Kenapa kok diam, berarti ilegal,” tuturnya.

Sementara itu, pusat pengaduan kasus Pandawa yang disediakan polisi di Saung Ditkrimsus Mapolda Metro Jaya terus didatangi korban. Ada lebih dari 300 orang yang datang, Kamis (24/2).

Dengan membawa berkas dokumen perjanjian investasi, mereka mendaftarkan diri sebagai korban kepada petugas jaga di saung tersebut. Misalnya, AM (48). “Saya kena Rp450 juta,” ungkapnya. (sam/c24/ano)