Foto: Febrina/Radar Depok APRESIASI : Walikota Depok, Mohammad Idris mengapresiasi pasar pahala yang dilakukan di Perumahan Kemang Swatama, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong.

 

APRESIASI : Walikota Depok, Mohammad Idris mengapresiasi pasar pahala yang dilakukan di Perumahan Kemang Swatama, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong. Foto: Febrina/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Melalui Infak maka bisa dijadikan sarana untuk membangun keunggulan ekonomi, sesuai dengan visi Kota Depok yaitu unggul, nyaman dan religius. Salah satu kegiatan yang dilakukan warga Perumahan Kemang Swatama RW08 Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong ini merupakan salah satu cara yang inovatif dalam mengumpulkan infak melalui pasar pahala.

“Ini merupakan salah satu wadah untuk mengingatkan warga Depok untuk tidak melupakan amal dan infak. Dengan kegiatan ini, diharapkan warga bisa lebih sering melaksanakan infak, tentunya dengan ketulusan hati dan sesuai kemampuan,” ujar Walikota Depok, Mohammad Idris kepada Radar Depok.

Idris mengatakan, dalam konteks pembangunan kota, Depok memiliki visi yang menjadi karakter dan kekuatan kota yaitu religius. Religius ini adalah sebagai simpul dari dua visi lainnya, yaitu unggul dan nyaman. Dalam Islam, keunggulan itu bisa diwujudkan dalam ekonomi dan juga agama.

“Selain ide yang berbeda dalam mengumpulkan infak, Masjid Al Muhajirin ini juga dengan konsep fisik yang bergaya modern namun tetap religius,” ungkapnya.

Ketua RW 08 Kelurahan Kalibaru, Perumahan Kemang Swatama, Sri Puji Harjawarsana menambahkan, pasar pahala ini sudah berjalan sekitar sembilan bulan. Awalnya memang infak yang digagas dalam bentuk pasar pahala untuk pembangunan masjid.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak perkembangan lainnya. Disini konsep pasar pahala sendiri bisa digunakan diwilayah lain dan untuk kegiatan sosial dan keagamaan lainnya.

“Pasar pahala terus dikembangkan, tak hanya untuk pembangunan masjid saja, namun banyak hal lainnya yang bisa dilakukan melalui infak tadi,” ungkapnya.

Pembangunan Masjid Al Muhajirin ini sendiri sebagian besar berasal dari dana infak masyarakat melalui pasar pahala. Sebelumnya masjid yang saat ini memiliki dua lantai, dulunya hanya ada satu lantai.

Selama kurang lebih 20 bulan, kini masjid tersebut dapat terbangun dengan megah, salah satunya berkat sokongan dana dari kegiatan pasar pahala tersebut. Tidak hanya disini, mungkin kedepan bisa diterapkan dimasjid-masjid lainnya.

“Dengan berjalannya kegiatan infak melalui pasar pahala ini diharapkan bisa bermanfaat dan dikembangkan,” tutup Puji.(ina)