Dok.Pri Sri Yuliastuti HEBAT: (kiri) Sri Yuliastuti saat beraksi terjun payung. (kanan) Sri menunjukan produk olahan Rendang Jengkol, di sela kegiatan pameran, beberapa waktu lalu.

 

HEBAT: (kiri) Sri Yuliastuti saat beraksi terjun payung. (kanan) Sri menunjukan produk olahan Rendang Jengkol, di sela kegiatan pameran, beberapa waktu lalu. Dok.Pri Sri Yuliastuti

Siapa sangka perempuan berjilbab yang satu ini tidak phobia terhadap ketinggian. Usut punya usut, pemilik nama lengkap Sri Yuliastuti (51) merupakan mantan atlet Terjun Payung Jawa Barat. Bahkan di era tahun 1987, Sri menorehkan prestasi menjadi Juara 3 Putri pada Pekan Olah Raga Nasional (PON), yang diselenggarakan di Bogor.

Laporan: Muhammad Agung HR –Depok

Tak semua orang khususnya perempuan hobi terhadap olah raga terjun payung. Namun bagi Sri Yuliastuti, olah raga ekstrim ini pernah dia jadikan sebagai aktivitasnya sehari-hari. Sri lahir 31 Juli 66 di Jakarta. Kini, ia menetap di Grand Depok Residence Jalan M. Zakaria Tanah Baru Kecamatan Beji. Saat ditemui disela kegiatan pameran, Sri banyak bercerita kepada Radar Depok soal aksinya di dunia terjun payung.

Tertarik pada olah raga ini berawal saat Sri melihat pertunjukan terjun payung di pelantikan Resimen Mahasiswa (Menwa) Batalyon II Universitas Padjajaran Bandung tahun 1985. Setelah itu, ia selalu membayangkan terjun itu menyenangkan.

Kesempatan untuk jadi penerjun pun muncul. Setahun kemudian, Sri diajak temannya ikut sekolah terjun AVES SPC. Dan tak ragu mendaftar ke sekolah tersebut. Entah kebetulan atau tidak, keluarga pun mendukung penuh keputusan yang ia buat.

“Waktu itu kepala sekolahnya pak Trisnoyuwono Rahimahullah, masih ingat saya. Penerjun pertama Indonesia,” kenang Sri kepada Radar Depok.

Sekolah berlangsung Sabtu dan Minggu selama dua bulan. Penerjunan pertama dilakukan di bandara Husein Sastra Negara Bandung, menggunakan parasut bulat sipil jenis 7TU dengan pesawat Gelatik di ketinggian 3.500ft. “Pertama terjun Alhamdulillah, lancar,” kata isteri dari Chairul Anwar ini.

Kemudian setelah tujuh kali terjun, Sri pun diperbolehkan memakai parasut kotak yang bisa dikendalikan. Itu ia dapatkan sekitar tahun 1986. Sri yang lulusa pada Fakultas Ekonomi Akuntansi tersebut, pada September 1986 diikutkan training terjun selama sebulan di Amerika Serikat.

“Pulang dari sana saya langsung ikut PON di Bogor,” tutur perempuan peraih medali Perunggu pada PON 1987.

Sri dikaruniai dua orang putra, yaitu Abraham Anwar (21) sekarang kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Raihanah Anwar (17) kini Kelas XII di SMA Negeri 5 Kota Depok.

Selain mahir dalam terjun payung, perempuan murah senyum ini juga ternyata jago bikin rendang jengkol. Meski pun ia sempat mengaku tidak hobi memasak. Menurutnya, ‘ilmu’ membuat rendang jengkol ia dapatkan secara tidak sengaja. Pada waktu itu, Sri sering membantu ibunya memasak terutama meracik bumbu rendang saat acara keluarga maupun Hari Raya Idul Fitri.

Lambat laun, Sri dapat memperkirakan takaran bumbu yang pas. Dan setiap rendang bikinan Sri, rasa rendangnya dianggap sudah terpatri di lidah setiap pemesannya.

“Sebetulnya sama saja dengan bumbu asli di Bukit Tinggi. Tapi setiap daerah punya rasa khas masing-masing,” kata Sri.

Paling menarik, rendang yang diproduksinya sekarang ini bukanlah berbahan dasar daging sapi, melainkan jengkol. Sri juga berinovasi membuat rendang daging, paru, serta dendeng balado. Semuanya ia jual dengan cara stok dan online.

Selain media online, pengembangan bisnis ‘Rendang Jengkol’ juga ia kerjasama dengan UKM Center Universitas Indonesia. Menurut Sri, rendang Jengkol sudah dibawa keeluar negeri. Mulai dari Jerman, Paris, Denmark, Vietnam, Laos, Kamboja, London, Tunisia, Arab Saudi, hingga Maroko. Semuanya dibawa sebagai buah tangan alias oleh-oleh wisatawan yang berkunjung ke Kota Depok.

“Paling banyak yang pesan rendang jengkol, pesanan paling rutin ada di Surabaya,” tutur Sri.

Sri mengaku, sempat membuat rendang berbahan dasar daging bebek, kemudian ayam dan paru daging. Pada tahun 2015, salah satu temannya minta dibikinkan rendang kemudian hasilnya di upload ke facebook.

“Akhirnya banyak pesanan, kemudian berkembang. Saya pikir kenapa tidak diteruskan bisnis ini,” pungkas Sri. (*)