Foto: Dian/Radar Depok TEPAT DISASARAN: Sejumlah murid yang bergabung dalam INASP Kota Depok dalam kegiatan latihannya.

 

TEPAT DISASARAN: Sejumlah murid yang bergabung dalam INASP Kota Depok dalam kegiatan latihannya. Foto: Dian/Radar Depok

Indonesia Archery Schools Program (INASP) dibentuk Defrizal Siregar pada Desember 2013. Mantan atlet panahan DKI Jakarta era 90an ini ingin mempopulerkan panahan, demi dapat dinikmati segala lapisan masyarakat. Di Kota Depok sendiri nama  INASP  sudah tidak asing lagi untuk pencinta olahrga panahan.

Laporan : DIAN AFRIANTI KUNTO, Radar Depok

Mantan pengurus Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kota Depok ini memberanikan diri membentuk INASP, dengan menyiapkan dan menyediakan berbagai alat yang dibutuhkan untuk panahan. Menggunakan dana pribadi, dia menyiapkan beberapa set busur dan anak panah.

“Kalau tertarik (bergabung), nanti ada biaya operasional untuk merawat dan menyediakan peralatan panahan, tetapi nominalnya tidak besar,” tuturnya.

Melihat respons masyarakat yang cukup baik, Defrizal pun mulai mencoba menyosialisasikan olahraga panahan ini ke berbagai sekolah di sekitar Depok, untuk dijadikan kegiatan ekstrakurikuler. “Walaupun banyak sekolah yang tertarik, saya tidak langsung meminta mereka untuk membeli peralatan. Tetap saya coba fasilitasi awalnya,” kata Defrizal.

Meski demikian, Defrizal  tak lupa menguraikan perihal manfaat panahan, baik kepada pihak sekolah maupun masyarakat yang ingin mencoba panahan. Menurut dia, ada empat manfaat dan nilai positif yang dapat diambil dari olahraga panahan. Yaitu Ketenangan, keberanian saat menganalisis arah angin hingga melepaskan anak panah, dan mengasah mental pemenang.

Defrizal menjelaskan, minat masyarakat terhadap panahan saat ini kian besar. Sampai-sampai, dia terkendala dengan minimnya jumlah pelatih atau instruktur. Dia mengaku sempat menghubungi teman- temannya yang juga mantan atlet untuk melatih. Sayangnya, menurut dia, waktu mereka sangat terbatas.

Akhirnya, Defrizal menyiasati hal tersebut dengan membuat program Training for Trainer. Tujuan dari program ini adalah mencetak pelatih-pelatih olahraga panahan.

“Saya bikin modulnya, kemudian sebarkan infonya di Facebook. Ternyata banyak juga yang tertarik, mulai guru, anak-anak muda, bahkan ada juga pengusaha,” ucapnya.

Sampai saat ini sudah 60 angkatan atau lebih dari 1.200 orang yang berpartisipasi dari berbagai daerah dan terutama di Kota Depok sendiri.

“Saat ini sudah ada sekitar 150 klub dan ekstrakurikuler (panahan) tersebar di 21 provinsi di Indonesia,” katanya.

INASP memang cukup berperan dan berkontribusi dalam mencari bibit- bibit atlet. Hal itu terbukti dengan bergabungnya sejumlah anggota  INASP  ke Perpani. Ke depan, ia berharap pemerintah, melalui Perpani, dapat mendukung kegiatan  INASP  walaupun bentuk dukungan tersebut tidak mesti berbentuk dana atau materi.

“Dukungan moril sudah cukup agar  INASP  dapat semakin giat dalam mengembangkan dan menghasilkan bibit-bibit atlet panahan masa depan,” pungkasnya.(bersambung)