MANTAP: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna kala meninjau TPS, selepas proses pencoblosan dilakukan, di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan.
MANTAP: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna kala meninjau TPS, selepas proses pencoblosan dilakukan, di wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan.

RADAR DEPOK.COM – Pradi Supriatna memacu sedang kecapatan sepeda motornya, kemarin siang. Meski Jalan Raya Kukusan, Beji, lenggang dengan arus kendaraan, Wakil Walikota Depok ini lebih mementingkan keselamatan.

Pelan asal selamat. Atau yang lumrah didengar: alon-alon asal klakon. Meminjam istilah orang bule, slow but sure. Motor Yamaha Nmax berwarna abu-abu itu melaju mulus menuju arah Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Hari itu Pradi tampil lebih modis. Meninggalkan kemeja safari yang biasa dikenakan saat menjalan tugas kedinasan sebagai orang nomor dua di Kota Sejuta Maulid. Pradi mengenakan kemeja jeans warna biru, yang dibalut celana jeans warna cokelat muda. Sementara telapak kaki dibungkus sneakers (sepatu kasual) warna hitam.

Lewat siang hari, ia tiba di kawasan Jagakarasa. Waktu menunjukan pukul 13:00 WIB. Matahari tak menunjukan sinarnya, yang lebih memilih sembunyi malu-malu dibalik awan. Cuaca sedikit mendung. Dalam perjalanan tadi, Pradi dan rombongan sempat diterpa hujan. Tidak sampai memnbuat kuyup. Cuma gerimis saja.

Saat itu, proses pencoblosan di Tempat Pemungutan Suara (TPS) nomor 021 Jagakarsa baru saja selesai. Petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) yang diketuai Abd Rachman mulai mempersiapkan diri memulai penghitungan.

“Saya cuma ingin melihat proses Pilkada DKI saja. Terlebih ke daerah yang berbatasan dengan Depok,” ucap Pradi, sembari berjalan menelusuri jalan setapak.

Motornya ia parkir beberapa meter dari jalan tersebut. Ia lebih ingin berjalan kaki. Sesekali menikmati nuansa masa lalu. Dulu waktu masih remaja, ia sering main ke wilayah tersebut. Bahkan sampai Pasar Minggu. Kediaman saudaranya pun banyak disini.

“Aduh sudah jadi pejabat masih naik motor saja,” ujar seorang pria menegur.

“Assalamualaikum. Ya lebih enak begini. Lebih cepat juga, sekalian cari angin,” jawabnya.

Beberapa saat, Pradi kemudian dikerubungi sekitar lima orang. Mereka ingin menunjukan keramahan, sekalian menjabat tangan. Warga sekitar lalu memboyongnya ke sebuah bale sederhana. Tak jauh dari lokasi TPS.

Balenya cukup lumayanlah. Tidak kotor. Cocok kalau malam dijadikan tempat ronda. Bagi anak muda, mungkin biasa dipakai genjrang-genjreng memetik gitar saat malam minggu. “Pilkada DKI, meski Depok bukan termasuk di dalamnya, namun harus pula dijaga kondusifitasnya,” kata Pradi.

Makanya dia berinisiatif memantau langsung proses pemilihan unutk mancari DKI 1 itu. Selain juga karena Depok juga berbatasan langsung (dengan DKI), sebagai kota penyangga.

“Kalau soal harapan di Pilkada (DKI) ini, tentu ada. Tentu dalam hal kerjasama dengan Pemkot Depok,” ungkapnya.

Kerjasama yang dimaksud, seperti bidang infrastruktur, transportasi, sampai dalam hal penanggulangan banjir.

“Caranya dengan perbaikan situ dan perawatan sungai. Oh iya, saya berkeliling saat TPS sudah selesai pencoblosan lho. Bukan saat masih berlangsung. Makanya datang siang nih,” ujar dia tersenyum.

Perbincangan berjalan hangat. Penuh keakraban, dibalut canda tawa. Bagi Pradi, tinjauannya ke TPS juga memiliki misi penting: memastikan kondusifitas. Pilkada mestinya menambahkan kesejukan diantara masyarakat. “Hasilnya berjalan lancar, aman, dan sukses,” tambah dia.

Lama waktu berselang, penghitungan suara di 021 rampung. Pasangan nomor urut 3, Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul tipis, dengan raihan 113 suara, disusul Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dengan 102 suara, dan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dengan 39 suara.

“Saya harus pamit nih. Ingin muter-muter lagi. Lain waktu saya akan mampir lagi,” tukas Pradi sembari membetulkan kerah jaket kulitnya. Motor dinyalakan, ia lalu menghilang diantara gang-gang kecil. (jun)