Sunawarti Staf TU RA Al Muttaqin

 

Sunawarti. Staf TU RA Al Muttaqin. Foto: Indah/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – RA Al-Muttaqin menerapkan jam tambahan untuk siswa-siswanya. Staf TU RA Al Muttaqin, Sunawarti mengatakan, jam tambahan tersebut berlaku bagi seluruh siswa. Namun, jika masih ada siswa yang kurang dalam membaca, menulis dan menghitung (calistung), maka akan lebih diintensifkan jam belajarnya.

“Kita wajibkan seluruh siswa untuk belajar di jam tambahan. Jika sudah ada jam tambahan dan masih ada anak yang kurang juga, kita intensifkan lagi pertemuan belajarnya,” ucapnya kepada Radar Depok.

Jam tambahan ini, berlaku untuk pembelajaran semester dua. Jam tambahan tersebut, dilakukan selama 30 menit setiap harinya sebelum memulai pelajaran.

“Hanya berlaku di semester dua saja, kalau semester satu masih pengenalan jadi masih susah untuk dibujuk belajar,” katanya.

Sunawarti beralasan, tuntutan untuk memasuki SD saat ini sangat berat. Para siswa yang ingin memasuki SD harus sudah bisa membaca, menulis serta menghitung. Hal tersebut yang menyebabkan sekolah ini adakan jam tambahan.

“Kalau mau masuk SD sekarang harus bisa baca tulis. Memang dituntut untuk baca tulis. Jadi yang belum mampu baca tulis, semester dua ini kita geber,” terangnya.

Tak ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan orang tua untuk jam tambahan tersebut. Menurut Sunawarti, memberikan ilmu merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang diemban para guru.

“Ini tidak ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan oleh orang tua. Karena kami dari guru-guru seperti bertanggung jawab dalam mencerdaskan anak-anak, setidaknya sampai mereka bisa baca tulis,” ungkapnya.

Tambahan belajar selama 30 menit dirasa sangat efektif untuk anak-anak yang masih kurang dalam calistung. Para guru berkomitmen untuk mengajarkan anak- anak calistung hingga mereka berhasil. Jika terdapat anak yang belum bisa calistung, pihak guru akan merasa gagal dalam mengajar mereka.

“Sejauh ini belum ada keluhan dari orang tua siswa. Kalau anak-anak keluar dari sini (RA Al Muttaqin) belum bisa calistung, kita sebagai guru berasa gagal mengajar mereka,” kata Sunawarti. (cr1)