GELAR PENGAJIAN: Rumah orang tua korban, Zaenudin, di Jalan Kemuning RW04 Kelurahan Depok Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok, berbenah usai menggelar pengajian tahlilan meninggalnya Zaenudin, yang menjadi korban laka lantas di turunan Selarong, Puncak, Bogor. Foto:Irwan/Radar Depok
GELAR PENGAJIAN: Rumah orang tua korban, Zaenudin, di Jalan Kemuning RW04 Kelurahan Depok Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok, berbenah usai menggelar pengajian tahlilan meninggalnya Zaenudin, yang menjadi korban laka lantas di turunan Selarong, Puncak, Bogor. Foto:Irwan/Radar Depok

**Sopir Bus Tersangka Laka Maut

RADAR DEPOK.COM ,  BOGOR – Tabrakan beruntun di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor kembali menelan korban jiwa. Sabtu (22/4), bus pariwisata HS Transport yang mengangkut rombongan pegawai pabrik menabrak enam mobil dan motor di Jalan Raya Puncak, tepatnya turunan Selarong, Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Akibatnya empat tewas, puluhan lainnya luka berat dan luka ringan.

Satu di antara korban tewas kecelakaan turunan Selarong adalah Zaenudin (40), Warga Jalan Kemuning RW10 Kelurahan Depok Pancoranmas Kota Depok.

Adik ipar korban, Andry menyebutkan, jenazah korban tiba di rumah duka pukul 13. 00 pada Minggu (23/4), dengan menggunakan ambulance didampingi Camat Pancornamas, Utang Wardaya.  Pihak keluarga mengaku, sebelumnya tidak memiliki firasat apapun.

“Almarhum terakhir komunikasi dengan anak perempuan yang berumur 8 tahun, dia janji akan segera pulang. Memang anaknya ini lengket banget sama Bang Zaenudin,” kata Andry kepada Radar Depok, usai melaksanakan tahlilan malam ketiga, Senin (24/4).

Menurut Andry, sejak Zaenudin dimakamkan hingga tahlilan semalam, anak perempuannya, sebentar-sebentar menangis, sebentar-sebentar menanyakan bapaknya.

“Kapan bapak pulang, kok ngga pulang-pulang,” kata Andry menirukan kesedihan anak Zaenudin.

Andry mengatakan, almarhum  lahir dan  tinggal di Kota Depok. Namun setelah menikah ia bersama isterinya, Novianti, pindah ke Bogor secara adminitrasi. Sedangkan orang tuanya tinggal di Kota Depok. Andry mengetahui kakak iparnya itu meninggal setelah  mendapatkan kabar dari istrinya yang berada di Bogor sekitar pukul 03.00, pagi.

“Sebelumnya tidak tahu, soalnya infromasi didapat nama korban kecelakaan itu pakai huruf ‘J’ depanya. Setelah dicari tahu keberadaan kaka ipar saya oleh perusahaannya menanyakan ke pihak polsek, dan rumah sakit, akhirnya pas dicek di kamar mayat baru ketahuan korban kecelakaan adalah Zaenudin,” tutur Andry.

Adik korban, Juan menambahkan, Zaenudin baru mengurus administrasi kependudukan untuk pindah ke Bogor pada Februari 2017. Berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa korban saat kejadian mengendarai motor temannya jenis vixion.

“Dia bonceng temannya yang sedang sakit, waktu itu usai menghadiri acara gathering tempatnya bekerja,” kata Juan.

Sementara itu, informasi yang dihimpun Radar Bogor (Radar Depok Group), peristiwa terjadi pukul 17.15 saat diberlakukannya sistem satu arah dari Puncak menuju Jakarta. Bus HS Transport yang dikemudikan Bambang Hernowo melaju dari arah Puncak menuju Gadog. Setibanya di turunan Selarong, rem diduga blong sehingga menabrak kendaran Nissan Grand Livina dengan nopol B 7401 NDY dari arah berlawanan.

Bus yang membawa rombongan wisata dari Taman Wisata Matahari (TWM) itu lalu menabrak Honda Vario B 4446 SBC dan Daihatsu Ayla dengan nopol F 1423 NH serta motor Yamaha Vixion hitam.

Tak berhenti di situ, bus banting stir ke kiri dan menabrak Toyota Avanza putih B 1818 EFB yang melaju searah dari arah Puncak. Bus lagi-lagi menabrak Toyota Rush, angkot dengan nopol F 1976 MP serta Toyota Avanza hitam dengan nipol F 1851 CD. Bus akhirnya berhenti di marka jalan arah Gadog dan tertahan mobil PLN.

Kepala Satuan Lalulintas Polres Bogor AKP Hasby Ristama menjelaskan, korban meninggal dunia di antaranya Okta Riyansyah Purnama Putra (26) warga Kelurahan Lebak Gajah, Kecamatan Sematang Borong, Kota Palembang, Zaenudin (40) serta Kepala Desa Citeko, Dadang Sulaeman (45) warga Cisarua, Kabupaten Bogor. “Semua korban dan kendaraan sudah dievakuasi hingga malam hari,” kata Hasby.

Para korban dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat seperti Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi dan RS Goenawan Partowidagdo (RSPG) Cisarua. “Kerugian materi diperkirakan sekitar Rp500 juta,” sambungnya. Korban lainnya Diana Simatupang (24) juga tewas saat menjalani perawatan di RSUD Ciawi tadi malam (22/4).

Salah satu pengendara yang melintas, Awaluddin Sarmidi mengatakan dirinya sempat terjebak kemacetan di jalur Puncak. Dia mengaku tidak melihat langsung kejadian lantaran mobil yang dikendarainya berjarak 100 meter di belakang tabrakan beruntun.

“Karena mobil berhenti, makanya saya turun dari mobil ke arah bawah untuk melihat ada kejadian apa,” kata pria yang menjabat sebagai General Manager PT Terminix kepada Radar Bogor.

Saat peristiwa terjadi, menurut Awaluddin semua mobil dari arah Puncak ke menuju arah Bogor dan Jakarta dalam kecepatan tinggi. “Ditambah jalannya menurun dan licin,” imbuhnya.

Setibanya di lokasi, Awaluddin melihat banyak kendaraan hancur dan korban bergeletakan di jalan tepatnya di depan warung sate Maranggi Cianjur. Masyarakat di sekitar lokasi saling membantu dan mengevakuasi korban. Hingga tidak lama berselang, sejumlah korban meninggal dan luka-luka dievakuasi petugas Satuan Lalulintas Polres Bogor.

Awaluddin juga mengaku sejumlah mobil derek dari Dinas Perhubungan mengevakuasi satu persatu mobil. Sekitar pukul 20:50 WIB, lalu lintas sudah mulai bergerak perlahan-lahan. “Terakhir yang diderek mobil angkot, tidak lama berselang, lalu lintas kembali bergerak, motor-motor mulai jalan, walau mobil masih menunggu giliran,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Camat Cisarua Bayu Ramawanto mengaku berduka atas kepergian Kepala Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor Dadang Sulaeman yang ikut menjadi korban. “Saya sedang menuju ke rumah duka,” kata Bayu saat dihubungi tadi malam.

Saat kejadian, Dadang korban berada di kendaraan bersama sopirnya Heri yang selamat. Dadang menuju perjalanan pulang ke rumahnya di Desa Citeko, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Polisi mengamankan sopir bus Bambang Hernowo (51) untuk dimintai keterangan. Dari hasil pemeriksaan Polres Bogor menetapkan Bambang sebagai tersangka tadi malam (22/4).

“Setelah menjalani pemeriksaan, sopir bus kami kenakan pasal 310 KUHP dengan ancaman hukuman penjara enam tahun,” kata Kepala Unit Laka Lantas Polres Bogor Iptu Asep Saepudin kepada Radar Bogor.

Asep mengatakan, Bambang tidak bisa menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM). “Dia mengaku memiliki SIM, tetapi belum menunjukkannya kepada kami,” sambungnya. Hingga tadi malam, Bambang masih menjalani pemeriksaan intesif. Polisi juga meminta keterangan sejumlah saksi.

Sementara itu kecelakaan sering terjadi di Tanjakan Selarong di Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Di lokasi ini juga ada jembatan yang kerap memakan korban jiwa. Tragedi kecelakaan maut besar yang pada 1980-an menewaskan puluhan orang dialami bus PO Lorena jurusan Jakarta-Bandung. Bus masuk ke dasar Sungai Ciliwung setelah sebelumnya menabrak pagar jembatan Gadog.

Pada Sabtu 15 November 2014 lalu kecelakaan maut juga mengakibatkan tewasnya calon anggota Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI). Korban Robi Sirait, Guntur Siregar dan Riki Paskalisi merupakan mahasiswa pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta yang hendak mengikuti pelatihan di Megamendung.

Kecelakaan maut juga melibatkan bus TNI di jalur tersebut, Minggu 6 Desember 2015 lalu. Peristiwa menewaskan tiga orang, salah satunya mahasiswa Universitas Yarsi. Kejadian berikutnya Minggu 14, Februari 2016, bus mengangkut rombongan pesantren hilang kendali di tanjakan tersebut dan menabrak truk engkel, dua mobil pribadi dan dua motor. Dua orang tewas dan belasan lainnya luka-luka.

Jalur tersebut memang rawan kecelakaan. Kondisi jalur menurun tajam dengan dua jalur berbeda. Untuk jalur ke arah Puncak ataupun Bogor dipisahkan taman dan sebuah monumen perjuangan Bogor. Masyarakat setempat menamakan jalur Tanjakan Selarong. Nama tanjakan diambil sebab tidak jauh dari lokasi terdapat Hotel Selarong.

Jika hari libur panjang, Tanjakan Selarong menjadi salah satu titik kemacetan di kawasan Puncak. Tak heran kendaraan tidak kuat menanjak banyak yang mogok. Sebaliknya saat arus lalu lintas kosong atau sedang diberlakukan satu arah dari Puncak ke Jakarta, jalur ini rawan, lantaran mobil terutama bus atau truk kerap rem blong hingga terbalik. Selepas turunan Selarong, kondisi jalan berbelok tajam kekiri kemudian mengarah lurus ke jembatan Gadog. (irw/ran/rah/c)