TEGAKKAN DISIPLIN: Wakil Kepala SMP Citra Negara bidang Kesiswaan, Adi Ismanto, menunjukkan surat pernyataan yang telah ditandatangani siswa dan orangtua. Foto: Indah/Radar Depok
TEGAKKAN DISIPLIN: Wakil Kepala SMP Citra Negara bidang Kesiswaan, Adi Ismanto, menunjukkan surat pernyataan yang telah ditandatangani siswa dan orangtua. Foto: Indah/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM , BEJI – Aksi corat-coret seragam usai Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di kalangan pelajar masih marak terjadi.

Meski UNBK jenjang SMP/sederajat baru akan dilaksanakan 2 Mei mendatang, namun larangan corat-coret usai ujian sudah diserukan pihak sekolah.

SMP Citra Negara, yang berada di kawasan Jalan Tanah Baru No.99, Kecamatan Beji, melarang keras siswanya melakukan corat-coret seragam.

“Biasanya selesai UN guru-guru sweeping setiap kelas atau jalanan sekitar sekolah untuk memastikan siswa,” kata Kepala SMP Citra Negara, Irma Anggraeni.

Menurutnya, cara ampuh mengantisipasi aksi corat-coret usai ujian dengan membuat surat pernyataan. Surat tersebut ditandatangani di atas materai 6.000 oleh siswa dan diketahui orangtua.

“Setiap tahun begitu. Menurut saya yang seperti itu kan positif, jadi ya dijalankan sampai sekarang. Kalau mereka nggak ngumpulin (surat pernyataan), nggak ikut ujian,” katanya.

Tidak hanya larangan corat-coret, pihak sekolah rupanya sudah mengantisipasi siswa agar tidak nongkrong dan segera kembali setelah UNBK berakhir. “Selesai ujian kita cek anak-anak kemana,” ujar Irma.

Selama ini, kata Irma, orangtua sangat kooperatif mengenai kedisiplinan anaknya. Sehingga pihak sekolah tidak segan untuk menghukum siswa yang bersalah.

“Untungnya orangtua juga mendukung kebijakan yang dibuat sekolah,” pungkas Irma. (cr1)