KORBAN TERSAMBAR PETIR: Asep Ramdani (42) kakak Deden Hidayat Maulana (31) korban meninggal yang tersambar petir saat berada di Gunung Prau, Wonosobo menunjukkan id card perusahaan milik korban saat di rumah duka Jalan Benuang VI No.44 RT 09/11, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, kemarin (24/4). Foto:Ahmad Fachry/Radar Depok
KORBAN TERSAMBAR PETIR: Asep Ramdani (42) kakak Deden Hidayat Maulana (31) korban meninggal yang tersambar petir saat berada di Gunung Prau, Wonosobo menunjukkan id card perusahaan milik korban saat di rumah duka Jalan Benuang VI No.44 RT 09/11, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, kemarin (24/4). Foto:Ahmad Fachry/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Sebuah tenda terpasang di depan rumah di Jalan Benuang VI, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Minggu (24/4). Sementara di bawahnya terdapat karangan bunga ucapan belasungkawa dari Zalora.

Di dalam rumah, terdengar ibu-ibu tahlilan untuk mendoakan Deden Hidayat Maulana (31) yang meninggal dunia. Deden satu dari tiga pendaki yang tewas tersambar petir petir di Gunung Prau dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Selain energik dan senang berbisnis, Deden dikenal sebagai sosok yang sangat cinta orang tuannya. Bahkan, di akhir tahun 2016 kemarin, ia membantu membiayai keberangkatan umrah kedua orangtuanya. Deden sangat dekat dan sangat mencintai orang tuanya.

“Deden baru membantu biaya keberangkatkan umrah orang tuanya. 2016 akhir kemarin baru berangkat umrah,” ucap Asep Ramdani (42) kakak tertua korban di rumah duka, di Jalan Benuang VI No.44 RT 09/11, Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukmajaya, kemarin (24/4).

Menurut Asep, dirinya mendengar berita di media tentang pendaki yang tersambar petir di Wonosobo, tetapi ia tidak mengira jika yang tewas itu adik bungsunya. “Saya kaget saat disebut ada korban dari Depok. Apalagi ada nama Deden. Saya langsung ke rumah orang tua,” tutur Asep.

Keluarga syok ketika Tim Taruna Siaga Bencana Depok datang ke rumah orang tuanya Minggu malam dan memastikan adiknya tewas tersambar petir dengan menunjukan foto KTP Deden. “Bapak sangat sedih, tapi ya harus diterima dengan ikhlas,” ungkap Asep.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Depok, setelah pulang kerja di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (21/4) lalu, adiknya pamit pergi dengan sahabatnya untuk jalan-jalan ke Jawa Tengah. “Deden tidak pulang ke rumah selepas kerja di Jakarta. Dia langsung berangkat ke Jawa, Jumat kemarin pulang kerja. Tidak bilang mendaki, Izinnya hanya ke Jawa saja,” terangnya.

Ia menerangkan, adiknya tersebut belum berkeluarga dan masih tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. “Tinggal di sini sama orang tua, yang lain udah jadi udah pada gak di sini, sudah pada keluarga,” jelas Asep.

Asep mengaku, sebelum adiknya tewas, dirinya maupun keluarga lainnya tidak merasakan firasat apapun sebelumnya mengetahui perihal kejadian yang menimpa adiknya “Saya baru mendapat kabar semalam, ga ada firasat apa apa,” ungkapnya.

Menurut Asep, Deden merupakan sosok yang energetik dan penyuka jalan-jalan serta aktif di acara warga lingkungannya. Dan, yang utama yaitu perhatian terhadap keluarga. “Deden orangnya baik. Sangat dekat sama keponakanya. Dan kalau libur lebih sering di rumah sama orang tua, tidak kemana-mana, kecuali ada acara di lingkungan,” tuturnya.

Sementara, Kakak kedua Deden, Wahyu Mulyana (40) mengungkapkan, Deden belum pernah mendaki gunung. Sepekan sebelum pergi ke Gunung Prau, Deden memang sempat meminjam carier milik Wahyu. “Tapi, waktu itu bilang mau ke Gunung Dieng. Setahu saya itu tempat wisata,” kata Wahyu.

Namun, karena carier milik Wahyu sudah hilang, ia meminta adiknya untuk tidak menggunakan tas besar untuk pergi wisata ke Dieng. Apalagi, kata dia, Dieng bukan gunung yang ekstrim seperti Gunung Semeru dan Cermai, yang butuh perlengkapan dan persiapan fisik yang baik. “Saya sempat bilang tidak usah pakai carier. Tapi, dia minjam sama temannya. Keluarga tidak tahu sama sekali kalau almarhum mau naik Gunung Prau.” tuturnya.

Menurutnya, Deden tidak memahami teknis dan pengalaman pendakian. Sehingga, saat hujan badai dan petir, dia tidak mencari tempat berteduh yang aman. Akhirnya, ia berteduh di dekat menara seluler dan tersambar petir. Ia menambahkan, Deden mendaki Gunung Prau untuk mencari spot foto yang indah.

“Soalnya, Deden sangat hobi dengan dunia fotografi. Apalagi, adiknya itu, bekerja di dunia kreatif sebagai pengedit foto dan desain grafis,” tandasnya.

Jenazah disalatkan usai Salat Zuhur dan langsung dimakamkan di Tempat pemakaman umum (TPU) Kalimulya Depok. Selain Deden, dua korban tewas tersambar petir Gunung Prau, Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Minggu (23/4) adalah Aditya Agung Darmawan (30) dan Adi Setiawan (31). Keduanya warga Cipinang Muara, Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Ada juga beberapa korban luka yang saat ini dirawat di rumah sakit di Wonosobo. (cky)