TANGKAPAN BESAR: Sekkel Sukatani, Melih, menunjukan ular sanca yang berhasil diamankan warga. Foto: Ricky /Radar Depok.

 

TANGKAPAN BESAR: Sekkel Sukatani, Melih, menunjukan ular sanca yang berhasil diamankan warga. Foto: Ricky /Radar Depok.

RADAR DEPOK.COM, SUKATANI – Penemuan ular sanca sepanjang 4 meter membuat geger warga Kelurahan Sukatani, Tapos. Beruntung ular dengan berat 15 kilogram berhasil diamankan warga.

Sekretaris Kelurahan (Sekkel) Sukatani, Melih, mengatakan, awal mulanya salah seorang warga melihat ular sanca di drainase yang berada di samping Jalan Tol Cijago, pukul 11:00 WIB.

“Karena ukurannya besar, akhirnya dilaporkan ke kelurahan dan orang-orang sekitar,” kata Melih kepada Radar Depok.

Saat itu, ada tukang jam dan tukang jahit yang membuka usaha di sekitar lokasi penemuan ular dan keduanya berusaha menangkap ular yang berada di saluran air.

“Cukup lama juga proses penangkapannya, karena ukurannya yang besar dan berada di selokan,” kata Melih.

Setelah proses penangkapan hampir satu jam dan disaksikan warga setempat serta pengendara yang melintas, salah satu orang berhasil memegang ekornya dan satunya lagi menangkap kepalanya menggunakan alat bantu serta karung.

“Begitu ditangkap kepalanya, langsung beramai-ramai dipegang, takutnya melilit dan membahayakan orang yang menangkapnya,” terang Melih.

Penangkapan ini dilakukan untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan kedepan oleh ular tersebut. Selain itu, agar ular itu tidak menjadi buruan warga yang ingin membunuhnya.

“Jadi ditangkap, agar tidak ada korban dan membahayakan warga dan hewan ternak di sekitar lokasi,” tutur Melih.

Saat ini, lanjut Melih, ular diamankan di salah satu warung dekat kantor kelurahan dengan dimasukan ke dalam kandang kucing milik salah satu warga.

“Kami tidak tahu mau diapakan, tidak ada yang mau membawa. Nanti, insya Allah akan kami kembalikan ke habitatnya yang jauh dari permukiman penduduk,” tandasnya.

Salah seorang warga yang melihat penangkapan ular tersebut, Rinawati mengaku kaget ada ular sebesar itu di Jalan Gas Alam yang lalu lintasnya padat dan dekat pemukiman penduduk.

“Kalau tidak ditangkap takutnya memakan korban, seperti kejadian di daerah Mamuju Sulawesi Barat,” ucap Rina. (cky)