SEMANGAT BARU: Suasana peluncuran Komunitas Budaya Ibu Berdaya dan Bahagia di Rumah Ramah Anak RW06 Kelurahan Tanah Baru, Beji, belum lama ini. Foto:Irwan/Radar Depok
SEMANGAT BARU: Suasana peluncuran Komunitas Budaya Ibu Berdaya dan Bahagia di Rumah Ramah Anak RW06 Kelurahan Tanah Baru, Beji, belum lama ini. Foto:Irwan/Radar Depok

Peluncuran Komunitas Budaya Ibu Berdaya dan Bahagia

Pekan lalu, di RW06 Tanah Baru, Komunitas Budaya Ibu Berdaya, dan Bahagia dibentuk. Dibentukan komunitas itu bentuk dari mengimplementasikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 tahun 2013, tentang penyelengaraan Kota Layak Anak.

Laporan: MUHAMMAD IRWAN SUPRIYADI

Masyarakat mulai antusias dalam mendukung program Kota Depok: Kota Layak Anak (KLA). Ada suatu komunitas yang mendukung program ini. Namanya Komunitas Budaya Ibu Berdaya dan Bahagia. Baru dibentuk pekan lalu.

Salah satu pengagasnya yaitu masyarakat Kecamatan Beji, seperti Ketua Pokja Ramah Anak RW06, Tanah Baru, Madari Mahari. “Bersama para relawan terus bergerak mendampingi warganya untuk dapat menciptakan kondisi ramah anak di wilayah ini, melalui berbagai aktivitas yang diselenggarakan,” kata Madari.

Kebetulan pula, komunitas ini dibentuk saat Hari Kartini. Hal ini untuk semakin memperkuat pelaksanaan program RW06 sebagai RW ramah anak yang dilakukan pada Minggu (23/4).

“Dirangkai acara waktu itu, diisi dengan diskusi motivasi bagi ibu-ibu di RW 06 dengan tema  Kartini Cerdas Masa Kini, Cerdas Mengelola Emosi Negatif,” bebernya.

Ketua panitia acara, Tuti Setiawati mengatakan, kegiatan ini bekerjasama dengan para relawan ramah anak. Motivasi disampaikan oleh Ibu Oktoria. Kata dia, seorang ibu harus cerdas mengelola emosi negatifnya, terutama marah.

Kemarahan hanya akan membawa efek negatif bagi diri si ibu dan orang-orang di sekitarnya. Ketika membentak sang anak, maka satu miliar sel syaraf di otak akan mati. Jika mencubit atau memukul, mengakibatkan 10 miliar sel syaraf di otak yang mati,” beber dia menceritakan.

Namun dengan sekali pujian atau pelukan, sambung dia, 10 triliun sel syaraf di otak akan hidup. Maka dari itu, sesorang ibu hanya akan melahirkan anak yang pemarah bila stres dan depresi. Untuk itu, agar sang ibu mampu mengelola marahnya maka diperlukan cara-cara yang efektif baik secara agama maupun psikologis.

Antara lain,  menarik nafas sambil berta’awudz. Menjelaskan kepada anak mengapa ibu marah, membiasakan ketegasan dalam sebuah kesepakatan bersama, mengubah posisi ketika marah, mengubah umpatan menjadi kata-kata yg positif atau doa.

“Efek yang dihadirkan ketika kita bisa mengelola marah adalah hidup lebih terasa indah dan bahagia sehingga anak-anak pun bisa tumbuh dan berkembang dengan maksimal,” tandasnya. (*)