PANJAT : Anggota Komunitas DCC saat melakukan panjat tebing sungguhan di tebing Ciampea, Bogor. Foto: Ade /Radar Depok.
PANJAT : Anggota Komunitas DCC saat melakukan panjat tebing sungguhan di tebing Ciampea, Bogor. Foto: Ade /Radar Depok.

Menjaga konsistensi untuk tetap eksis dalam melakukan aksi panjatnya, komunitas Depok Climbing Club (DCC) rutin mendatangi tebing-tebing sungguhan di beberapa tempat, salah satunya tebing yang terletak di wilayah Ciampea, Bogor.

Laporan: Ade Ridwan YandwiputraRadar Depok.

Sebagai penggiat olahraga panjat tebing, kelompok DCC tak hanya aktif di papan climbing. Namun mereka kerap menjajal tebing-tebing sungguhan yang memiliki tinggi hingga puluhan meter dan resiko yang lebih tinggi ketimbang papan climbing.

Menurut pendiri DCC, Semar, alasannya kerap mengajak para anggotanya bermain ke tebing sungguhan adalah untuk membiasakan para anggotanya saat melakukan panjat di alam bebas. Sehingga mereka lebih lihai saat bermain di papan.

“kalau di tebing sungguhan kan tantangannya lebih besar, dan mereka lebih bisa merasakan saat melakukan panjat yang sesungguhnya,” katanya.

Selain itu, poin yang terdiri dari batu-batuan pun juga lebih menantang. Jika poin di papan dapat dibuat dengan sesuka hati, di tebing sungguhan poin terbentuk dari batuan yang alami, sehingga insting para pemanjat ini lebih terlatih untuk memilih jalur yang tepat untuk memanjat.

“dalam memanjat yang diutamakan adalah jalur yang diambil serta kekuatan tangan dan kaki, di alam bebas ini mereka bisa sekalian melatih kekuatan tangan dan kaki mereka karena pijakan dari setiap poin tidak semudah papan yang dapat dibuat,” katanya.

Bukan hanya sebagai ajang latihan, mendatangi tebing-tebing sungguhan juga untuk menjajal kemampuan para anggota dalam melakukan akitifitas di alam bebas. “mereka ini kan para atlet panjat, dan kemampuannya sangat dibutuhkan dalam keadaan darurat seperti penyelamatan di medan-medan terjal dan sebagainya, jadi mereka sudah terbiasa jika sudah menjajal tebing ini,” katanya.