DIEKSEKUSI: Pemilik toko sedang mengeluarkan barang berharganya sebelum dilakukan pembongkaran oleh anggota dari Pengadilan Negeri Depok dan petugas Satpol PP di Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Pancoranmas, Kamis (4/5). Foto: Ahmad Fachry /Radar Depok.
DIEKSEKUSI: Pemilik toko sedang mengeluarkan barang berharganya sebelum dilakukan pembongkaran oleh anggota dari Pengadilan Negeri Depok dan petugas Satpol PP di Jalan Dewi Sartika, Kecamatan Pancoranmas, Kamis (4/5). Foto: Ahmad Fachry /Radar Depok.

RADAR DEPOK.COM, PANCORANMAS – Eksekusi oleh Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok terhadap tiga kios di Jalan Dewi Sartika, RT03/14, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas, telah dilaksanakan, kemarin. Eksekusi tersebut dilaksanakan sesuai surat edaran bernomor W11.U21/1551/HT.01.10/IV/2017 yang dikeluarkan oleh PN Kota Depok tertanggal 28 April 2017.

Sempat terjadi adu mulut antara petugas PN Kota Depok, Petugas BPN Kota Depok dengan kuasa hukum pemilik lahan yang dieksekusi.

Menurut kuasa hukum pemilik lahan, Didi Rosadi, pembongkaran lahan tersebut dinilai telah banyak permainan dari oknum-oknum tak bertanggungjawab. Salah satu contohnya, mengenai pengembalian batas tanah.

“Jadi eksekusi ini dilakukan karena tanah milik Alm. Suratno ada sebagian yang mengenai toko klien kami, dan telah masuk ke ranah hukum pada tahun 1998. Namun, luas tanah yang harus dikembalikan berubah dan tak sesuai dengan keputusan tahun 1998. Itu yang menimbulkan kecurigaan,” katanya saat di konfirmasi Radar Depok di lokasi pembongkaran.

Didi menjelaskan, sebelumnya kasus para kliennya masuk ke Pengadilan Tinggi Jawa Barat, dan hasil keputusan dari Pengadilan Tinggi Jawa Barat tersebut, para kliennya harus mengembalikan 37 meter persegi kepada Suratno.

“Klien kami ada lima, masing-masing harus mengembalikan lahan dengan jumlah yang berbeda seperti tergugat I, mengembalikan tanah 14 meter, tergugat II 6 meter, tergugat III 9 meter dan tergugat IV dan V masing-masing 4 meter,” sambung Didi.

Namun, kata Didi, pada pelaksanaannya, tergugat II atas nama Murtado harus mengembalikan lahannya menjadi 16 meter persegi. Hal ini yang menjadi pertanyaan, kenapa jadi 16 meter persegi. “Makanya, kami lakukan gugatan ke PN Kota Depok, pertanggal 25 April 2017. Tapi, sampai saat ini belum ada tanggapan dari PN, malahan tetap dieksekusi,” katanya.

Didi sangat menyesalkan pembongkaran tersebut, dan dirinya mengaku memiliki bukti kepemilikan tanah yang berbentuk girik, “Yang kami pertanyakan, kenapa gugatan kami tidak ada respon, kami akan terus menempuh jalur hukum atas persoalan ini,” katanya.

Meskipun sempat terjadi adu mulut, namun hingga Kamis siang, proses eksekusi berjalan kondusif. Satu persatu kios dibongkar, meskipun pihak pemilik kios berada di tempat dan merasa keberatan.

Petugas Ukur BPN, Z. Lubis mengatakan, pihaknya hanya melakukan sesuai dengan tugas dan fungsinya, yakni mengukur batas-batas sesuai dengan gambar yang tertera dalam sertifikat.

yang dipetikkan tanggal 10 desember 1980.

“Kami dari BPN Kota Depok, hanya menerapkan batas-batas sesuai dengan gambar situasi nomor 7544 tahun 1980. Jika warga mengajukan keberatan, boleh saja asalkan ada dasar yang kuat,” katanya dilokasi.

Sementara itu, Juru Sita PN Kota Depok, Kurnia Imam pun tak banyak bicara, dirinya mengatakan hanya melakukan perintah dari atasannya. “Kita sesuai dengan delegasi PN Bogor. Karena persoalan ini sempat masuk PN Bogor, karena objeknya di Kota Depok jadi kami yang lakukan eksekusi,” katanya.

Ketika ditanya mengenai mengapa luasan dari putusan berubah, Imam mengatakan dirinya tidak mengetahui apa-apa karena itu merupakan urusan PN Bogor. “Itu urusan PN Bogor, saya hanya pelaksana dilapangan,” pungkasnya.

Darmadi salah satu warga yang rukonya terkena eksekusi tersebut, menganggap, pemilik lahan dibelakang rukonya, yang diketahui bernama Suratno sudah menjualnya kepada Rudi seluas 2.097 meter persegi. Namun, tanah tersebut memakan sebagian tokonya. “Padahal, kalau menurut gambar, tanah tersebut tidak memakan toko saya,” katanya.

Dengan bermodalkan Girik tahun 1980, Darmadi tetap bersikukuh memiliki tanah yang sudah ditempatinya puluhan tahun tersebut. “Saya masih pegang girik dan luas tanah saya, sekitar 35 meter persegi. Makanya, saya akan tetap bersikukuh mempertahankan tanah ini,” katanya. (ade)