BEBENAH: Pedagang di sekitaran Jalan Dewi Sartika, tepatnya di RT03/14, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas sedang merapihkan barangnya. Rencananya Pengadilan Negeri Depok akan melakukan eksekusi sesuai surat edaran bernomor W11.U21/1551/HT.01.10/IV/2017. Foto: Ade /Radar Depok.
BEBENAH: Pedagang di sekitaran Jalan Dewi Sartika, tepatnya di RT03/14, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas sedang merapihkan barangnya. Rencananya Pengadilan Negeri Depok akan melakukan eksekusi sesuai surat edaran bernomor W11.U21/1551/HT.01.10/IV/2017. Foto: Ade /Radar Depok.

RADAR DEPOK.COM, PANCORANMAS – Eksekusi pengosongan lahan yang akan dilakukan di Jalan Dewi Sartika, RT03/14, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas oleh Pengadilan Negeri Kota Depok, hari ini ditentang oleh warga sekitar, terlebih para korban pengosongan lahan tersebut.

Darmadi salah satu warga yang rukonya terkena eksekusi tersebut, menganggap banyak kecurangan yang dilakukan oknum-oknum nakal. Darmadi mengaku, dirinya yang sudah menempati lahan tersebut sejak tahun 1980 tersebutm merasa dicurangi oleh pemilik lahan dibelakang rumahnya.

“Pemilik lahan dibelakang yang diketahui bernama Suratno sudah menjualnya kepada Rudi seluas 2.097 meter persegi. Namun, tanah tersebut memakan sebagian toko saya, padahal kalau menurut gambar, tanah tersebut tidak memakan toko saya,” katanya.

Ada beberapa bangunan baik ruko ataupun rumah yang akan terkena gusuran dari Pengadilan Negeri (PN) Kota Depok hari ini. Karena, berdasarkan keputusan dari PN, luas tanah milik Rudi melingkupi sebagian ruko dan rumah di sekitarnya. “Surat pengosongan diberikan pada tanggal 12 April 2017. Karena tidak setuju, kami ajukan gugatan ke PN Kota Depok,” katanya.

Menurut Darmadi, gugatan yang dilayangkan pada tanggal 25 April 2017 tersebut, dihiraukan oleh PN Kota Depok. “Saya juga tidak tahu alasannya, gugatan tersebut sampai saat ini tidak ada responnya,” katanya.

Darmadi yang sempat menunjukan gambar awal tanah yang dimiliki Rudi, tampak berbeda dengan yang dikeluarkan saat dilakukan pengukuran ulang oleh pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Depok.

“Karena ingin dibebaskan, waktu itu dilakukan pengukuran ulang oleh pihak BPN, tapi pengukuran ulang itu juga mengalami kejanggalan,” kata Darmadi.

Setelah selesai dilakukan dan meminta hasilnya, Darmadi mengaku kaget karena pengukuran yang kedua tidak sesuai dengan gambar tanah sebelumnya. Karena tanah milik Rudi jadi lebih luas dan memakan sebagian tokonya.

“Seperti ada perekayasaan, bahkan berita acara pengukuran ulang yang dikeluarkan oleh BPN Kota Depok tidak diisi dan ditandangani oleh pihak BPN, kok begini ya,” katanya.

Dengan bermodalkan Girik tahun 1980, Darmadi tetap bersikukuh memiliki tanah yang sudah ditempatinya puluhan tahun tersebut. “Saya masih pegang girik dan luas tanah saya, sekitar 35 meter persegi. Makanya, saya akan tetap bersikukuh mempertahankan tanah ini,” katanya.

Selain Darmadi, pemilik toko Koh Afoh juga menyayangkan kejadian ini. Karena pemilik lahan dianggap tidak jujur dalam pengukuran tanahnya, “Saya tetap mengosongkan lahan untuk menghormati surat edaran eksekusi kedua yang keluar tanggal 28 April kemarin. Mamun saya tetap tidak setuju kalau tanah ini di gusur, karena kami memiliki berkas yang mendukung atas kepemilikan lahan ini,” katanya.

Diketahui Pengadilan Negeri Depok akan melakukan pengosongan lahan di lokasi tersebut, pada pukul 09.00 WIB, Kamis (5/4). (ade)