PROSES PRODUKSI : Anak dari Dina dan karyawannya menunjukan kue yang siap dimasukan ke oven di workshop-ny yang beralamat Kampung Palsigunung RT04/02 Kelurahan Tugu, Cimanggis. Foto:Ricky/Radar Depok
PROSES PRODUKSI : Anak dari Dina dan karyawannya menunjukan kue yang siap dimasukan ke oven di workshop-ny yang beralamat Kampung Palsigunung RT04/02 Kelurahan Tugu, Cimanggis. Foto:Ricky/Radar Depok

Mengintip Usaha di Dhisbay Home Industri Kue di Tugu (1)

Apa yang dilakukan Dina Sri Nurbayanti memang menjadi dambaan bagi pekerja dimana pun. Sebab, hobinya yang gemar membuat kue, menjadi mata pencaharian yang menjanjikan saat ini.

Laporan : RICKY JULIANSYAH

Beberapa bahan kue dicampur dengan takaran yang telah ditentukan. Untuk menjadi sebuah adonan yang baik, tentunya harus diolah oleh tangan-tangan trampil. Adonan diremas kuat-kuat, kemudian diaduk menggunakan tangan, terkadang ada yang harus menggunakan mesin untuk mengaduknya.

Begitu menjadi adonan, sedikit-sedikit adonan itu diambil dan dibentuk menjadi bulat, tidak sampai disitu, bulatan itu pun di pipihkan dan diberi selai nanas yang juga dibuat sendiri. Setelah dirasa cukup selainya, adonan itu pun dibulatkan kembali dan ditaruh di atas loyang yang sudah diberi mentega, hal ini dilakukan terus menerus hingga adonan habis.

Tidak hanya satu orang, setidaknya ada tiga orang yang bekerja membuat kue di workshop home industri milik Dina Sri Nurbayati yang beralamat Kampung Palsigunung RT04/02 Kelurahan Tugu, Cimanggis.

Sang empunya tempat sekaligus pemilik home industri yang juga kedapatan membuat kue lainnya, sesekali melihat pekerjanya, agar apa yang dilakukan sesuai asa dan standar kualitas yang telah ditetapkan.

Ditengah kesibukannya membuat kue pesanan pelanggannya, ibu berusia 38 tahun ini masih mau meluangkan waktu untuk berbincang dengan awak media.

Mengawali pembicaraan, Dina menjelaskan usaha home industri yang dirintis sejak mengenyam bangku SMK atau sekitar tahun 1993 silam.

Memang diusia remaja, Dina gemar membuat kue, keahliannya mengolah bahan-bahan itu didapat melalui pengalaman dan eksperimen sendiri alias otodidak.

“Awalnya saya melihat orang tua yang sering buat kue, saya belajar sendiri, sesekali menanyakan resepnya,” tutur Dina.

Kala itu, Dina yang sedang gemar-gemarnya membuat kue, awalnya untuk dikonsumsi pribadi bersama anggota keluarganya.

Seiring berjalannya waktu, Dina berfikir bagaimana hobinya tersebut menjadi sebuah profesi yang menghasilkan.

Begitu kue yang ia buat dirasa sudah sesuai dengan cita rasa yang diinginkan, ia lantas memberanikan diri untuk menjual hasil produksinya ke beberapa kerabat, tetangga hingga teman-teman di sekolah.

“Kalau makan makanan yang dibuat sendiri memang ada kepuasan, tetapi setelah itu saya berfikir, bagaimana kalau dijual, kan ada hasilnya, saya bisa mencicipi kue sekaligus ada tambahan uang saku,” terang Dina.

Di penghujung tahun 1993, ia membuat merek dagang sendiri dengan nama Dhisbay yangg merupakan kepanjangan dari namanya, Dina Sri Nurbayanti.

“Saya bikin merek kue pakai nama saya, memang egois sih, tapi itu untuk menandakan kue buatan saya sendiri, tidak apa kan,” ucap Dina. (Bersambung)