BERSALAMAN: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna, menjadi inspektur upacara dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, di Balaikota Depok, Kamis (1/6).
BERSALAMAN: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna, menjadi inspektur upacara dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, di Balaikota Depok, Kamis (1/6).

Kebersamaan dalam keberagaman merupakan pondasi menjaga keutuhan bangsa, sehingga harus perlu dijaga dan dilestarikan. Maka dari itu, Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna, menilai kondisi Kota Depok yang beragam suku bangsa, agama, serta adat istiadat, menjadi cerminan bahwa Kota Depok merupakan miniatur Indonesia.

Laporan : Muhammad Irwan Supriyadi /Radar Depok

Kota Depok yang sudah berusia 18 tahun, menjadi kota metropolitan yang isinya banyak suku, budaya, agama, ras, dan lainya. Perlu diberikan jempol yang besar. Karena dalam hal ini, di Kota Depok jarang terjadi gesekan atau konflik terkait persoalan suku, budaya, agama, dan lainya.

Terlebih, Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna, mengatakan bahwa Kota Depok adalah miniaturnya Indonesia. Maka dari itu, di Hari Lahir Pancasila, Kota Depok harus bisa menjadi kota yang beragam, nyaman, dan tentran selama ini tentunya, dapat dijadikan contoh bagi daerah lain.

Artinya, bisa mempertahankan perbedaan atau ke heterogenan di masyarakat yang ada sejak beberapa tahun belakangan ini.

“Kekompakan, kebersamaan, dan persatuan yang terjalin di masyarakat harus dipertahankan,” tegasnya.

Ia menambahkan,  banyak ormas yang tidak hadir mengikuti upacara peringatan hari lahir Pancasila, ini membuatnya kecewa.

Karena Pancasila bukan hanya hafal di luar kepala atau diucapkan saja tapi harus diwujudkan dalam pengamalan di kehidupan bermasyarakat.

“Saya merasa prihatin dan kecewa dengan masih banyaknya organisasi yang tak hadir dalam peringatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 ini dan tentunya menjadi bahan evaluasi bagi Pemkot Depok dalam menyingkapi masalah tersebut,” bebernya. (*)