MEMBUNGKUS : Salah satu petani sedang membungkus belimbing di salah satu kebunnya di wilayah Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, kemarin. Foto:Ahmad/Fachry/Radar Depok
MEMBUNGKUS : Salah satu petani sedang membungkus belimbing di salah satu kebunnya di wilayah Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, kemarin. Foto:Ahmad Fachry/Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Di saat pengembang perumahan berlomba-lomba membangun bisnis properti di Kota Depok, eksistensi belimbing sebagai ikon Depok mulai beralih menjadi bangunan.

Di Kota Depok sendiri, jenis belimbing yang pelihara adalah belimbing dewa-dewi. Keistimewaan buah belimbing ini rasanya lebih manis dan banyak mengandung air. Belimbing dewa-dewi merupakan produk andalan petani di Kecamatan Cimanggis. Wilayah Timur Kota Depok ini memang dikenal sebagai penghasil utama buah belimbing unggulan.

Keberadaan belimbing yang masih banyak dijumpai ada di RT04/11 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis. Namun, di wilayah yanng terbilang masih banyak tersebut, beberapa petani sudah enggan melanjutkan usahanya.

Rizki Saputra, menjadi petani belimbing karena orangtuanya dan keluarga menurunkan kepada dirinya. Namun, setelah hasil yang didapat tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan, lantas ia membiarkan puluhan pohon belimbing yang berada di halamannya begitu saja. “Habis modalnya besar, tapi hasilnya tidak maksimal lagi,” ucap Rizki.

Ia pun enggan melanjutkan usaha tersebut, dan mencari sumber penghasilan baru untuk mencukupi keluarganya. “Belum tahu, nanti bagaimana keluarga saja kebunnya mau diapakan,” tandasnya.

Petani belimbing lainnya, Suganda (88), telah berkebun belimbing sejak 30 tahun lebih. Pria yang akrab disapa Gasu ini menjelaskan, di wilayahnya dulu banyak yang bertani belimbing. Tetapi, kian tahun makin berkurang. “Dulu mah banyak, hampir sekampung, tapi sekarang dikit-dikit pada habis,” kata Suganda.

Kondisi ini sangat beralasan, lantaran banyak kebun belimbing yang beralih fungsi menjadi perumahan dan ruko-ruko atau pun dibangun sang empunya untuk anak-anaknya. Menurutnya, lambat laun lahan belimbing pun akan digusur oleh perumahan, seiring bertambahnya penduduk Depok.

Kata Gasu, dulu pemerintah memberikan bantuan ke petani belimbing, tetapi beberapa tahun ke belakang sudah tidak ada lagi. Sedangkan, jika mendapat bantuan obat-obatan pun belum tentu membuat eksistenti buah belimbing di Depok dapat terus ada.

“Kalau disubsidi lahan pasti besar juga, ngomongin belimbing, kebangetan kedepan norak. ikutin saja perkembangannya. Kalau dulu iya, waktu Kelapa Dua belum maju, belimbing masih banyak,” katanya.

Ia pun tidak dapat menampik, jika suatu saat usaha belimbingnya yang dikelola untuk mencukupi kebutuhan istri dan delapan orang anaknya ini akan berakhir. “Kalau lahan buat ngayub ya jangan dijual, kalau mau punya duit ya dijual. Terserah anak saja nanti. Kalau anak pingin punya rumah, habis juga ditebang. Tapi orang-orang yang tadinya punya belimbing, terus dijual sekarang lapar juga, kan hilang pekerjaannya. Ini yang terjadi sekarang,” paparnya.

Meski di usia senja, Gasu masih membuat bungkus belimbing sendiri sambil menanti konsumen membeli buah belimbing yang dijajakan di depan rumahnya di Jalan RTM.

Saat ini setidaknya Gasu memiliki 40 pohon belimbing yang dipelihara di tiga tempat berbeda. Dalam setahun, setidaknya belimbing dapat dipanen sampai tiga kali. Untuk memelihara belimbing, menurut dia susah-susah gampang, yang jelas petani tersebut harus telaten dan sigap dalam memeliharanya.

Bagaimana tidak, jika belimbing yang masih mentil atau kecil berwarna hijau, sudah harus dibungkus dengan kertas karbon dan koran paling lama 10 hari, jika tidak maka belimbing akan terkena virus dan hasilnya tidak maksimal.

“Jadi misalkan ada empat buah yang berdekatan, tiga harus dirontokin dan hanya satu yang dibungkus. Kalau ngolah belimbing jorok, ya tidak jadi bagus buahnya,” ucap Gasu.

Ia mengajak awak Radar Depok mengunjungi kebun belimbing yang dimiliki. Kata Gasu, dalam sekali berbuah, setidaknya ada 1.000 buah yang dihasilkan satu pohon, dan jika pohonnya bagus bisa sampai dua kali lipat.

“Kalau satu pohon dapat panen berapa saya kurang paham. Ngitungingnya kalau sudah turun. Tapi paling sedikit dari 40.000 bungkus bisa sampai 2 ton,” ungkapnya.

Belimbing sendiri, tergantung dari yang megangnya, kalau pengurusannya tidak bisa, tentunya hasil yang didapat tidak maksimal. Sebab, berbicara bertani belimbing, petaninya harus rapi.

Kemudian, modalnya untuk memelihara saja, satu bungkus bisa Rp1.000, itu sudah dihitung untuk merokok, makan pekerja, obat-obatan dan lainnya.

“Kalau ada yang nyerah dan bilang tidak sebanding dengan modalnya memang benar, jadi harus benar teliti, kalau gagal ya habis saja. Misalkan bungkus 100.000 buah, yang pasti jatuh bisa 20.000 bungkus. Banyak penyakitnya. Kalau mau panen dihajar sama angin, habis juga kan. Apalagi sampai puting beliung, pohon-pohonnya juga diangkat. Petani ini mah nggak bisa ditentuin, Belimbing sudah jadi kembang kalau kena panas terus hujan dan panas lagi, itu sudah habis semuanya rontok,” ucapnya.

Untuk penjualan sendiri, kata Gasu, ia hanya mengandalkan berjualan di rumahnya, jika nasib sedang bagus, Gasu bisa menjual sampai 1 kuintal per hari, dan paling sedikit 50 kg.

Sementara, untuk harga jualnya, ia biasa menjual antara Rp15 ribu hingga Rp25 ribu, tergantung ukurannya.

“Belimbing gede harganya ya mahal, tapi kalau gede, sudah juga, gampang jatuh, jika sudah jatoh kan tidak bisa diijual,” kata Gasu.

Sedangkan, untuk belimbing yang tidak laku dan layu di lapak jualannya, ia pun hanya membuangnya, tanpa diolah kembali menjadi minuman.

Kata dia, harga jual tertinggi belimbing saat H-7 lebaran hingga lebaran, karena harga jual belimbing yang semula diihargai Rp25 ribu, bisa meningkat menjadi Rp35 ribu.

Hal ini disebabkan, pasokan belimbing berkurang karena tidak ada tenaga yang memetik sementara permintaannya meningkat.

Belimbing dewa-dewi memang beda dari belimbing jenis lain. Selain penampilannya yang lebih menarik, kadar air yang dikandungnya cukup tinggi, sehingga kesegarannya dapat bertahan lama, sekitar satu minggu. Sedangkan belimbing jenis lain, hanya bertahan dua hingga tiga hari.

“Kalau daerah lain, seperti di Citayam gampang layu dan kurang manis. Beda sama belimbiing sini. Yang penting jangan ditaruh di kulkas, didiamkan saja di meja makan,” ucap Gasu.

Di tempat terpisah, Ketua Asosiasi Belimbing Depok, Nanang Yusup mengku miris melihat pemerintah seakan menutup mata dengan situasi ini. Petani belimbing seakan berjalan sendiri.

Ia menilai pemerintah belum pro ke petani belimbing, pembinaan pun sangat minim. “Padahal sudah dijadikan ikon kota. Tapi tidak ada keberpihakan kepada para petani yang hampir semuanya warga Depok,” kata Nanang.

Menurutnya, belimbing dewa bisa terus dijadikan maskot kota, asalkan pemerintah mau melihat potensi buah lokal Depok. Sebab, belimbing dewa terpilih menjadi buah dengan kualitas nomor satu di Indonesia pada kontes buah Nasional tahun 2000.

Nanang mengatakan, hingga saat ini kelompok tani belimbing di Kota Depok ada 25 kelompok yang rata-rata perkelompok memiliki 15 orang petani. “Petani-petani tersebut sudah sangat menguasai teknik budidaya belimbing dewa yang sangat mendunia tersebut,” katanya.

Setiap tahun ada tiga kali musim buah dengan nama Latin Averhoa bilimbi itu. “Dipanen tiga kali setahun. Setiap 1 hektar ada 150 pohon. 1 pohon bisa menghasilkan 200-250 kg,” ujarnya.

Karena kualitasnya yang baik, tidak jarang banyak warga asing untuk membudidayakan belimbing dewa. Mulai dari Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, dan sebagian besar orang Timur Tengah meminta diajarkan budidaya belimbing.

“Seharusnya Pemerintah Depok seperti Bekasi yang membeli lahan abadi untuk pertanian. Bila tidak, nasib belimbing dewa bisa terancam,” ungkapnya.

Sementara itu, penggagas UKM Belimbing Kota Depok, Harjianto mengatakan, saat ini sudah banyak UMKM di Kota Depok yang mengembangkan olahan berbahan dasar belimbing. Antara lain brand yang mengembangkan olahan belimbing adalah Delira dari Kelurahan Tugu, Rasa Dewa di Kelurahan Bedahan, Olavera di Kelurahan Cilodong, dan Totoka dari Kelurahan Pasir Putih.

“Sudah banyak UMKM yang memproduksi olahan belimbing seperti jus, sirup, dodol, dendeng daun belimbing, semprong belimbing, kolang kaling rasa buah belimbing, hingga kosmetik ekstrak buah belimbing, sabun, odol, dan hand body,” kata Aji. (cky/ade)