KLARIFIKASI : Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Gunadarma Irwan Bastian (tengah) serta jajarannya dan perwakilan dari Kementerian Sosial memberikan keterangan pers kepada awak media terkait kasus “bullying” yang dialami salah satu mahasiswanya di Gedung Rektorat Universitas Gunadarma, Jalan Margonda Raya, Selasa (18/7)

 

KLARIFIKASI : Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Gunadarma Irwan Bastian (tengah) serta jajarannya dan perwakilan dari Kementerian Sosial memberikan keterangan pers kepada awak media terkait kasus “bullying” yang dialami salah satu mahasiswanya di Gedung Rektorat Universitas Gunadarma, Jalan Margonda Raya, Selasa (18/7)  Foto : Achmad Fachri/ Radar Depok

RADAR DEPOK.COM – Aksi bullying yang terjadi di kampus Universitas Gunadarma beberapa waktu lalu, menjadi tamparan keras dunia pendidikan. Kemarin, bertempat di gedung rektorat lantai enam Universitas Gunadarma, menyatakan kasus bullying masih dilakukan investigasi lebih dalam dan belum menentukan hukuman yang akan diberikan pelaku bullying.

Wakil Dekan III Universitas Gunadarma, Irwan Bastian mengatakan, dalam merespon aksi bullying yang terjadi di lingkungan kampus Gunadarma kepada MF yang dilakukan ketiga pelaku yakni PDP, AAA, dan YII, telah dibentuk tim investigasi dan telah dilakukan pencarian informasi lebih dalam.

“Kami belum bisa memastikan dan memutuskan apa yang akan akan kami berikan karena masih melakukan pendalaman,” ujar Irwan kepada Radar Depok, kemarin (18/7).

Irwan menjelaskan, tim investigasi telah melakukan pemeriksaan dengan memintai keterangan dari tiga pelaku aksi bullying dan korban. Pihaknya masih membutuhkan waktu dan akan meminta keterangan salah satu saksi yang melihat kejadian tersebut dari ketiga pelaku sebelumnya.

Baca Juga  Pekerjaan Kemensos di Lokasi Gempa Sulteng, Inventarisir KPM Korban Gempa, Dorong Pendamping Aktif

Hasil pemeriksaan sementara, sambung Irwan ketiga pelaku mengakui perbuatan tersebut dilakukan hanya spontan dikarenakan korban merupakan teman satu kelas, dan tidak direncanakan. Selain itu, MF yang sebelumnya disebutkan sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dinyatakan tidak benar, dan orang tua MF tidak berkenan anaknya disebut ABK karena prilaku MF terbilang normal.

“Memang MF belum dilakukan pemeriksaan psikologis apakah tergolong ABK atau tidak,” terang Irwan.

Irwan menuturkan, guna mengetahui hal tersebut, pihaknya akan memfasilitasi guna melakukan pemeriksaan MF terkait psikologis namun harus melakukan persetujuan dari orang tua MF. Dari hasil catatan kampus, MF terbilang anak yang memiliki kemampuan sama dengan mahasiswa lainnya. Bahkan IPK MF memiliki nilai yang baik, yaitu 2,9.

Baca Juga  Transfer Antarbank Kena Biaya Rp 2.500, Berikut Daftar Banknya

“Kami sudah bertemu dengan orang tua MF dan MF bukan ABK,” tutur Irwan.

Sementara itu, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kementerian Sosial (Kemensos), Nahar mengatakan, guna mengetahui lebih dalam peristiwa bullying yang terjadi di kampus Gunadarma, pihaknya telah melakukan penjangkauan dengan mengirim petugas ke kampus Gunadarma. Dia tengah melakukan assessment dan memastikan bahwa MF masih terbilang anak atau sudah dewasa.

Nahar mengungkapkan, selain melakukan assessment ke kampus Gunadarma, dilakukan pula pendekatan kepada orangtua korban guna membenarkan bahwa MF termasuk golongan ABK atau tidak. Namun, pihak keluarga menolak bahwa MF bukan ABK dan mengakui belum melaksanakan pemeriksaan secara medis.

“Kami masih terus melakukan peninjauan guna peristiwa ini tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari,” tutup Nahar.

Baca Juga  Beras Banpres Dikubur Sejak 5 November 2021 di Depok 

Sementara itu, Kasubag Humas Polresta Depok, AKP Firdaus menyebutkan, Satreskrim saat ini melakukan penyelidikan, terkait beredarnya gambar di media sosial pembulian mahasiswa yang diduga autis di universitas wilayah Depok.

“Kami masih terus berkoordinasi dengan pihak keluarga korban untuk mendapatkan keterangan atau laporan terkait kejadian tersebut, sejauh ini kami cek belum ada laporan sama sekali,” terang Firdaus kepada Radar Depok.

Tetapi, ia berjanji terus mengomunikasikan dan menindak lanjuti keterangan dari masyarakat. Hingga mengundag sejauh mana kebenaran kejadian itu.

“Ini masih kami selidiki apakah nantinya akan dikenalkan pasal apa sehingga masih perlu pendalaman. Ketika ini beredar di masyarakat dan kami mempunyai kewajiban untuk menindak lanjuti  penyelidikan apakah ada unsur pidana atau tidak,” pungkasnya. (dic/gun)