RADAR DEPOK.COM – Sejumlah orang mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolresta Depok, Minggu (27/8) siang. Nama Andy Sudrajat salah seorang penanggung jawab developer PT. Pangandika Cipta Perkasa disebut-sebut dalam laporan, lantaran diduga telah melakukan penipuan.

Salah satu korban, Amri Firdaus menjelaskan, peristiwa tersebut berawal dari rencana korban membeli rumah pada Januari 2016 lalu. Amri berencana membeli rumah di Madinah Residence seharga 450 juta rupiah dengan booking fee sebesar lima juta rupiah.

“Uang yang sudah saya transfer adalah 50 juta rupiah, pertama lima juta untuk booking fee, sisanya 45 juta untuk di propos ke bank sebagai uang muka. Tapi kenyataannya enggak di follow up oleh pihak developer dan saya kehilangan kontak,” ujar pria yang merupakan karyawan swasta tersebut kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Amri merasa curiga ketika sudah berbulan-bulan dia tidak mendapat kabar dari Andy. Dalam surat perjanjiannya kalau tidak di approve oleh bank, uang akan kembali 100 persen. “Ternyata sampai sekarang tidak ada kabar lagi,” kata Amri.

Hal yang sama juga diutarakan, Maesyur Bayurochman. Pria yang akrab disapa Bayu tersebut juga berencana membeli rumah di Madinah Residence, namun bernasib sama seperti Amri. Uang yang sudah ia setor ke Andy Sudrajat juga tidak dikembalikan. “Saya mengalami kerugian sebesar 46 juta rupiah,” kata Bayu.

Nama Andy Sudrajat tampaknya bukan pemain baru. Jauh sebelumnya, Andy juga pernah dilaporkan atas dugaan penipuan berkedok investasi rumah di Pondok Rajeg, Cibinong, Bogor. Bahkan salah satu korban lainnya, Angga Indrawan harus terpaksa merugi sebesar 60 juta rupiah. “Kasus ini pertama dilaporkan pada 28 Oktober 2016 dengan nomor laporan LP/3081/K/X/2016/PMJ, namun sampai saat ini tidak ada perkembangan berarti,” ujar Angga yang berprofesi sebagai jurnalis tersebut.

Tidak hanya Angga, Johans, korban lainnya, juga merupakan korban mengaku sudah ada surat pemanggilan ketiga oleh Andy. “Sedangkan menurut polisi kalau sudah ada surat pemanggilan hingga dua kali tidak ada balasan kan langsung ditangkap, tapi sampai sekarang tidak kunjung juga,” papar Johans.(ade)