HUP: Sekelompok anak berjuang menghantarkan rekannya menuju hadiah di panjat pinang mini Kampung Rawageni RT02/08 Kelurahan Ratujaya, Cipayung, kemarin. Foto : Ricky/Radar Depok
HUP: Sekelompok anak berjuang menghantarkan rekannya menuju hadiah di panjat pinang mini Kampung Rawageni RT02/08 Kelurahan Ratujaya, Cipayung, kemarin. Foto : Ricky/Radar Depok

Setiap tanggal 17 Agustus, masyarakat antusias memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. Di Kampung Rawageni RT02/08 Kelurahan Ratujaya, Cipayung, selalu menggelar lomba panjat pinang mini untuk anak usia lima tahun. Seperti perayaan HUT RI tahun ini.

Laporan : Ricky Juliansyah/Radar Depok

Lomba-lomba, seperti balap karung dan makan kerupuk yang acapkali menyertai gegap gempita kemeriahan peringatan hari kemerdekaan negeri tercinta, Indonesia.

Selain sebagai hiburan rakyat yang murah, kegiatan panjat pinang merupakan simbol bahwa untuk mendapatkan ‘hadiah’ harus saling bekerjasama, harus ada pihak lain yang bersedia diinjak kedua pundaknya secara berantai untuk kepentingan bersama.

Jika tidak, mustahil salah satu dari mereka menuju puncak dan mengggapai hadiah itu. Dibalik keseruan dan kelucuan itu, ada nilai kebersamaan, dan kebersamaan itulah yang lebih penting.

Seperti yang dilakukan warga RT02/08 Kelurahan Ratujaya, Cipayung, mereka tiap tahunnya menggelar lomba panjat pinang di wilayahnya.

Namun, bukan panjat pinang dengan tinggi di atas 4 atau 5 meter, mereka membuat ukuran pinang sekitar 3 meter, dan lebih tepatnya dibilang lomba panjat pinang mini. “Ini panjat pinang mini, tingginya hanya 3 meter,” kata salah seorang warga setempat, Sukendar.

Pria yang juga berprofesi sebagai pemadam kebakaran di UPT Damkar dan Penyelamatan Bojongsari ini menuturkan, lomba ini sudah rutin digelar sejak 2013 lalu dimana tujuannya untuk mengenalkan anak-anak HUT RI dan sejarahnya.

Dari panjat pinang ini, anak-anak diajarkan bagaimana sulitnya berjuang menggapai hadiah, seperti para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya memperoleh kemerdekaan.

“Selain itu, agar anak-anak merasakan panjat pinang yang selama ini identik dilakukan oleh orang dewasa,” kata Sukendar.

Untuk anggarannya didapat dari salah seorang donatur, yakni calon anggota legislatif (caleg) dari PAN Kota Depok, Langgeng Priyatno SH sebesar Rp500 ribu dan donatur lainnya Rp300 ribu.

Uang tersebut dibelikan hadiah berupa buku tulis, pensil, penghapus dan alat-alat sekolah lainnya. Sedangkan kepada peserta tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis.

“Alhamdulillah kami bisa menggelar panjat pinang mini di tahun ini. Semoga tradisi ini bisa terus berlangsung di tahun-tahun kedepan,” ucap Sukendar. (*)