ADE/RADAR DEPOK ISBAT : Puluhan pasangan pengantin melakukan isbat nikah di Kantor Kecamatan Pancoranmas, Jumat (29/9).
ADE/RADAR DEPOK
ISBAT : Puluhan pasangan pengantin melakukan isbat nikah di Kantor Kecamatan Pancoranmas, Jumat (29/9).

DEPOK–Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Depok, masih gencar menggelar pernikahan isbat. Terbaru, sebanyak 12 pasangan di Kecamatan Pancoranmas di nikah isbat atau nikah ulang.

Kepala Disdukcapil Kota Depok, Misbahul Munir menjelaskan, Iisbat nikah adalah salah satu bentuk pelayanan pemerintah, terhahap warga masyarakat yang perkawinannya syah menurut agama. Namun belum syah menurut negara. Pelayanan sidang isbat dilaksanakan atas dasar kerjasama antara Pemerintah Kota Depok dengan Pengadilan Agama dan Kementerian Agama kota Depok. “Selain isbat nikah, juga dilakukan pelayanan penerbitan buku nikah,” jelas Munir didampingi staffnya Nopendi kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Munir melanjutkan, untuk kegiatan nikah isbat di Kecamatan Pancoranmas kurun waktu setahun ini, sudah dua kali dilaksanakan. Dan kali ini ada 12 pasangan yang dinikah Isbat dari 14 pasangan yang mendaftar.

“Syarat untuk meningkuti nikah isbat tentunya mudah setelah sebelumnya melaporkan ke pengurus RT, RW dan kelurahan,” ujarnya.

Dengan adanya isbat nikah tersebut, puluhan pasang suami istri yang rata-rata berusia lansia, dan belum tercatat sebagai suami istri oleh Negara, merasa terbantu. Salah satunya Atib (77) warga RT1/2, Kelurahan Kemiri Muka, Beji. Dia mengatakan, saat menikahi istrinya Hadijah (75) hanya melalui Amil dan disaksikan keluarga besar saja.

‘Alhamdulillah. Akhirnya saya dan istri punya buku nikah setelah hampir setengah abad lebih atau 54 tahun ngak punya buku nikah,” kata Atib usai melakukan isbat nikah kepada Radar Depok, Jumat (29/9).

Atib menceritakan, dulu 1966 saat kawin atau nikah yang datang ke rumah adalah Amil dari Desa atau petugas penghulu, dan tidak ada buku nikah dan sebagainya.

Kakek enam anak, 16 cucu dan tiga cicit tersebut, awalnya sempat menolak mengikuti nikah isbat mengingat usianya yang sudah tua. “Ane juga sempet bilang menolak nikah Isbat soalnya buat apa kan dah tua, ” ujarnya dengan logat Betawi.

Namun setelah diiberikan penjelasan pentingnya buku nikah, untuk kegiatan administrasi dan keperluan anak dan cucu akhirnya mau ikut nikah Isbat. “Insya Allah tahun depan 2018 mau pegi haji karena sudah daftar sejak tahun 2010,” tuturnya.(ade)