AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK SIDANG LANJUTAN PANDAWA : Terdakwa pemimpin Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group Salman Nuryanto, saat akan dibawa ke ruang tahanan usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Kota Depok, kemarin.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SIDANG LANJUTAN PANDAWA : Terdakwa pemimpin Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group Salman Nuryanto, saat akan dibawa ke ruang tahanan usai menjalani sidang di Pengadilan Negeri Kota Depok, kemarin.

DEPOK–Sidang kasus penipuan dan penggelapan investasi fiktif Pandawa Grup, sepertinya semakin panas. Puluhan saksi masih terus dihadirkan dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU), guna menggali dan mendalami kasus tersebut.

Pada persidangan kesembilan yang digelar di Ruang Sidang Garuda Pengadilan Negeri Kelas 1B Kota Depok, JPU menghadirkan enam saksi untuk tersangka Dumeri alias Salman Nuryanto.

Berbagai temuan baru terus terkuak didalam kasus tersebut. Seperti pengakuan para saksi yang tidak mengetahui aliran dana yang digulirkan oleh pemilik Pandawa Group. Karena menurutnya, aliran dana yang digulirkan oleh Dumeri alias Salman Nuryanto merupakan dana yang terpisah dari Koperasi.

JPU Tyo Budi mengaku, berdasarkan pengakuan salah satu saksi, mereka tidak mengetahui bisnis Nuryanto yang menghimpun dana, dan memutarkan uang dengan perputaran sepuluh persen perbulannya.

“Ada isu Nuryanto meminjamkan uang kepada pihak lain dengan pengembalian ditambah bunga 20 persen, mereka tidak tahu, dan mengaku hanya sebagai pengurus koperasi yang menjalankan fungsi sebagai mana mestinya,” kata Tyo.

Tyo menambahkan, bisnis yang dijalankan Nuryanto merupakan terpisah dari KSP Pandawa Mandiri Group. Namun, pemilik dan ketua umum koperasi adalah Dumeri alias Salman Nuryanto.

“Jadi ada dua usaha yang dijalankan oleh Dumeri, menurut penuturan para saksi, KSP dan usaha Dumeri sendiri menghimpun dana,” lanjutnya.

Sementara itu, berdasarkan informan Radar Depok, sebut saja Rudi (45), bisnis Nuryanto sudah terlihat goyang sejak  Januari 2017. Sejak Januari Nuryanto memerintahkan kepada para leadernya untuk mengembalikan profit nasabahnya menggunakan dana pribadi dari para leader.

“Salah satunya leader saya yang saat ini juga di tahan, Nuryanto bilang waktu itu pengembalian profit gunakan dana pribadinya nanti akan diganti,” katanya.

Namun, lanjutnya, belum sempat uang tersebut dikembalikan, Nuryanto sudah menghilang dari Kota Depok, dan berpindah pindah kota, hingga berhasil ditangkap oleh Polda Metro Jaya sekitar bulan April 2017.

“Jadi sebelum ditangkap, memang kami sudah melihat geliat akan bangkrutnya usaha ini, akhirnya terbukti,” lanjutnya.

Persidangan yang semula diagendakan pada pukul 09.00 WIB, majelis hakim yang dipimpin oleh Yulinda dengan hakim anggota YF Tri Joko dan Sri Rejeki Marsinta, baru memulai sidang dengan tersangka utama Dumeri alias Salman Nuryanto pada pukul 15.00 WIB. (ade)