DICKY/RADARDEPOK WASPADA: Kepala Puskesmas Duren Seribu drg. Rahmina Dewi (kiri) bersama dengan Lurah Bojongsari, Undang Hidayat menujukan obat yang masuk dalam daftar G disalah satu warung kelontong diwilayah Kelurahan/Kecamatan Bojongsari, Selasa (26/9).
DICKY/RADARDEPOK
WASPADA: Kepala Puskesmas Duren Seribu drg. Rahmina Dewi (kiri) bersama dengan Lurah Bojongsari, Undang Hidayat menujukan obat yang masuk dalam daftar G disalah satu warung kelontong diwilayah Kelurahan/Kecamatan Bojongsari, Selasa (26/9).

BOJONGSARI,DEPOK – Kemarin, Tiga Pilar Kelurahan Bojongsari, Puskesmas Duren Seribu, Polsek Sawangan, dan Satpol PP Kecamatan Bojongsari, menemukan penjualan obat yang masuk dalam daftar G disebuah warung kelontong diwilayah Kelurahan/Kecamatan Bojongsari.

Berdasarkan keterangan dari Lurah Bojongsari, Undang Hidayat dari warung kelontong tersebut, disita 40 strip obat jenis Tramadol HCI. Setelah ditanyakan ke penjual di warung tersebut, dia juga menjual Dextromethorphan, tetapi sedang habis obatnya

“Sasaran kami adalah warung kelontong atau warung sembako yang terindikasi menjual obat diluar ketentuan,” ujar Undang kepada Radar Depok, kemarin.

Setelah obatnya disita, penjual di warung kelontong tersebut diberikan himbauan untuk tidak menjual obat-obatan yang termasuk golongan G. Karena, harus menggunakan resep dokter untuk bisa mendapatkan obat golongan G, bahkan tidak semua apotek bisa menjual obat tersebut.

Undang mengungkapkan, dalam operasi tersebut ada dua warung yang menjadi titik pemeriksaan, berdasarkan dari informasi yang didapat, kalau warung tersebut menjual obat yang seharusnya di jual di apotek. Namun, saat tim bergerak salah satu warung dalam keadaan tertutup, sehingga tidak dapat dilakukan pemeriksaan.

“Kami berhasil mengukap salah satu warung dan ditemukan obat yang masuk dalam katagori G,” terang Undang.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Duren Seribu, drg. Rahmina Dewi menuturkan, warung kelontong atau warung sembako tidak boleh menjual obat yang masuk dalam daftar G, apalagi dia menemukan obat jenis Tramadol HCL yang sudah ditarik dari peredaran. Tidak hanya itu, dari pemeriksaan yang dilakukan secara teliti ditemukan botol kosong obat Hexymer dan satu bungkus obat dextrometorphan yang sudah terbuka.

Dewi meminta, masyarakat tidak membeli obat tanpa resep dokter. Apabila ingin menjual obat bebas masyarakat diminta untuk membeli obat berlogo hijau. Selain itu, orang tua harus sesekali melakukan pemeriksaan didalam kamar anak atau melihat isi dalam tas anak.

“Yang penting komunikasi antar orang tua dan anak tetap terjaga, serta datang ke puskesmas maupun tenaga medis kesehatan apabila mengalami gangguan kesehatan,” tutup Dewi. (dic)