AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK MAKIN PADAT : Tampak terlihat dari atas pemukiman penduduk yang semakin padat di Kota Depok.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
MAKIN PADAT : Tampak terlihat dari atas pemukiman penduduk yang semakin padat di Kota Depok.

DEPOK–Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN), memprediksi di 2045 Kota Depok bakal padat penduduk. Tak tanggung-tanggung, sumpeknya Kota Depok bisa menyusul Kota Surabaya yang kini perpenduduk 3,01 jiwa.

Kepala Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pembangunan Daerah (Bappelitbangda) Kota Depok, Hardiono mengatakan, hal tersebut wajar mengingat Kota Depok sangat berdekatan dengan pusat kota DKI Jakarta. “Sudah konsekuensinya pertumbuhan penduduk melesat pesat,” kata Hardiono kepada Radar Depok saat ditemui diruangannya, Jumat (6/10).

Hardiono mengatakan, lokasi Kota Depok yang menempel langsung dengan DKI Jakarta juga turut mendapatkan jatah pembangunan dari Pemerintah Pusat, seperti Universitas Islam Internasioanl Indonesia (UIII) dan Transit Oriented Development (TOD).

Menurutnya, Kota Depok merupakan daerah urban, hampir setiap tahunnya mengalami peningkatan penduduk hingga 100 ribu jiwa, yang rata-rata berasal dari DKI Jakarta dan kota-kota lain yang berdekatan dengan Depok.

“Ditambah lagi dengan adanya pembangungan–pembangunan, baik perumahan apartemen sudah barang tentu penduduk akan bertambah,” lanjut Hardiono.

Ia mengatakan, ledakan pertumbuhan penduduk tidak akan bisa ditahan di Kota Depok. Namun, dengan melakukan kajian yang mendalam, laju pertumbuhan penduduk dapat didukung dengan pembangunan infrastruktur yang memadai.

“Angka kelahiran, tingkat kemisikinan itu utamanya yang harus ditekan, perlu adanya kerjasama dengan DPAPMK Kota Depok,” lanjut Hardiono.

Hardiono mengatakan, infrastruktur di Kota Depok telah mengalami perkembangan cukup pesat. Namun, dirinya mengakui masih banyak keterbatasan Pemkot Depok dalam mengantisipasi pertumbuhan penduduk. Seperti pembangunan pemukiman horizontal sudah tidak memungkinkan lagi.

“Saat ini Kota Depok pun baru satu memiliki rumah susun sederhana, kedepan mungkin harus ditambah utamanya di tempat-tempat padat di Kota Depok,” katanya.

Ada dua titik perhatian Pemkot Depok untuk dilakukan pembenahan, yakni Rawa Besar Kampung Lio dan Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya. “Diwilayah Lio rencananya akan dibenahi mulai dari GSS Setu, dan sudah dibantu oleh pemerintah pusat, sedangkan di Abadijaya, masih dalam kajian,” lanjutnya.

Hardiono mengatakan, kendala yang dihadapi oleh Pemkot Depok terkait manajemen pertumbuhan penduduk utamanya ada di APBD. Sehingga dirinya berharap agar laju urbanisasi diisi oleh orang-orang yang produktif. “Asal manusianya produktif, pertumbuhan penduduk tidak masalah, tapi kalau tidak produktif jadi boomerang,” selorohnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, urbanisasi di wilayah Jabodetabek sangat luar biasa. Tahun 2045 diperkirakan penduduk Jakarta 14 juta jiwa, dan kota dengan penduduk terbanyak ada di Kota Depok

“Saat ini, kota dengan penduduk terbanyak setelah Jakarta ditempati oleh Surabaya, dengan jumlah penduduk 3,01 juta jiwa, kedepan mungkin Depok akan menyusul,” kata Bambang, dalam acara Seresehan Untuk Negeri ‘Restructuring Our Cities’, di Universitas Indonesia.

Bambang melanjutkan, posisi ketiga akan ditempati oleh Kota Tangerang. Kemudian Kota Bekasi dan Tangerang Selatan berada di posisi keempat dan lima. Dia menjelaskan, hal ini didasarkan oleh proyeksi penduduk dan tingkat urbanisasi yang tinggi.

Bambang mencontohkan, dahulu, tak ada kota di Jabodetabek yang jumlah penduduknya banyak selain Jakarta. Hanya saja, keadaan tersebut telah berubah. “Hari ini saya tunjukkan, ada lima (kota) dengan penduduk terbesar, dan ke depannya (penduduk) akan semakin besar. Karena daya tarik Jakarta nya,” kata Bambang.

Secara otomatis, nantinya Depok akan menggeser posisi Surabaya. Hal itu disebabkan karena kurangnya daya tarik kota sekitar Surabaya, seperti Sidorajo, Jombang, dan Gresik.

“Kemudian sekarang memang mau melakukan apa-apa di Jakarta, pusat segalanya ada di Jakarta, jadi konsentrasinya tinggi. 1/4 ekonomi Indonesia datang dari Jabodetabek,” kata Bambang.

Pada kesempatan itu, Bambang juga menjelaskan pada tahun 2030, sebanyak 70 persen penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Sisanya akan tinggal di desa.

Pada tahun 2012, populasi nasional yang tinggal di perkotaan mencapai 52 persen dengan kontribusi 74 persen terhadap GDP nasional. Sedangkan untuk tahun 2030, ia memperkirakan kontribusi terhadap GDP nasional mencapai 86 persen.

Dengan demikian, ia meminta fenomena urbanisasi tidak lagi dipandang sebagai beban atau masalah. Menurut dia, urbanisasi justru dapat dijadikan sebagai penggerak roda perekonomian.

“Sampai saat ini, urbanisasi masih dilihat sebagai beban dan masalah. Justru ini sebuah tantangan, karena urbanisasi bisa menjadi roda penggerak atau motor pertumbuhan ekonomi,” kata Bambang.

Sebelumnya, Menurut Data Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, secara tren pertumbuhan penduduk di Kota Depok terus meningkat dari tahun ke tahun. Dari 2.106.100 pada tahun 2015, kini jumlah penduduk di Kota Depok sudah mencapai 2.179.810 per tahun 2016. Artinya ada kurang lebih 70.000 an pertambahan penduduk setahunnya.(ade)