IRWAN /RADAR DEPOK BERKUMPUL : Para peneliti dari negara di Asia Pasifik berkumpul dalam acara Asia-Pasific Reserarch in Social Sciencea and Humanities (APRISH) di kawasan Universitas Indonesia,kemarin.
IRWAN /RADAR DEPOK
BERKUMPUL : Para peneliti dari negara di Asia Pasifik berkumpul dalam acara Asia-Pasific Reserarch in Social Sciencea and Humanities (APRISH) di kawasan Universitas Indonesia,kemarin.

DEPOK-Peneliti se-Asia-Pasifik berkumpul dalam acara Asia-Pasifik Reserarch in Social Sciencea and Humanities (APRISH), di Universitas Indonesia. Selama tiga hari, sedari 27-29 September sedikitnya 750 peneliti kumpul dalam acaraa tersebut.

Panitia Penyelenggara, Manneke Budiman mengatakan, acara kumpul bareng peneliti dari berbagai negara ini untuk membahas persoalan serius terkait populasi, lingkungan hidup, pangan dan keamanan, yang mempengaruhi kelangsungan dan eksistensi manusia. “Karena itu, sangat penting untuk mendedikasikan semua upaya riset,” jelasnya kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Kegiatan APRISH tahun ini mengambil tema Culture and Society for Local and Global Sustainable Development. Tema ini, kata dia, mengingatkan perlunya untuk menyertakan faktor budaya dalam pembangunan berkesinambungan.

Menurutnya, selama ini unsur kebudayaan kerap tidak diperhitungkan dalam pembangunan, karena yang dikejar hanyalah peningkatan secara angka saja. Tetapi di sisi lain, lanjut dia, telah terjadi erosi budaya. Padahal, jika unsur budaya dikedepankan maka sumber daya alam yang ada bisa tetap terjaga. “Jadi alam rusak karena ada kaitan dengan budaya, dan bagaimana orang berperilaku,” katanya.

Dengan kata lain, unsur kebudayaan menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan dan kesejahteraan suatu negara. “Budaya akan memperkuat negara dari segi produktivitas,” tegasnya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi pembuka, agar faktor budaya juga diperhatikan dalam membangun negara.“ Kami ingin mengubah paradigma, sehingga ilmu sosial humaniora juga memiliki peranan dalam pembangunan berkelanjutan,” bebernya.

Ia menambahkan, dalam mencapai pembangunan berkelanjutan,  ilmu sosial humaniora perlu mendapat tempat untuk bisa memberikan masukan. Tujuannya adalah mempertahankan kekayaan yang ada dengan maksud menyelamatkan dan menyejahterakan negara. “Jika budaya masuk untuk diperhitungkan maka pembangunan berkelanjutan bisa terwujud,” paparnya.

Menurut Manneke, APRISH ini mendorong para ilmuwan sosial dan humaniora untuk memberikan kontribusi dalam hal ide, desain, model, dan strategi tentang bagaimana masyarakat dan kebudayaan di level lokal dan global mendukung pembangunan berkelanjutan.

Total ada 560 makalah dipresentasikan dalam konferensi yang sepenuhnya dibiayai oleh UI ini.

Makalah terpilih akan dipublikasikan dalam prosiding yang terindeks Scopus/Thomson Reuter maupun jurnal-jurnal yang terindeks Scopus. “Tentunya dipublikasikan,” kata dia.

Mama Aleta Baun dari Timor Barat Indonesia sebagai pembicara mengatakan, konferensi ini menjadi penting untuk menjadi masukan bagi pemerintah dalam rangka pencapaian pembangunan berkelanjutan.

“llmu sosial dan humaniora diharapkan  berada di garda terdepan dalam upaya terpadu di bidang pendidikan, riset dan pengabdian kepada masyarakat,” kata dia.(irw)