ADE/RADAR DEPOK IMUNISASI : Seorang balita saat sedang di imunisasi Measles Rubella (MR) di salah satu Puskesmas di Kota Depok.
ADE/RADAR DEPOK
IMUNISASI : Seorang balita saat sedang di imunisasi Measles Rubella (MR) di salah satu Puskesmas di Kota Depok.

DEPOK–Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat mencatat, dari 27 kabupaten/kota yang melakukan imunisasi MR, hanya ada empat daerah yang melampaui target nasional yakni 95 persen. Empat kota tersebut antara lain Kota Cirebon, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Sumedang.

Sisanya, belum mencapai target. Bahkan, ada yang jauh dari target (di bawah 85 persen). Yakni, Kabupaten Sukabumi (74,47 persen), Kota Depok (80,88 persen), Kota Bekasi (82,67 persen), dan Kabupaten Bandung Barat (83,23 persen).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Lies Karnawati membenarkan hal tersebut. Lies menyebutkan, berdasarkan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kota Depok telah mencapai kurang lebih 81 persen. Namun ia mengklaim, berdasarkan sasaran riil dilapangan tercapai kurang lebih 95 persen.

“Kita sudah mencapai sih, tapi sangat mepet, pokoknya diatas 80 persen,” kata Lies.

Lies mengatakan, memang diperlukan upaya ekstra untuk menciptakan masyarakat sehat di Kota Depok melalui Imunisasi MR. Ia mengatakan, tetap akan terus menggencarkan sosialisasi dan mendatangi langsung ke tempat tempat strategis, guna melebihi target yang ditentukan.

“Disisa waktu ini, kami akan melakukan sweeping ke sekolah dan posyandu yang belum mencapai target dengan bekerja sama dengan stakeholder seperti PMI dan puskesmas,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Surveilan dan Pencegahan Penyakit pada Dinas Kesehatan Jawa Barat, Yus Ruseno, mengatakan, tingkat capaian imunisasi serentak Meases Rubella (MR) di Jawa Barat hingga akhir September kemarin mencapai 92,46 persen dari proyeksi 92,58 persen. Angka itu masih lebih rendah dari target nasional yaitu 95 persen.

“Jumlah sasaran adalah 12.127.620 jiwa anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun. Sementara yang telah diimunisai sekitar 11.213.735 anak,” ujar Yus.

Untuk mengejar target nasional 95 persen, menurut Yus, Kementerian Kesehatan pun memperpanjang masa imunisasi hingga 14 Oktober mendatang. Untuk itu, Dinkes Jabar akan memanfaatkan waktu tambahan tersebut untuk mencapai realisasi 95 persen anak terimunisasi MR.

Yus mengatakan mereka akan melakukan penyisiran, termasuk menggenjot daerah-daerah yang tingkat imunisasi MR-nya masih rendah seperti Kabupaten Sukabumi, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bandung Barat. Salah satu fokus penyisiran, kata Yus, ialah sekolah-sekolah. Berdasarkan data yang dimilikinya, masih ada sekolah-sekolah yang menolak siswa-siswanya diimunisasi.

“Ada 20 persen sekolah yang masih menolak imunisasi. Ini yang akan kami dekati kembali,” katanya.

Yus mengatakan, ada berbagai alasan sekolah menolak imunisasi MR. Namun, alasan utama ialah penolakan dari orang tua murid. Sebab, mereka masih ragu apakah vaksin itu halal atau haram. Selain itu, ada yang ingin imunisasi bagi anaknya dilakukan dokter spesialis, bukan puskesmas.

“Untuk itu, kami memfasilitasi bagi dokter spesialis anak untuk melakukannya agar target tercapai. Tinggal nanti didata,” katanya.

Hal lain yang menjadi hambatan selama masa imunisasi MR, kata Yus, adalah munculnya kampanye negatif termasuk opini negatif yang disebabkan pemberitaan di media. Seperti pemberitaan seorang anak yang dikabarkan lumpuh, bahkan ada yang meninggal, tak lama setelah diimunisasi. Setelah ditelusuri oleh tim dokter ahli, ternyata penyebabnya bukan imunisasi MR.(ade)