Golkar Putuskan Pilih Emil

In Utama
Ridwan Kamil

JAKARTA – Partai Golkar (PG) akhirnya memutuskan untuk memilih Walikota Bandung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jawa Barat pada pemilihan 2018 nanti.

“Iya betul. Kami pilih pak Ridwan,” kata Ketua Fraksi PG Robert J Kardinal di gedung DPR, Jakarta, Rabu (25/10).

Ia menjelaskan pendeklarasian akan dilakukan dalam waktu dekat. Hal itu bergantung pada kesiapan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PG Jabar.

Menurutnya, PG mengajukan Daniel Mutaqien Syafiuddin untuk menjadi pendamping Kang Emil, sapaan akrab Ridwan. Daniel dianggap figur yang cocok untuk mendampingi RK. “Kita ajukan Daniel. Nanti bergantung Pak Ridwan,” tuturnya.

Daniel adalah putra Irianto MS Syafiuddin (Yance), yang merupakan mantan Bupati Indramayu. Ibunya, Anna Sophana, kini meneruskan jabatan ayahnya sebagai bupati Indramayu. Saat ini Daniel duduk di Komisi V DPR. Pernyataan Robert ini juga didukung oleh Sekjen PG Idrus Marham. Ia tidak membantah Golkar mendukung RK. “Iya benar itu,” kata Idrus singkat.

Dengan mendukung RK, berarti Golkar tidak mengajukan Ketua DPD PG Jabar Dedi Mulyadi sebagai cagub. Padahal survei selama ini menunjukkan Dedi berada di peringkat ketiga setelah Ridwan dan Deddy Mizwar.

Sementara itu, Wasekjen Golkar Ace Hasan menyebut mungkin sudah ada sikap resmi dari partai untuk mendukung Ridwan Kamil alias Kang Emil di Pilgub Jabar 2018. Namun bentuk dukungan itu belum dipublikasikan.

“Mungkin sudah ada, tapi disampaikan ke publiknya harusnya bersama dengan Ketua DPD Golkar Jawa Barat,” ujar Ace setelah menghadiri acara Seminar Bela Negara di Global Islamic School, Tangerang Selatan, Rabu (25/10).

Terpisah, tiga bulan jelang pendaftaran, baru Ridwan Kamil satu-satunya bakal calon yang sudah mengantongi tiket maju di Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Skenario Head to head akan terjadi.  Lalu siapa lawan Emil?

Kepastian Ridwan Kamil mengantongi tiket itu setelah Partai Nasdem (5 kursi), Partai Kebangkitan Bangsa (tujuh kursi) , dan terakhir Partai Persatuan Pembangunan (9 kursi), resmi mengusungnya. Jumlah kursi ketiga partai itu di DPRD Jawa Barat telah cukup untuk memenuhi syarat undang-undang.

Namun sinyal Partai Golkar untuk mendukung Emil pun telah dilempar oleh Nusron Wahid, Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah I, meliputi Pulau Sumatera dan Jawa. Akhir September 2017 lalu, Nusron mengatakan Golkar berpeluang usung Walikota Bandung Ridwan Kamil untuk Pilgub Jawa Barat.  Wacana itu pun diperkuat dengan beredarnya surat DPP Partai Golkar tanpa cap yang menghebohkan itu. “Ya, ada simulasi Emil-Danies,” kata Nusron saat itu (29/9).

Saat Radar Bandung (Radar Depok Grup) mencoba mengklarifikasi hal ini, Rabu (25/10), Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi, dia tidak memberikan jawaban. “Saya sedang ada acara ya, mohon maaf. Nanti aja saya siapkan konferensi pers,” ujarnya singkat.

Lalu bagaimana dengan PDI Perjuangan? pengamat politik Universitas Parahyangan Asep Warlan Yusuf mengatakan, sebagai partai pemenang pemilu di Jawa Barat, kalkulasi PDIP hanya akan mengusung figur yang besar kemungkinan menang.

“PDI harus berfikir dua kali, calon yang diusung apakah bisa menang atau tidak. Soalnya yang dipertaruhkan adalah Pilpres 2019. Jangan sampai di Jakarta, Banten dan Jabar kalah. Bisa saja PDI merapat ke Emil dengan popularitas dan elektabilitas tinggi ketimbang calon lain,” terangnya.

Asep pun menilai tidak mungkin PDIP mengusung Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi.  “Jika Dedi Mulyadi merapat ke partai lain, misalnya ke PDI, apakah akan menang, itu hanya memecah lumbung suara dukungan yang selamanya ini dikumpulkan, apalagi suara PDI juga akan pecah,” paparnya.

Meski begitu, Asep belum bisa memastikan apakah skenario head to head akan terjadi atau tidak di Pilgub Jawa Barat. “Kemungkinan head to head bisa saja. Tapi hemat saya sekarang ini belum bisa dikatakan demikian, soalnya dalam konteks berkoalisi setiap pimpinan DPP parpol belum deklarasi,” ucap Asep.

PDI-P sendiri yang bisa sendiri mengusung calonnya, hingga saat ini belum secara tegas bersikap. Terakhir, Rabu (25/10), PDIP menggelar acara curah gagas yang dihadiri sejumlah tokoh, termasuk Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, acara curah gagas itu dikemas sebagai wujud tanggung jawab pihaknya untuk Jabar yang lebih baik. Terlebih, ajang pilkada biasanya hanya menjadi konstetasi kekuasaan, bukan konstetasi peradaban.

“Karena itu kami mengajak tokoh di Jawa Barat untuk bertemu dengan tokoh-tokoh yang diusulkan masyarakat untuk dapat dicalonkan oleh PDI Perjuangan. Dan, dengan seluruh tokoh ini kami merangkai konsep Jawa Barat yang berkarakter, yang begitu indah, dapat mengekspresikan kebudayaan tanpa tertindas modernisasi,” jelasnya di Hotel Horison Bandung, Rabu (25/10).

Meski hadir Deddy Mizwar, Iwa Karniwa, Dedi Mulyadi, Sutrisno, Puti Guntur Soekarnoputri, mantan Kapolda Jabar Irjen Pol Anton Charliyan, namun tidak ada satu pun dari nama-nama itu yang “menggema” sebagai bakal calon yang diusung oleh PDIP.

Jika Head to Head benar terjadi, Lantas siapa kemudian yang menjadi lawan Emil di Pilgub mendatang? Baru Partai Gerindra yang secara tegas tidak tertarik lagi mengusung Emil.  “Jadi kalau mau ditanya Gerindra, ya Gerindra sudah mendukung Ridwan Kamil jadi Wali Kota sampai sudah sampai sekarang ini. Gantian sama (parpol lain),” kata Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani kepada wartaawan di Jakarta.

Gerindra sendiri belum menentukan sikap terkait siapa yang diusung. “Masih dalam kajian,” ujarnya.

Namun, Muzani melempar sinyal  akan tetap berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). “Ya sebaiknya sama PKS. Wong itu (PKS) kawan sejati kita,” katanya.

Dengan pernyataan ini, maka sudah dapat diprediksi, lawan Emil adalah calon yang akan diusung oleh poros koalisi Gerindra-PKS. Adapun partai-partai lain memang belum secara terbuka menentukan sikap. Namun dapat diprediksi, partai-partai itu akan melihat poros mana yang paling menguntungkan secara politis, apakah poros Emil atau poros non-Emil.

Asep Warlan menilai, partai besar seperti Demokrat, PKS dan Gerindra sejauh ini masih ngambang. Mereka belum memastikan kalkulasi politik secara kuat siapa yang akan diusung. Jika seandainya partai besar tadi membangun koalisi melawan PDI Perjuangan, Golkar dan partai lainnya itu sangat sulit. Sebab, masih ada kader yang perlu diperhitungkan. (brt1/tbn/krn/arh/bbb)

You may also read!

pnj kasih mesin cuci tangan ke SMP

PNJ Hibahkan Perangkat Alat Cuci Tangan Portabel untuk SMP Islam Taufiqurrahman Depok

BERMANFAAT : Program Studi D-III Teknik Mesin, Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) hibahkan

Read More...
UI bikin aspal dari sampah

Inovasi UI Jadikan Sampah Plastik Campuran Aspal Jalanan

UJI MATERI : Uji coba pengaspalan berbahan sampah plastik di Jalan Prof. Dr. Sumitro Djoyohadikusumo,

Read More...
fadil haq tidar

Rakorcab Tidar Depok Hasilkan Rekomendasi Internal dan Eksternal

Wakil Ketua Umum PC Tidar Kota Depok, Fadil Haq. RADARDEPOK.COM, DEPOK - PC Tunas Indonesia Raya

Read More...

Mobile Sliding Menu