ADE/RADAR DEPOK CEK : Narapidana pasien B20 atau koinfeksi di Rumah Tanahanan (Rutan) Cilodong, saat diperiksa oleh Kuldesak dan PKNI.
ADE/RADAR DEPOK
CEK : Narapidana pasien B20 atau koinfeksi di Rumah Tanahanan (Rutan) Cilodong, saat diperiksa oleh Kuldesak dan PKNI.

DEPOK–Antisipasi penyebaran Virus Hepatitis C (HCV/Hepatitis C Virus) di Kota Depok. Belum lama, Lembaga Kumpulan dengan Segala Aksi Kemanusiaan (Kuldesak) bersama Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), memeriksa narapida di Rumah Tahanan (Rutan) Cilodong.

Koordinator divisi napza Lembaga Kuldesak, Yudha Wahid mengungkapkan, kegiatan yang dilaksanakan di Rutan Cilodong tersebut, guna mendukung program pemerintah dalam pengobatan Hepatitis C. Dengan mengangkat tema “Pemeriksaan dan pengobatan HIV-HCV di Lapas dan Rutan di wilayah Jawa Barat”, ratusan narapidana satu persatu diperiksa.

“Adapun bentuk kegiatan yang sedang kami laksanakan memeriksa dan pengobatan Hepatitis C,” lelas Yudha kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Yudha mengatakan, HCV merupakan masalah kesehatan yang serius di Indonesia, dengan angka prevalensi dan komplikasi yang cukup tinggi. Jika diagnosis dan tatalaksana pasien hepatitis C dapat dilakukan dengan tepat dan menyeluruh. Diharapkan mampu menekan angka morbiditas dan mortalitas secara bermakna.

“Utamanya dengan mendorong teman-teman menjadi lebih memiliki pengetahuan dan akses terhadap pengobatan,” lanjutnya.

Yudha menjelaskan, dalam pelaksanaannya Kuldesak bersama PKNI bekerjasama dengan SUBDIT P2P Hep-C, dan Dinas Kesehatan Kota Depok, yang pemeriksaannya dikhususkan hanya kepada pasien B20 atau koinfeksi bagi WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) di Rutan Cilodong. “Dalam kegiatan ini ada beberapa peralatan pemeriksaan yaitu, Anti HCV, RDT, Gen Expert beserta petugas medis dan perwakilan lembaga pelaksana program ini. Termaksud juga pemeriksaan dengan pengambilan sampling darah dari 50 orang,” Uujar Yudha.

Yudha mengakui, telah banyak kemajuan yang dicapai dalam hal penatalaksanaan hepatitis  C. Bahkan, dengan kemajuan pengobatan maka penderita dapat sembuh, meski harga dari obatnya masih mahal. “Saat ini Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sudah menyediakan obat Hepatitis C,” lanjutnya.

Namun, berbagai upaya tetap perlu dilakukan dengan tujuan mendukung perluasan akses layanan hepatitis dan mendukung upaya pemerintah dalam pengobatan hepatitis C.

”Selain komunitas populasi kunci dapat melakukan diagnosis dini sehingga dapat menerima dan mengakses pengobatan hepatitis C. Sangat diharapkan jejaring layanan hepatitis C dengan layanan HIV/AIDS dapat terus dikembangkan dan dikuatkan di wilayah masing-masing,” tandas Yudha.(ade)