Inkubator Dibuat Hotel Bintang Lima, Pengiriman Ikut Gratis

In Metropolis
IST
MENGANTAR : Seorang Agen Relawan Yayasan Bayi Prematur Indonesia sedang mengantarkan inkubator ke keluarga yang meminjam.

Selain menciptakan Inkubator dan mengajar di Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Profesor Raldi Artono Koestoer juga aktif menulis di blog maupun media sosial internet. Hal itulah yang membuat banyak orang di berbaigai kota di Indonesia tertarik dan bergabung untuk menjadi Agen relawan Yayasan Bayi Prematur Indonesia yang tanpa pamrih.

LAPORAN : INDRA ABERTNEGO

 

Siang itu langkah kaki Ibnu Roihan dan Juan Karnadi, saling berpacu untuk mengejar lift di dalam gedung Fakultas Teknik yang hampir 100 persen tetrtutup. Dengan sigap Ibnu menekan tombol yang ada di sebelah kanan pintu lift, dan masuk ke dalamnya. Mereka berdua hendak menuju ruangan penyimpanan inkubator di lantai tiga gedung fakultas tersebut. Sembari melangkah, Ibnu Roihan mengatakan, program peminjaan inkubator gratis tersebut dibuat bukan hanya sekedar hanya pinjam–meminjam saja. Tetapi juga ada makna lain yang lebih filosofis bagi kehidupan masyarakat Indonesia kedepanya.

“Didalam program peminjaman inkubator gratis ini, kami ingin membangun aspek Ekonomi, Sosial dan Budaya Masyarakat,” ucap Ibnu sembari berlalu meninggalkan lift bersama Juan.

Menurutnya, inkubator ciptaan Profesor Raldi memang dirancang sesederhana mungkin, untuk memudahkan penggunaan serta pembersihanya. Namun, dia mengatakan sekalipun sederhana, inkubator tersebut sangat terjamin keamananya. Karena Profesor Raldi sangat memperhatikan aspek keselamatan bayi dalam menciptakan inkubator tersebut.

“Karena ini kaitanya dengan nyawa, kami memastikan inkubator dibuat seperti hotel bintang lima untuk para bayi. Kami membuat termostart di inkubator tersebut untuk menjaga suhunya tetap stabil di 36 derajat, kalaupun termostartnya rusak suhu paling hanya berubah menjadi 38 sampai 39 derajat, itu artinya hanya berada dua derajata diatas suhu dalam rahim ibu,” ucapnya.

Dia menambahkan, tim inkubator Universitas Indonesia berharap kedepanya, agar inkubator ciptaan Profesor Raldi tersebut dapat dijadikan sebuah modul perkuliahan terutama bagi Politeknik, perkayuan serta mesin.

“Kami ingin berbagi ilmu dengan mereka, sehingga mereka bisa membuka lapangan kerja sendiri. Sebab, memang melihat 5 tahun belakangan ini bayi prematur masih tinggi, negara maju pun masih banyak bayi prematurnya,” ucap dia.

Sesampainya di ruangan yang cukup luas dengan suhu yang cukup sejuk, tampak beberapa unit yang akan di kirim ke pada relawan di beberapa kota. Ada juga inkubator generasi pertama ciptaan Profesor Raldi yang diletakan di dekat pintu ruanganya.

Lebih lanjut Ibnu mengatakan, selama perjalanan program pinjam inkubator gratis tersebut, para agen relawan di daerah dan yang ada di Depok tidak pernah meminta sumbangan atau dari donator sekalipun. Meskipun mereka harus mengantar inkubator sampai kepelosok desa yang jaraknya puluhan kilo meter. Para agen relawan dengan ikhlas mengantarkanya kerumah peminjam dengan menggunakan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat. Bahkan ketempat yang kondisi geografisnya masih dikepung oleh tanah berlumpur sekalipun. “Semua biaya oprasional pengiriman dan penjemputan ditanggung oleh masing – masing agen relawan. Karena ini lah wujud pengabdian kami kepada masyarakat,” ucapnya.(*)

You may also read!

kebakaran di jalan juanda

Ini Penyebab Kebakaran di Jalan Juanda Sampai Merugi Rp 80 Juta

DARURAT : Petugas Pemadam Kebakaran sedang memadamkan kebakaran api di Jalan Juanda, Minggu (6/9). FOTO

Read More...
kebakaran di jalan juanda

Lapak Pedagang Kelapa di Jalan Juanda Terbakar

DITONTON : Petugas Pemadam Kebakaran Kota Depok sedang berusaha memadamkan kebakaran yang terjadi di Jalan

Read More...
laporan muhammadiyah spanduk

Ada Spanduk Provokatif, Muhammadiyah Kota Depok Bersikap

LAPORKAN : Ahmad Dahlan (kiri) mendampingi Ali Wartadinata (kanan) saat membuat laporan terkait spanduk provokatif

Read More...

Mobile Sliding Menu