Kids Zaman Now Pada Remaja Saat ini Pakai Bahasa Gaul, Bentuk Prilaku Menyimpang

In Pendidikan
AHMADFACHRY/RADARDEPOK
BERCENGKRAMA: Sejumlah pelajar sedang asik bercengkrama saat berada di ruang kelas salah satu SMK swasta di Jalan Kedondong, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji, beberapa waktu lalu.

 

Kids Zaman Now menjadi fenomena baru di kalangan pemuda Indonesia. Pengubahan Bahasa Indonesia yang dikesankan sebagai bahasa gaul saat ini menjadi hal yang sedang populer di dunia remaja. Berikut Radar Depok coba menelaah fenomena ini.

Sebelumnya memang ada beberapa kata yang sengaja diganti oleh orang, seperti memang menjadi ember, yang sering diucapkan pelawak senior Eko Patrio. Bahkan, grup rock legendaris Indonesia, Jamrud menyindir kata tersebut dilirik lagu ‘Surti Tejo’.

Dahulu memang hanya mengubah, atau membolak-balikan suku kata. Dewasa ini, fenomena ‘Kids Zaman Now’ bukan hanya mengubah kata, dan menyingkat kalimat, tetapi mencampur adukan bahasa Indonesia dengan bahasa asing.

Seperti baks (bakar), bakil (balik), gajebo (tidak jelas), yalsi (sial), ucul (lucu), saiko (gila), Cmiiw (Correct me if I wrong/maaf jika saya salah), kamseupay (kampungan sekali udik payah), kicep (diam atau mematung), oretz (oke), pecah (keren). Baper (bawa perasaan), palbis (paling bisa), prasmul (perasaan mulu), badai (keren), hacep (pecah untuk acara yang dibilang keren), cabe-cabean (cewek abg alay), absurd (aneh/tidak jelas), broh (sapaan untuk cowok).

Salah seorang siswi sekolah menengah pertama di sekolah swasta Kota Depok, Asri Al Dina mengatakan, dirinya memang terkadang menggunakan bahasa tersebut lantaran teman-temannya juga mengunakan.

“Biasanya di WA, kaya YXGQ itu ya kali gak kuy, juga OOTD biasanya kalau mau foto,” ucapnya sambil tertawa.

Kata dia, bahasa tersebut menjadi kebiasaan karena memang sering digunakan dan perbendaharaan kata sering didengar dari temannya. “Denger aja, lama-lama jadi ikutan,” kata Dina.

Tidak berbeda jauh dengan Ade Pratama. Mahasiswa semester 2 di universitas swasta di Depok mengatakan jika dirinya saat ini lebih sering mengucapkan kata ‘Kuy’.

“Kuy itu artinya yuk, cuma dibalik aja. Udah lama juga sih pakainya, biar ngikutin temen-temen,” kata Ade.

Dirinya pun kadang mengatakan Warlok ketika ada orang yang terlihat sombong atau sok punya kuasa. Warlok sendiri, kata Ade, merupakan singkatan dari warga lokal. “Kedengerannya jadi keren kan,” ucap Ade.

Ironinya, kedua remaja tersebut tidak tahu, jika penggunaan bahasa gaul tersebut merusak khasanah bahasa Indonesia dengan dalih ingin terlihat gaul dan keren saja dengan nongkrong bersama genk mereka.

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak, Nanang Djamaludin menilai, fenomena “kids zaman now” itu tidak hanya memperlihatkan hasil akhir berupa terbentuknya perilaku menyimpang dan memprihatinkan dari anak-anak itu, tapi kita pun sedang menyaksikan proses penghancuran salah satu identitas konstitusional kita sebagai bangsa, yakni Bahasa Indonesia.

“Terlepas dari manapun awal munculnya istilah “kids zaman now”, penggunaan istilah itu harus segera dihentikan, karena merendahkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan,” kata Nanang.

Terhadap maraknya perilaku nyeleneh anak yang tercermin lewat fenomena “kids zaman now” itu, lanjut Nanang, langkah awal terbaik bagi kita adalah mengakui sepenuh hati bahwa ini memang lebih banyak kesalahan kita, dosa besar kolektif kita selaku orang dewasa, selaku orangtua, guru, dan pemerintah.

“Semua pihak tidak memiliki jangkauan terjauh sekaligus tidak segera bahu-membahu untuk bersama-sama dalam mengantisipasi dan memproteksi aspek-aspek luhur dan fundamental dari nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia yang amat memungkinkan diporakporandakan oleh perkembangan teknologi informasi yang menyeruak ke setiap rumah di dalam keluarga,” terangnya.

Ketika dalam waktu lebih satu dekade terakhir ini perkembangan teknologi informasi berlangsung amat pesat di negeri ini, pada saat yang sama justru diiringi kelalaian kita dalam hal strategi dan metode yang teruji dan dapat diandalkan dalam mengiringi proses pembentukan nilai-nilai mulia bagi anak serta proses penciptaan lingkungan sosial yang kondusif di sekitar anak.

“Baik itu di rumah, di sekolah, dan di luar keduanya, yang diharapkan berujung pada pembentukan karakter dan perilaku yang meluhurkan anak-anak tersebut dalam proses tumbuh-kembangnya sebagai anak,” paparnya.

Dalam konteks penggunaan bahasa Indonesia yang keliru serta maraknya perilaku keblinger anak yang mengiringi fenomena “kids zaman now” itu, setidaknya ada beberapa catatan dari Nanang.

Pertama, dalam hal penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, betapa selama ini kita sebagai masyarakat dan bangsa terlalu permisif terhadap kekeliruan penggunaan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia. “Sebagai contoh, syair lagu dinyanyikan almarhum Julia Perez (Jupe) beberapa tahun lalu berjudul “Aku Rapopo”, justru menjadi populer meski syairnya dari segi bahasa Indonesia amat merusak,” ujar nanang.

Kedua, lanjut Nanang, banyak institusi pendidikan tinggi di negeri kita yang justru tidak mempromosikan kebanggaan berbahasa Indonesia, tidak bersikap positif terhadap Bahasa Indonesia, tidak mendorong pengembangannya, bahkan berkhianat terhadap Bahasa Indonesia.

“Hal ini bisa dilihat dari gedung pertemuan di banyak kampus justru dinamai Convention Hall ataupun Convention Center, misalnya. Ada pula kampus bernama MBA Business Research Center Institut Teknologi Bandung, gedung Science Park Universitas Indonesia, dan Gedung Gadjah Mada University Club, dan sebagainya,” lanjutnya.

Ketiga, lebih lanjut Nanang menjelaskan, terus melemahnya peran para orangtua dan para pendidik anak dalam fungsi sejatinya sebagai figur otoritas pembentuk nilai-nilai terpuji anak lewat metode yang baik dan benar mengedepankan cinta.

Imbasnya, anak kemudian menjadikan apapun yang ada di internet dan media sosial yang bebas nilai dan permisif itu sebagai figur otoritas pengganti orangtua dan yang jadi panduan perilaku dan gaya hidup mereka, meskipun perilaku dan gaya hidup itu tidak pantas bagi anak-anak tersebut.

“Lantas yang menjadi pertanyaan, bersediakah kita mengakui segenap kesalahan-kesalahan kita tersebut untuk kemudian beranjak untuk bersama-sama merumuskan formula yang tepat dan memperbaiki keadaan demi proses pembentukan karakter dan perialku luhur bagi anak-anak kita, wahai para orangtua, para pendidik, dan para pemangku kekuasaan negara,” tandasnya. (cky)

 

You may also read!

banyak baliho calon walikota

Baliho Bacalon Walikota dan Wakil Walikota Depok Mulai Hiasi Margonda

TERPAMPANG : Baliho Bacalon Walikota dan Wakil Walikota mulai menghiasi Jalan Raya Margonda, Kecamatan Beji,

Read More...
protokol kesehatan SDN Cipayung 4

Meski PJJ, SDN Cipayung 4 Tetap Terapkan Protokol Kesehatan

BERSIH : Kepala SDN Cipayung 4, Juanda sedang mencuci tangan di lingungan sekolahnya, Kamis (27/08).

Read More...
kelurahan duren mekar swab test

ASN Kelurahan Duren Mekar di-Swab Test

DITES : Petugas Kesehatan Puskesmas Duren Seribu melaksanakan swab test terhadap ASN dan Non ASN

Read More...

Mobile Sliding Menu