RICKY/RADAR DEPOK JUMPA PERS: (dari kanan ke kiri) Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Intan Ahmad, bersama Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina UP Siswono Yudo Husodo dan Wakil rektor bidang 4 UP, Darwin Suzandi saat precon di sela acara Dies Natalis ke-51 dan Wisuda Semester Genap TA 2016/2017 UP di JCC, Selasa (3/10).
RICKY/RADAR DEPOK
JUMPA PERS: (dari kanan ke kiri) Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Intan Ahmad, bersama Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina UP Siswono Yudo Husodo dan Wakil rektor bidang 4 UP, Darwin Suzandi saat precon di sela acara Dies Natalis ke-51 dan Wisuda Semester Genap TA 2016/2017 UP di JCC, Selasa (3/10).

JAKARTA – Peran universitas harus lebih ditingkatkan. Universitas harus mampu melihat lebih jauh daripada apa yang dilihat oleh industri.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Intan Ahmad di sela acara Dies Natalis ke-51 dan Wisuda Semester Genap TA 2016/2017 Universitas Pancasila (UP) di Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (3/10).

“Universitas itu tidak hanya menjadi tempat diseminasi ilmu pengetahuan, tapi juga menghasilkan ilmu pengetahuan,” kata Intan saat jumpa pers.

Menurutnya, universitas akan bermasalah jika hanya mendiseminasi ilmu pengetahuan. Sementara untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang baru malah diabaikan.

Karenanya, universitas sebagai lembaga pendidikan tinggi perlu berlatih untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Hal ini agar ilmu pengetahuan yang dihasilkan, disitir oleh orang lain.

“Jadi, kita tidak mengambil dari orang lain saja,” ujar dia.

Dengan demikian, penelitian di unversitas perlu digalakkan secara masif. Terutama penelitian yang menghasilkan inovasi dan menggerakkan ekonomi baru.

Kampus perlu jeli melihat, kira-kira pekerjaan atau teknologi apa yang dibutuhkan di masa depan, agar siap menghasilkan lulusan-lulusan yang siap mengisi atau mengantisipasi perubahan.

“Industri juga perlu memberikan masukan kepada universitas. Masukan itu agar didalami universitas melalui penelitan sehingga hasilnya bisa kembali kepada industri tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila Siswono Yudo Husodo mengatakan pihaknya terus mendorong civitas akademika untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Di antaranya mendorong tenaga pengajar untuk membaca referensi ilmu pengetahuan yang terbaru.

“Kita hidup di dunia yang perubahannya sangat pesat. Buku standar dosen harus buku yang terakhir. Dosen harus banyak membaca,” tegas dia.

Ia menambahkan, terkait Dies Natalis ke-51 dan wisuda semester genap TA 2016/2017, jumlah wisudawan kali ini berjumlah 1.565 orang, yang dihadapkan selain berkarakter Pancalisa juga mengusai teknologi, sehingga dapat bersaing ppada dunia internasional tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai Bangsa Indonesia.

“Saya pun berharap agar para lulusan tidak musah putus asa sewaktu gagal, karena hal tersebut adalah bagian dari berusaha,” imbuhnya.

Bedanya seorang yang sukses dan gagal adalah sikapnya dalam menghadapi suatu kegagalan. Kata Siswono, orang yang sukses tiap kali gagal akan memetk sebuah pelajaran lalu maju kembali. “Baginya berlaku jargon yang berbunyi setiap pukulan, seppanjang tidak membuatnya mati, akan membuatnya lebih besar,” tandasnya. (cky)