RICKY/RADAR DEPOK MELIHAT SEJARAH : pengurus bersama Kader DPC PKS Beji sedang Nobar di kantor sekretariat DPC Beji Jl Ridwan Rais, Kelurahan Beji Timur, Beji.
RICKY/RADAR DEPOK
MELIHAT SEJARAH : pengurus bersama Kader DPC PKS Beji sedang Nobar di kantor sekretariat DPC Beji Jl Ridwan Rais, Kelurahan Beji Timur, Beji

DPC PKS Beji menggelar acara nonton bareng (Nobar) film G30S/PKI di kantor sekretariat DPC Beji, Jalan Ridwan Rais, Kelurahan Beji Timur, Beji, Sabtu (30/9). Tapi, tidak hanya sekedar nobar, apa saja agendanya?

Laporan: RICKY JULIANSYAH

Memberikan informasi kepada generasi muda, bahwa pernah ada tragedi bersejarah yang tidak boleh dilupakan. Terlebih tragedi tersebut merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia yang juga tidak boleh terulang di Negara Kesatuan Bangsa Indonesia yang berazaskan Pancasila dan UUD 1945.

Seperti tragedi gerakan 30 September yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia, atau biasa disingkat dengan G30S/PKI yang kemudian difilmkan oleh sutradara Arifin C. Noer

Pada 30 September 2017, DPC PKS Beji pun mengadakan nobar film tersebut di kantor sekretariat mereka yang beralamat di Jalan Ridwan Rais, Kelurahan Beji Timur, Beji. Kata Ketua DPC PKS Beji, Bima Pamungkas, pihaknya mengelar nobar dan ngobras (ngobrol santai) Film G30S/PKI. Kemudian, melibatkan para panitia yang rata-rata pemuda dari anak-anak kader PKS.

“Tak kurang dari 120 orang terdiri dari para pengurus, kader dan keluarga para kader PKS se-Beji dan sekitarnya,” kata Bima.

Ia melanjutkan, dalam kesempata itu, pengamat sejarah dari UI yang turut hadir, diminta panitia untuk berikan presentasi, dan kemudian banyak mengulas tentang sejarah dan tumbuh berkembangnya komunis di Indonesia.

“Kemudian, Muhammad Arfian, pengamat Politik alumni Jepang, menyoroti perkembangan dan dinamika komunisme dan negara-negara komunis di dunia,” paparnya.

Kedua akademisi ini, lanjut Bima, mencoba mengantarkan pemahaman penonton terhadap sejarah dan perkembangan komunisme dari masa ke masa. Tentu saja apa yang mereka berikan menjadi sebuah wawasan yang dapat membantu penonton untuk lebih memahami konteks film yang akan diputar.

Selain itu, lanjut Bima, panitia juga mengundang saksi sejarah, HM. Kosim Sudjana yang pernah bekerja di harian Berita Yudha. Dalam kesempatan itu, HM. Kosim Sudjana mengungkapkan bahwa malam 1 Oktober ada segerombolan penculik yang ternyata PKI di rumah Jendral D.I. Panjaitan, dimana lokasinya bersebrangan dengan tempat ia bekerja.

“Beliau kenal dekat dengan pak Sukitman, polisi yang ditangkap oleh PKI saat penculikan di rumahh jend. Panjaitan, di bekerja di Polda Metro. Tapi beliau ditugaskan menjaga mess tamu negara yang dekat dengan kantornya. Hubungan baik dengan Sukitman, membuat HM. Kosim Sudjana sering minta tolong untuk mengurus surat kendaraan, seperti SIM dan STNK,” terangnya.

Bimo kembali mengulas, sementara, Sutrisno yang pernah bekerja di kantor pos dan Depag, menceritakan di kantor pos dulu ada sebagian pegawainya yang terpengaruh ikut PKI. Dan para pegawai yang terlibat akhirnya mereka dikeluarkan/dipecat dari kantor.

Hingga, Sutrisno pernah diinterograsi di jalan oleh sekelompok tentara, yang menuduhnya PKI. Namun, berkat pertolongan Allah, akhirnya ia bisa selamat.

“Peristiwa pembantaian kali wedi oleh PKI didapat dari ayah pak Sutrino, katanya disana banyak warga yang mati, dan kabarnya ada beberapa warga yang diikat di mobil lalu mobil jalan sambil menarik mereka meninggal,” ujarnya. (*)