Beranda Metropolis Adik Suhartanto Tak Percaya Yeni Dibunuh

Adik Suhartanto Tak Percaya Yeni Dibunuh

0
Adik Suhartanto Tak Percaya Yeni Dibunuh
ADE/RADAR DEPOK BERI KETERANGAN: Kuasa hukum Suhartanto, Abdul Hamim Jauzih menjawab pertanyaan awak media usai menjalani sidang perdana kliennya.
ADE/RADAR DEPOK
BERI KETERANGAN: Kuasa hukum Suhartanto, Abdul Hamim Jauzih menjawab pertanyaan awak media usai menjalani sidang perdana kliennya.

DEPOK – Pelaku pembunuhan terhadap Yeni Maharani (26), perempuan yang ditemukan tewas di Jembatan Grand Depok City (GDC), Kecamatan Pancoranmas, pada Kamis (20/7/2017) silam, menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1B Kota Depok, Selasa (8/11).

Sidang yang digelar di Ruang Garuda PN Kota Depok dengan Ketua Hakim Taguh Arifiano dan hakim anggota Sri Rejeki Marsinta serta Ramon Wahyudi mengagendakan pembacaan dakwaan terhadap pelaku.

Pelaku bernama Suhartanto yang diketahui merupakan suami korban menjalani sidang didampingi oleh kuasa hukum serta keluarga dan kerabatnya.

Dengan tertunduk pasrah, Suhartanto mendengarkan setiap dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Kuasa Hukum pelaku, Abdul Hamim Jauzih mengatakan, ada banyak kejanggalan dalam kasus yang melibatkan kliennya. Mulai dari dakwaan yang dianggap tidak sesuai, hingga proses rekonstruksi yang dinilai dipaksakan.

“Dakwaan ada tiga pasal, pertama KDRT dalam bentuk psikis yang menyebabkan luka berat. Padahal korban tidak luka, melainkan meninggal. Kedua penganiayaan, yang menyebabkan luka juga. Baru berikutnya pembunuhan,” kata Abdul kepada Radar Depok usai persidangan.

Dari hasil pendalaman kasus terhadap kliennnya, Abdul menyimpulkan kliennya tidak pernah melakukan pembunuhan tersebut. Karena menurut penuturan kliennya, saat datang ke lokasi, korban sudah dalam keadaan meninggal.

“Jadi pas ke sana, dia sudah menemukan istrinya tewas di dekat pohon bambu jembatan GDC,” lanjut Abdul.

Abdul menduga, korban meninggal akibat ulahnya sendiri entah itu bunuh diri atau karena kelelahan setelah pergi seharian meninggalkan rumah.

Dugaannya tersebut diperkuat dengan upaya korban sehari sebelum meninggal ingin gantung diri di rumahnya dengan seutas kain, namun berhasil digagalkan oleh kliennya.

“Sesaat sebelum meninggal pun, korban sempat berkomunikasi dengan kakaknya di kampung, ingin mengakhiri hidupnya. Itu yang semakin menguatkan dugaan kami kalau korban tewas karena ulahnya,” sebut Abdul.

Terkait adanya hasil visum yang menyatakan korban dibunuh karena terdapat luka memar dalam tubuh korban, Abdul mengatakan tidak mengetahuinya, karena saat melakukan rekonstruksi, pelaku canggung saat memerankan setiap adegan.

“Dalam video rekonstruksi juga ada ungkapan dari pihak kepolisian yang memaksa ia melakukan perbuatan sesuai dengan hasil visum,” katanya.

Abdul membenarkan adanya pertengkaran rumah tangga antara pelaku dan korban yang menyebabkan korban pergi meninggalkan rumah.

Namun hal tersebut tidak lantas membuat pelaku melakukan pembunuhan.

“Nanti kami akan buat simulasi. Berapa jarak waktu korban masih berkomunikasi dengan pelaku, pelaku ada di mana, bersama siapa, hingga akhirnya ditetapkan sebagai pelaku pembunuhan,” pungkas Abdul.

Kakak ipar Suhartanto, Suyanto yang turut mendampingi saat persidangan mengatakan, pertengkaran antara adik iparnya dengan korban sudah diketahuinya sejak Lebaran tahun ini. Dugaan pertengkaran karena korban menyatakan sang suami selingkuh.

Suyanto mengatakan, setelah terus berkomunikasi dengan Suhartanto, ia berani menjamin adik iparnya tersebut tidak melakukan pembunuhan.

Pasalnya ia tidak pernah melihat adik iparnya memukul terhadap istri hingga pihak keluarga lainnya.

“Sampai kami datangkan orangtua kandungnya untuk menanyai. Nggak mungkin dong anak membohongi orang tuanya,” kata Suyanto.

Suyanto mengatakan, adik iparnya mendapati sang istri telah tewas dari kakak kandung korban yang berada di kampung.

Dalam pesan singkat, kakak kandung korban menyuruh pelaku mendatangi jembatan GDC untuk mencari sang istri. “Setelah sampai di sana, sang istri sudah tewas,” kata Suyanto.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Kozar Kertyasa mendakwakan pelaku dengan Pasal 44 UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau Pasal 340 KUHP atau Pasal 338 KUHP atau Pasal 351 KUHP.

Suhartanto ditangkap aparat kepolisian setelah adanya dugaan pembunuhan dalam kasus penemuan mayat atasnama Yeni Maharani di semak pohon bambu dekat Jembatan GDC (GDC), Kecamatan Pancoranmas, pada Kamis (20/7/2017) silam. (ade)