AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK             AKTIFITAS OJEK ONLINE :Sejumlah pengendara ojek online sedang menunggu penumpang di kawasan Jalan Sejajar Rel, Pancoranmas, Kota Depok. 
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
AKTIFITAS OJEK ONLINE :Sejumlah pengendara ojek online sedang menunggu penumpang di kawasan Jalan Sejajar Rel, Pancoranmas, Kota Depok.

DEPOK – Tak puas setelah aksi yang dilakukan para pengemudi ojek online GoJek di depan kantor PT. GoJek Indonesia, Jalan Sultan Iskandarsyah, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Hari ini, perkumpulan GoJek yang tergabung dalam Save Driver Gojek (SDG) kembali melakukan aksi.

Berbeda dengan aksi sebelumnya, aksi damai yang kembali dilakukan oleh massa driver Go-Jek kali ini akan beraksi di Kantor Kementerian Perhubungan dan Istana Negara. Namun, isu yang dibawa tetaplah satu, yakni terkait penurunan tarif

Salah satu pengemudi Go-Jek, Aziz mengatakan, aksi ini digelar untuk menuntut adanya perbaikan tarif. Selama ini, menurut Aziz, tarif yang diberlakukan tidak manusiawi.

“Ini aksi spontanitas teman-teman ketika beberapa hari kurang lebih seminggu lalu PT Gojek melakukan penurunan tarif menjadi Rp 1.600, setelah sebelumnya Rp 2.000,” ujar Aziz kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Bagi Aziz, tarif yang dikenakan saat ini tidak sesuai dengan kerjanya yang cukup melelahkan. Menurutnya hal tersebut terbilang dapat menyusahkan pengemudi di era saat ini.

“Kami berkeberatan dengan argo segitu, secara sekarang apa-apa mahal,” terang Aziz.

Sebelumnya, Aziz mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat keberatannya terhadap pemberlakuan tarif baru tersebut ke Kantor Go Jek Indonesia pada tanggal 9 November lalu. Melalui surat itu, pihaknya menyampaikan keberatan para pengemudi Go-Jek dan PT. Go-Jek Indonesia diberikan waktu hingga tanggal 23 November.

“Hingga waktu yang kami berikan ke PT. GI juga tidak menyikapinya, makanya kami aksi lagi,” tegas Aziz.

Tak hanya itu, aksi yang dilakukan juga sebagai tindak lanjut adanya sikap 2 orang yang diduga karyawan PT. GI yang dinilai merendahkan para driver saat melakukan aksi sebelumnya.

“Kami hanya meminta keadilan dan kesejahteraan khususnya para diver Go-jek dengan penerapan tarif yang lebih manusiawi,” pungkasnya.

Sebelumnya diketahui, pemberlakukan tarif baru Rp1.600 perkilometer (Km) membuat rugi ojek online (Ojol), khususnya Go Jek. keberatan dengan pemberlakuan tarif baru tersebut timbul dari seluruh Driver Go-Jek

Seperti yang diungkapkan oleh Alif driver Go Jek dari Bandung.  Ia mengungkapkan kekesalannya dengan penerapan tarif baru tersebut.

Alif mengatakan, dengan pemberlakuan tarif baru tersebut, turut menurunkan pendapatannya sebagai pengemudi ojek online. Selain penurunan tarif, performanya sebagai pengemudi juga digenjot dari yang sebelumnya 40% kini harus 55%.

“Jika kita tidak mencapai 55% performa, bonus kita tidak bakal cair,” kata Alif.

Bonus selama 14 kali ia mengangkut penumpang hanya mendapatkan Rp15.000. Rata-rata ia mendapatkan penumpang dengan tarif Rp8000 per trip. Sehingga ia mendapatkan Rp127.000 ditambah bonus. “Belum di potong bensin dan sebagainya, pendapatan Rp127.000 itu kotor,” bebernya.

Menurutnya, selaku driver Go Jek dirinya tidak merasakan bahagia melainkan tertindas dengan kebijakan baru tersebut. Alif berharap, PT. Go Jek Indonesia dapat memikirkan para pengemudinya dengan mengembalikan tarif dengan semula.

“Resiko kami di jalan gede, hujan, panas. Kalau Gofood ngadepin CS yang ngebatalin order biaya antar Rp8.000 belum di potong parkir Rp2.000 jadi pendapatan cuma Rp6.000, belum lagi kalau CS memberi bintang 1 atau 2 kita yang di Suspen,” beber Alif.

Tak hanya itu, ia juga masih harus menghadapi teror dari ojek pangkalan dan sopir angkot. “Apa ada pihak kantor yang tanggung awab kalau kita di kroyok ojek pangkalan, atau kita kecelakaan di jalan,” pungkas Alif.

Pengemudi lain, Herdy mengatakan, tarif saat ini tidak sesuai dengan resiko yang ada di jalan. Selain itu juga dengan adanya sistem performa menjadikan driver merasa seperti kejar target. Padahal, menurutnya, driver hanya mitra bukan karyawan.

“Kami ini mitra yang dengan sangat mudahnya bisa di pecat kalau ada keluhan dari custemer, sementara kita setiap ada keluhan terhadap kantor ataupun customer tidak pernah ditanggapi,” keluh Herdy. (ade)