Beranda Metropolis Kelas Rusak, Banyak Sampah, Halaman Masih Tanah

Kelas Rusak, Banyak Sampah, Halaman Masih Tanah

0
Kelas Rusak, Banyak Sampah, Halaman Masih Tanah
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK POTRET PENDIDIKAN: Kondisi sangat memprihatinkan bangunan Sekolah TKQ/TPQ Al Fattah di Jalan Raya Bogor Km 33, Gang H.M. Sa’i, RT01/02, Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis. Kondisi ini harus segera mendapat perhatian oleh pihak terkait, karena ini berpengaruh dengan kegiatan belajar siswa.
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
POTRET PENDIDIKAN: Kondisi sangat memprihatinkan bangunan Sekolah TKQ/TPQ Al Fattah di Jalan Raya Bogor Km 33, Gang H.M. Sa’i, RT01/02, Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis. Kondisi ini harus segera mendapat perhatian oleh pihak terkait, karena ini berpengaruh dengan kegiatan belajar siswa.

Di siang yang cerah, saat tim Radar Depok melintasi Gang H.M. Sai, RT01/02 Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, terlihat sebuah bangunan mirip instansi pendidikan. Namun nampaknya sudah tidak layak untuk dijadikan tempat kegiatan belajar mengajar (KBM).

LAPORAN: INDAH DWI KARTIKA

Tanah seluas kurang lebih 600 meter tersebut merupakan wakaf yang saat ini dijadikan instansi pendidikan bernama TKQ dan TPQ Al Fattah, di bawah naungan Yayasan Fathun Najah. Sekolah ini milik H. Syahril dan kepala sekolah bernama A. Sobur.

TKQ dan TPQ Al Fattah berdiri sejak 2007. 10 tahun sudah bangunan sekolah tidak diperbaiki. Ada lima ruang kelas di sekolah ini. Tetapi hanya tiga ruangan yang dapat berfungsi, sedangkan dua ruang lainnya tidak dapat digunakan untuk KBM, lantaran atap sudah rusak.

“Ruangannya ada lima, yang bisa dipakai tiga kelas. Satu untuk kelas siswa, satu untuk kantor guru, dan satunya untuk tempat praktek salat. Yang tidak digunakan ada dua, untuk gudang dan satu lagi atapnya rusak. Orangtua khawatir anaknya tertimpa reruntuhan saat belajar, makanya tidak digunakan,” ujar salah satu guru, Nur Septia Sari.

Sejak 2007, sekolah ini belum memiliki listrik secara mandiri. Sudah beberapa kali mencoba bantuan kepada PLN namun tidak tembus. Dia mengaku bahwa listrik dan beberapa bantuan lain baru dirasakan tahun 2017.

“Tahun ini kita baru bisa pakai listrik sendiri. Dari tahun 2007 kita nebeng dengan rumah di belakang sekolah ini. Baru ada bantuan ya tahun ini. Ada listrik dan tempat wudhu, itu pun dibantu sama salah satu anggota partai PKS,” katanya.

Menurutnya, pihak sekolah sudah mengajukan bantuan untuk perbaikan dan fasilitas lainnya sebagai penunjang KBM kepada dinas terkait. Tetapi sampai kini belum ada respon positif.

“Kita sudah berusaha kirim proposal terus. Untuk pembangunan musala, pengajuan conblock, permainan anak-anak, perbaikan ruang kelas sampai ruang kelas baru yang di atas. Tapi ya memang belum rejeki kami. Kalau dapat ya alhamdulillah, kalau belum dapat ya kami terus berusaha mengajukan bantuan,” ujarnya.

Setiap tahun ajaran baru, siswa di sekolah ini meningkat. Meski tidak signifikan, namun bangunan sekolah harus diperbaiki demi kenyamanan siswa yang bermain dan proses belajar.

“Tahun ini ada 40-an siswa. Tapi kelasnya hanya satu, gantian. TK A masuk jam 07.00-09.30, dilanjutkan TK B jam 09.30-11.00. Kita ingin sih masuknya pagi semua agar semuanya nyaman,” kata dia.

Selain ruang kelas yang kurang memadai, sampah yang menumpuk di halaman sekolah juga menambah masalah. Termasuk halaman yang masih tanah membuat kelas sering kotor jika turun hujan.

“Kasihan anak-anak kalau main. Ini juga kan sampah ada di halaman sekolah. Sepertinya kalau dilihat jorok dan kurang nyaman dipandang. Kalau hujan becek, tiap saat harus ngepel,” kata Nur.

Dia berharap adanya bantuan dari pemerintah. Sehingga KBM menjadi lebih nyaman. “Kami siap menunggu jika bantuan harus bertahap demi kemajuan sekolah ini,” tukas Nur. (*)