Nuryanto 14 Tahun, 26 Leader 11 Tahun 

In Metropolis

 

AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
SIDANG TUNTUTAN PANDAWA : Terdakwa pemimpin Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Salman Nuryanto usai menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Kota Depok, kemarin. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Depok menuntut vonis pidana 14 tahun penjara dan denda 100 miliar kepada Bos Pandawa Group tersebut.

DEPOK – Persidangan kasus dugaan penipuan dan penggelapan investasi fiktif Pandawa Grup memasuki detik-detik akhir. Pada persidangan yang ke-22 yang digelar Pengadilan Negeri Kelas 1B Kota Depok, para terdakwa dibuat gemetar dengan tuntutan yang diberikan Jaksa Penuntut Umum (JPU), kemarin.

Meski sempat tertunda sebanyak 2 kali persidangan, Tim Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Depok akhirnya membacakan tuntutannya dihadapan majelis hakim, penasehat hukum, terdakwa dan seluruh peserta sidang.

Tak tanggung-tanggung, JPU menuntut para terdakwa dengan hukuman maksimal kepada terdakwa utama Dumeri alias Salman Nuryanto dan 26 leadernya yang juga menjadi terdakwa dalam kasus tersebut.

Dumeri alias Salman Nuryanto JPU menuntut majelis hakim menjatuhkan vonis pidana 14 tahun penjara dan denda 100 miliar subsider 6 bulan. Karena jaksa meyakini Nuryanto telah terbukti mengumpulkan dana masyarakat secara ilegal.

Tuntutan dibacakan langsung Jaksa Mukhamad Tri Setyobudi di depan Hakim Ketua Yulinda Trimurti Asih Muryati dengan Hakim Anggota YF Tri Joko dan Sri Rejeki Marsinta.‎ Korps Adhiyaksa Depok juga meyakini seluruh unsur dakwaan Nuryanto dalam pasal 46 ayat (1) Undang – Undang RI No 10/1998 tentang perubahan UU No 7/1992 tentang perbankan jo pasal 69 UU RI No 21/2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan jo pasal 55 ayat (1) ke-1 jo pasal 64 ayat  (1) KUHP terbukti.

“Unsur telah terbukti secara sah dan meyakinkan, dengan itu kami menuntut agar majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana terhadap Dumeri alias Salman Nuryanto sesuai dengan yang tertera dalam surat putusan ini,” ucap Setyobudi di Ruang Sidang Garuda Pengadilan Negeri Kota Depok, Jalan Boulevard, Grand Depok City, Kamis (23/11)

Jaksa menilai,  tingginya hukuman kepada Dumeri alias Salman Nuryanto karena tindakannya yang  meresahkan masyarakat, dan tersebukti  melakukan pengumpulan uang masyarakat secara ilegal dengan dalih investasi. “Terdakwa telah mengumpulkan dana dari hampir seluruh (wilayah) Indonesia,” ucap Setyobudi.

Selain itu, perbuatan Nuryanto bisa merusak perekonomian negara. ‎ Meski demikian, ada beberapa hal yang meringankan terdakwa. “Terdakwa bersikap sopan dan mengakui perbuatannya dan terdakwa tak pernah dihukum,” ujar Setyobudi.

Berbeda dengan Nuryanto, 26 terdakwa lain pun mendapatkan hukuman yang maksimal. Mereka merupakan anak buah Nuryanto atau dikenal sebagai leader diamond dalam bisnis yang dijalani Dumeri alias Salman Nuryanto dengan nama Pandawa Group.

Seluruh leader antara lain, Madamin, Mochamad Soleh, Dedi Susanto, Ricky Muhammad Kurnia Putra, Yeni Selva, Taryo, Ronny Santoso, Reza Fauzan, Satrunimus Meme Nage, Dakim, Cicih Kusneti, Vita Lestari, Bambang Prasetyo, Nani Susanti, Anto Wibowo, Priyoko Setyo Putro, Arif Rahman Syah, Sabilal Rusdi, Siti Parlia Ningsih, Ii Suhendar, Ngatono, Tohiron, Abdul Karim, Dani Kurniawan, Yeret Metta, dan Subardi masing- masing dituntut 11 tahun penjara dengan denda berbeda-beda, subsider 6 bulan kurungan penjara.

Usai pembacaan tuntutan, majelis hakim memerintahkan penasehat hukum mempercepat proses pledoi atau pembelaan. Majelis hakim meminta agar pledoi sudah dapat dibacakan minggu depan. Sontak hal tersebut membuat kaget para penasehat hukum.

Kuasa Hukum Dumeri alias Salman Nuryanto, Ramjahif mengatakan, pihaknya sangat berkeberatan dengan waktu yang diberikan oleh majelis hakim selama satu minggu untuk menyiapkan pledoi. Mengingat, berkas dan tuntutan yang diberikan oleh JPU sangat tinggi sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk mempelajarinya.

“Waktu yang diberikan tidak adil, sementara jaksa diberikan waktu yang lebih untuk menyiapkan tuntutannya, tapi kami hanya diberikan waktu satu minggu untuk menyiapkan pledoi,” kata Ramjahif usai persidangan kepada Harian Radar Depok, kemarin.

Ramjahif menilai, majelis hakim tidak adil terkait pemberian waktu yang diberikan kepada pihaknya untuk menyiap pledoi. Meskipun begitu, lanjut Ramjahif, pihaknya mencoba untuk berkonsentrasi menyiapkan pledoi karena majelis hakim sudah memutuskan untuk diberikan kesempatan satu minggu. “Kami coba akan konsentrasi menyiapkan pembelaan kami. Meskipun waktunya terlalu sempit. Sebenarnya kami membutuhkan waktu dua sampai tiga minggu, tapi tidak apa, kita lihat minggu depan,” pungkas Ramjahif.

Sementara tiu, meskipun sudah dituntut maksimal, para korban merasa belum puas sehingga selama jalannya persidangan berulang kali ketua hakim menegur para pengunjung sidang yang notabene merupakan nasabah sekaligus korban bisnis Pandawa Group.

Para pengunjung tersebut tidak terima dengan tuntutan jaksa yang menginginkan aset-aset Pandawa disita untuk negara.

Kepala Kejaksaan Negeri Kota Depok, Sufari mengatakan, tuntutan tersebut merupakan bukti dari Kejaksaan Negeri Kota Depok serius dan tidak ditunggangi pihak manapun, seperti tudingan berbagai pihak terkait penanganan kasus dugaan penipuan dan penggelapan investasi fiktif Pandawa Group.

“Tinggal tunggu penetapan hakim saja, kita lihat, apabila vonisnya jauh dari tuntutan, kami akan pikir pikir terkait langkah selanjutnya,” kata Sufari saat ditemui Radar Depok di kantornya, Kamis (23/11).

Terkait barang bukti yang disita untuk negara, Sufari menjelaskan, hal tersebut sudah sesuai dengan pertimbangan jaksa. Dan nantinya aset tersebut akan melalui proses lelang. “Seluruh aset kami serahkan kepada negara untuk di lelang, tapi tetap tunggu putusan hakim bagaimana, yang jelas kami sudah menuntut sesuai prosedur,” pungkas Sufari.

Diketahui, awalnya, Pandawa Group dibentuk Nuryanto yang merupakan pimpinan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa Mandiri Group di Jalan Meruyung, Limo Depok. Koperasi tersebut mulai berjalan sejak 2009 hingga 2016. Nuryanto pun membentuk unit sendiri yang seolah-olah bagian dari koperasi dengan nama Pandawa Group.

Pandawa Group mulai mengumpulkan dana masyarakat dengan iming-iming keuntungan 10 persen perbulan. Para leader juga memiliki kewenangan mengelola dan mengumpulkan uang masyarakat. Dalam proses penyerahan dananya, Nuryanto dan terdakwa lain membuat sistem agar calon nasabah dapat menyerahkan dana secara tunai serta transfer melalui para diamond/leader atau langsung ke no rekening Nuryanto. (ade)

You may also read!

acara muharram di pengasinan dibubarkan

Acara Muharram Pengasinan Ada Sanksi Atau Tidak, Menunggu Investigasi

UNDANG ARTIS : Kegiatan peryaan 10 muharam di Kelurahan Pengasinan.  FOTO : INDRA SIREGAR /

Read More...
acara muharram di pengasinan

Satgas Covid-19 Kota Depok Bantah Memberikan Izin Acara di Pengasinan

UNDANG ARTIS : Kegiatan peryaan 10 muharam di Kelurahan Pengasinan.  FOTO : INDRA SIREGAR /

Read More...
pelayanan BPJS kesehatan di depok

Ada Keringanan untuk Peserta JKN-KIS yang Nunggak Iuran

ILUSTRASI : Petugas saat memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mendatangi Kantor BPJS Kesehatan Kota Depok

Read More...

Mobile Sliding Menu