Beranda Politika Pangdam XVI/Pattimura Tukar Cerita di UI

Pangdam XVI/Pattimura Tukar Cerita di UI

0
Pangdam XVI/Pattimura Tukar Cerita di UI
RICKY/RADAR DEPOK PEMAPARAN: Pangdam XVI/Pattimura, Majyen TNI Doni Monardo saat memberikan pemaparan dalam Festival Pengabdian Masyarakat di Balairung Universitas Indonensia, Rabu (8/11).

 

RICKY/RADAR DEPOK
PEMAPARAN: Pangdam XVI/Pattimura, Majyen TNI Doni Monardo saat memberikan pemaparan dalam Festival Pengabdian Masyarakat di Balairung Universitas Indonensia, Rabu (8/11).

DEPOK – Panglima Kodam (Pangdam) XVI/Pattimura, Mayjen TNI Doni Monardo bertukar cerita ihwal sejumlah terobosan untuk menekan konflik berkepanjangan di Pulau Maluku dengan langkah persuasi yang bermanfaat bagi lingkungan maupun ekonomi warga pada Festival Pengabdian Masyarakat di Balairung Universitas Indonensia, Rabu (8/11).

Mengusung tema ‘Resolusi Konflik Melalui Pendekatan Terotorial Program Emas Biru dan Emas Hijau’ Mayjen TNI, Doni Monardo menyatakan pentingnya pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan, pertanian, perkebuan, peternakan serta kehutanan, sebagai pemberdayaan masyarakat di Provinsi Maluku.

“Serbuan teritorial TNI melalui program emas biru dan emas hijau ini sebagai alat untuk menyelesaikan masalah atau konflik di maluku dan Maluku Utara yang merupakan implementasi dari beberapa Nawacita Presiden Jokowi,” papar mantan Danjen Kopassus itu.

Salah satunya, sambung dia, membangun Indonesia dari pinggiran dengan meperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

“Selain itu, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik,” jelas Doni.

Ia mengungkapkan, konflik komunal di Maluku dan Maluku Utara telah mengakibatkan 9.000 orang kehilangan nyawa, 700 ribu warga mengungsi dan menimbulkan kerusakan materi akibat puluhan ribu rumah warga dan rumah ibadah rusak.

“Atas dasar semangat dalam menyelesaikan konflik di Maluku, masyarakat berperan aktif dalam menolak paham radikalisme dan mendukung program Kodam XVI/Pattimura yaitu Emas Biru dan Emas Hijau,” ungkap Pria yang pada 14 November mendatang akan menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi ini.

Program ini, lanjut Doni, sangat cocok untuk diterapkan karena alam di Maluku sangat mendukung. Sebut saja potensi ikan di Maluku dan Maluku Utara bisa menghasilkan 4,6 juta ton ikan per tahun atau menyumbang 37 persen potensi ikan nasional.

“Belum lagi kekayaan alam lain, termasuk tumbuhan-tumbuhan langka yang hidupnya hanya di tanah Maluku,” beber dia.

Emas Biru sendiri merupakan program budidaya perikanan. Sedangkan Emas Hijau adalah program untuk mengembalikan kejayaan rempah rempah Maluku dan tanaman ekonomis serta langka.

Kedua program tersebut diprakarsai oleh Mayjen Doni guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui potensi alam. Sehingga, menjadi salah satu upaya persuasi yang dilakukan untuk merangkul pihak-pihak yang pernah mengalami gesekan.

“Seperti mantan separatis, kaum radikal, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah untuk menciptakan kedamaian di Maluku dan Maluku Utara,” ujarnya.

Mayjen Doni mengklaim, sejak program tersebut digulirkan ke masyarakat Maluku, mampu menekan angka kriminalitas sebesar 34 persen, kunjungan wisatawan meningkat, pendapatan nelayan bergairah dan terjadi peningkatan daya beli masyarakat.

“Dan yang pasti mampu menekan konflik. Hal itu dibuktikan dengan tingginya tingkat penyerahan senjata api dari warga sipil atau mantan kelompok separatis kepada TNI yakni sebanyak 651 senjata api rakitan dan 52 senjata api pabrikan sepanjang 2017,” tandasnya.

Sementara, mantan Sekjen RMS yang kini telah menyatakan kembali ke pangkuan NKRI, Moses Tuanakotta. Ia pun sangat mengapresiasi langkah Mayjen Doni dengan gerakan program Emas Biru dan Emas Hijau.

“Ini merupakan contoh nyata dari kepedulian TNI untuk membantu masyarakat Maluku lepas dari problem sosial ekonomi pasca kerusuhan,” ucap Moses. (cky)