Beranda Pendidikan PGRI Sawangan Santuni 370 Yatim di HUT ke-72

PGRI Sawangan Santuni 370 Yatim di HUT ke-72

0
PGRI Sawangan Santuni 370 Yatim di HUT ke-72
PEBRI/RADAR DEPOK AKSI SOSIAL: Kepala UPT Pendidikan SD Kecamatan Sawangan, Lahmudin memberikan santunan kepada salah satu anak yatim dalam kegiatan peringatan HUT ke-72 PGRI, Kamis (23/11).
PEBRI/RADAR DEPOK
AKSI SOSIAL: Kepala UPT Pendidikan SD Kecamatan Sawangan, Lahmudin memberikan santunan kepada salah satu anak yatim dalam kegiatan peringatan HUT ke-72 PGRI, Kamis (23/11).

DEPOK – PGRI Kecamatan Sawangan membalut peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 PGRI dengan kegiatan sosial. Dalam kegiatan yang diadakan di SDN Sawangan 2 tersebut, ada 370 anak yatim yang diberikan santunan dan ada 10 guru dan empat kepala sekolah yang sudah purnabakti diberikan penghargaan.

Ketua Panitia, Abdul Khalik mengatakan, perayaan HUT PGRI tahun ini ingin dibuat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana sebelumnya mengakan kegiatan keluar daerah, tahun ini diadakan di wilayah sendiri, dengan diisi kegiatan sosial. Sehingga, keberadaan PGRI di masyarakat menjadi lebih terasa.

“Kami juga menapilkan potensi dan bakat dari guru serta siswa. Sehingga, acaranya menjadi lebih meriah,” ucapnya kepada Radar Depok, Kamis (23/11).

Sementara itu, Ketua PGRI Kecamatan Sawangan, Halim Puadi menuturkan, dalam merayakan HUT PGRI, pihaknya tidak hanya ingin berhura-hura, tetapi ingin mengadakan kegiatan yang bisa berguna untuk orang-orang sekitar, terutama untuk mereka yang memang membutuhkan bantuan.

“PGRI adalah organisasi profesi yang terus melekat dalam kehidupan sehari-hari, jadi harus bisa memberikan manfaat untuk banyak orang dalam berbagai hal,” jelasnya.

Halim menjelaskan, sekarang ini jumlah anggota PGRI di Kecamatan Sawangan terus berkurang. Di awal tahun, jumlah anggotanya ada 230, dan sekarang tinggal 215 guru saja yang terdata sebagai anggota PGRI.

Ini juga berdampak pada berkurangnya guru Agama, padahal Kota Depok memiliki program Kota Religius. Tentu, akan sulit mewujudkannya jika tidak ditunjang dengan jumlah guru agama yang memadai.

“Tetapi, kami akan terus mengupayakan adanya anggota baru, oleh karena itu guru honorer dan guru di sekolah swasta juga turut dijadikan anggota PGRI,” terangnya. (peb)