ADE/RADAR DEPOK DEMO : (ketiga dari kiri-depan) Direktur Human Capital Management (HCM) PT. PLN (Persero), M. Ali, didampingi Ketua Komisi PDKB, Bima Putra Jaya (Kedua dari kiri-depan) saat mencoba peralatan safety guna menunjang tugas PDKB.
ADE/RADAR DEPOK
DEMO : (ketiga dari kiri-depan) Direktur Human Capital Management (HCM) PT. PLN (Persero), M. Ali, didampingi Ketua Komisi PDKB, Bima Putra Jaya (Kedua dari kiri-depan) saat mencoba peralatan safety guna menunjang tugas PDKB.

DEPOK–Mengantisipasi terkendalanya pasokan listrik kepada masyarakat saat tegangan atau supply listrik rendah. PT. PLN (Persero) membentuk tim khusus (Timsus), yang dinamai Tim Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB).

Dengan adanya tim tersebut, kekhawatiran mati lampu yang kerap dialami masyarakat dihararpkan dapat diminimalisir. Mengingat, tim khusus tersebut akan siaga 24 jam.

Direktur Human Capital Management (HCM) PT. PLN (Persero), M. Ali mengatakan, layaknya TNI dan Polri yang memiliki tim khususnya seperti Kopasuss, Paskhas, Denjaka, Densus 88 dsb. PLN juga membentuk tim khusus guna menunjang kestabilan proses distribusi aliran listrik kepada masyarakat.

“Mereka memiliki kemampuan bekerja dalam kondisi listrik bertegangan tinggi. Pasukan ini diberi nama Pasukan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) GI Advance,” kata Ali usai menghadiri penutupan pelatihan PDKB GI Advance Transmisi Jawa Bagian Barat, di Pusat Gardu Induk di Jalan Keadilan, Rawa Denok, Kecamatan Cipayung, Rabu (22/11).

Tim khusus tersebut, lanjut Ali, merupakan karyawan pilihan yang melalui seleksi secara ketat. Dan mengikuti training yang langsung mendatangkan pakar kelistrikan dari negara Brazil. “Ini merupakan training yang pertama dilakukan di Asia. Dan para PDKB ini mampu memperbaiki listrik berkekuatan 150-500 KV meski dalam keadaan aktif,” lanjut Ali.

Ali meneruskan, pembentukan tim ini didasari atas kondisi kelistrikan Indonesia yang terus berubah sangat cepat. Karena itu, harus jugag didukung oleh sumber daya manusia yang terlatih namun tetap mengutamakan keselamatan.

“Kalau tiba tiba tegangan listrik turun, biasanya kan aliran listrik diputus dulu baru diperbaiki, sekarang tidak lagi, dengan adanya tim ini kondisi mati lampu yang sering dikeluhkan masyarakat bisa terminimalisir,” kata Ali.

Tak hanya melakukan perbaikan, Tim PDKB juga bertugas untuk melakukan pemeliharaan jaringan listrik maupun pemasangan peralatan baru. Mengingat dalam perkembangannya saat ini, PT. PLN (Persero) sedang berlomba dengan peralatan elektronik rumah tangga yang memiliki daya tinggi.

“Seperti kebijakan pak mentri ESDM yang menghendaki pemakaian listrik non subsidi dimasyarakat minimal harus berdaya 4.400 Watt, kebijakan ini kan juga sebagai penyeimbang peralatan rumah tangga yang serba elektronik juga sebagai tantangan bagi kami untuk meningkatkan pelayanan,” lanjut Ali.

Sementara itu, GM PT. PLN Transmisi Jawa Bagian Barat (TJBB), Trino Erwin mengatakan, Tim PDKB ini tidak hanya bertugas dan juga berperan online maintainance atau penggantian terhadap peralatan-peralatan yang eksisting termasuk pemasangan baru kontruksi.

Tim PDKB diharapkan, mampu mendeteksi lebih awal mengenai adanya potensi-potensi gangguan atau kerusakan hingga bisa perbaiki secara online atau Hotline Working tanpa padam, untuk mencapai zero pemadaman baik karena gangguan maupun pemeliharaan.

“Pekerjaan pembangunan instalasi listrik baru dan pemeliharaan khususnya di Jakarta, Itu tidak bisa lagi dilakukan pekerjaan offline atau mati, semuanya harus dalam kondisi yang bertegangan,” jelasnya.

Trino Erwin menjelaskan, program PDKB Advance kelanjutan dari program PDKB basic yang telah diluncurkan PLN sebelumnya. Pada program PDKB basic keterampilan yang diberikan hanya sebatas memperbaiki peralatan di gardu induk, maka PDKB Advance bisa sampai mengganti. “Jadi kalau misalnya CT rusak kita harus bisa mengganti CT yang rusak dengan baru dengan kondisi bertengangan. Ini bedanya PDKB GI advance dan basic,” jelas Erwin.

Dia membenarkan, bahwa pelatihan PDKB Advance merupakan yang pertama di Asia, sebagai jawaban dari kebutuhan penyaluran listrik, dan pembangunan instalasi baru maupun pemeliharaan yang tidak bisa dilakukan dengan pekerjaan offline. “Saat ini ada 11 orang yang mengikuti pelatihan mungkin kedepan pelatihan ini kita akan lanjutkan,” pungkasnya.(ade)