Beranda Metropolis PRT Dikriminalisasikan Majikan

PRT Dikriminalisasikan Majikan

0
PRT Dikriminalisasikan Majikan
ADE/RADAR DEPOK PASRAH : Shinta Karlina (34) didampingi kuasa hukumnya Abdul Rahman usai menjalani persidangan di PN Negeri Kota Depok. Shinta hanya dapat pasrah dengan hukuman yang akan diterimanya.

DEPOK–Lembaga Bantuan Hukum Advokasi Masyarakat Indonesia (LBH AMIN), menemukan indikasi adanya kriminalisasi terhadap kasus pencurian yang melibatkan seorang Pembantu Rumah Tangga (PRT), di Perumahan Telaga Golf, Blok E.XV Cluster Belanda RT3/10, Kelurahan/Kecamatan Sawangan.

Kasus yang sedang disidangkan Pengadilan Negeri Kelas 1B Kota Depok tersebut, menurut LBH AMIN ditemukan kejanggalan-kejanggalan yang dinilai mendiskriminasi PRT dan perempuan pada khususnya.

Koordinator Kebijakan Publik LBH AMIN, Sinaga mengatakan, PRT yang diketahui bernama Shinta Karlina (34) menjadi korban kriminalisasi majikannya. Karena telah dituduh mencuri handphone majikannya hingga harus menjalani proses persidangan.

Ia mengatakan, kasusnya bermula pada tanggal 8 Agustus 2017. Saat itu, Shinta berpropesi sebagai PRT di rumah yang diketahui milik Sarman dan dituduh mencuri sebuah Handphone Samsung Z4 lengkap dengan kardus, kwitansi, memori card dan kartu perdana.

“Saat itu majikannya baru beli hp, dan tiba-tiba hilang dan menuduh Shinta sebagai pelakunya,” kata Sinaga saat mengawal kasus tersebut di PN Kota Depok, kepada Harian Radar Depok, Selasa (7/11).

Padahal, lanjut Sinaga, Shinta sudah bersikeras mengaku tidak mengambil barang milik tuannya tersebut, hingga akhirnya dirinya tetap dibawa ke Pos satpam komplek perumahan tersebut dan dilakukan introgasi. “Saat dilakukan introgasi tersebut menurut pengakuan Shinta, ia ditampar dan diludahi agar dipaksa mengaku mencuri,” lanjut Sinaga.

Diduga karena perlakuan kasar tersebut, Shinta akhirnya mengaku dan digelandang ke Mapolsek Sawangan untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Hingga akhirnya dilakukan penahanan di Lembaga Pemasyarakatan Paledang Bogor, Jawa Barat dan menjalani persidangan di PN Depok.

Proses pemeriksaan atau interogasi kepada Sinta yang dilakukan dirumah majikan dan di pos security dibarengi tindakan kekerasan, tersebut dianggap Sinaga sebagai perlakuan merendahkan harkat martabat perempuan dan pekerja. Dan dirinya mengaku akan terus mengawal kasus tersebut.

“Selain itu kami sedang mengupayakan hal lain, agar Shinta dibebaskan. Salah satunya dengan melaporkannya kepada komnas perempuan dan berencana mengadukan ke presiden, karena ini merupakan pelecehan,” pungkas Sinaga.

Sementara itu, sidang bernomor perkara 580/Pid.B/2017/PN DPK dengan Hakim Ketua Ramon Wahyudi serta hakim anggota Sri Rejeki Marsinta dan Raijah Muis tersebut, harus ditunda karena saksi meringankan (A de Charge) dari terdakwa tidak datang dengan alasan sakit.

Kuasa hukum terdakwa, Abdul Rahman mengatakan, ia bisa menjamin kliennya tidak bersalah, pasalnya banyak kejanggalan dalam kasus yang melibatkan kliennya tersebut.

Ia menyebutkan, kliennya bukan hanya pertama menjalani profesi sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT), namun baru kali ini ia tersandung kasus pencurian di rumah majikan yang baru ia jalani selama tiga bulan.

“Sudah tahunan klien saya jadi PRT, dan sudah banyak juga orang yang pernah menjadi majikannya, tapi baru kali ini ia tersandung kasus pencurian ini,” kata Rahman.

Rahman mengatakan, adanya indikasi kriminalisasi yang dilakukan terhadap kliennya yang dianggap tidak mengerti hukum tersebut. Karena dalam persidangan tidak pernah ditunjukkan barang bukti, serta para saksi yang dianggap terlibat dalam aksi yang dilakukan oleh kliennya.

“Saya tidak mengerti motifnya. Tapi intinya tidak pernah ada, bb tidak ada, dpo yang ada dalam berkas disebutkan nama Samsudin, terdakwa tidak mengenal. Kita bertahan pada upaya membebaskan terdakwa karena unsur tidak ada,” lanjut Rahman.

Rahman juga menambahkan, adanya indikasi lain yakni, saksi yang kerap mendatangi rumah majikannya untuk mengurusi burung milik majikannya tersebut tidak pernah dihadiri. Padahal menurutnya saksi tersebut dapatlah menjadi saksi kunci aksi pencurian yang dilakukan oleh kliennya.

Dalam persidangan yang mengagendakan saksi A de Charge (meringankan), pihaknya menghadiri dua saksi yang pertama merupakan mantan majikan kliennya dan kedua merupakan pembeli hp yang diduga dijual oleh kliennya.

“Namun kedua saksi berhalangan hadir, yang satu sedang sakit yang satu lagi sedang diluar kota,” katanya.

Terdakwa hanya bisa menangis dan meratapi nasib dibalik jeruji tahanan Pengadilan Negeri Kelas 1B Kota Depok. Saat diwawancarai Radar Depok, ia pun menitikan air mata sambil berkata ia ingin bebas.

“Saya nggak bersalah, aku mau pulang aja, saya nggak punya masalah, saya dituduh,” katanya dibalik jeruji besi.

Ibu terdakwa, Titin mengatakan, kaget mendengar anaknya terjerat kasus pencurian hp majikannya. Karena ia mengatakan anak yang merupakan tulang punggung bagi adik adik dan keluarganya tersebut tidak pernah menunjukkan perilaku yang menyimpang.

“Anak saya itu orangnya baik, tidak  pernah ada masalah, udah lama jadi PRT, tapi baru ini kejadiannya,” katanya lirih.

Titin mengatakan, pekerjaan yang digeluti anaknya sudah 10 tahunan lebih demi menghidupi keluarganya, namun baru kali ini anaknya terlibat kasus pencurian. “Saya tidak percaya, meskipun kami orang tidak punya, tapi moral keluarga kami tidak sampai seperti itu,” ucapnya sambil menangis.

Jaksa Penuntut Umum, A. Andika Desiyanti mendakwakan pelaku dengan pasal tunggal yakni pasal 362 KUHP yang berbunyi, Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah.(ade)