AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK KEMBALI DITUNDA : Salman Nuryanto, terdakwa pemimpin Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa bersama leadernya saat akan menjalani sidang dalam agenda pembacaan tuntutan yang kembali ditunda karena berkas jaksa penuntut umum yang belum lengkap di Pengadilan Negeri Kota Depok, kemarin.
yamaha-nmax
AHMAD FACHRY/RADAR DEPOK
KEMBALI DITUNDA : Salman Nuryanto, terdakwa pemimpin Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Pandawa bersama leadernya saat akan menjalani sidang dalam agenda pembacaan tuntutan yang kembali ditunda karena berkas jaksa penuntut umum yang belum lengkap di Pengadilan Negeri Kota Depok, kemarin.

DEPOK–Lagi, persidangan kasus dugaan penipuan dan penggelapan investasi fiktif Pandawa Grup ditunda, kemarin. Sidang yang sudah memasuki agenda pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) tersebut, kembali ditunda dengan alasan berkas tuntutan belum siap untuk dibacakan dimuka persidangan.

Salah seorang JPU, Putri Dwi Astrini dalam persidangan mengatakan, pihaknya meminta maaf kepada majelis hakim karena berkas tuntutan belum siap. Ia beralasan ketelitian dalam pengerjaan berkas tuntutan dalam kasus tersebut sangat diperlukan mengingat terdakwa, saksi, dan barang bukti yang sangat banyak.

“Sebelumnya saya meminta maaf kepada majelis hakim, karena kami belum siap untuk membacakan berkas tersebut, alasannya terdakwa, saksi dan barang buktinya sangat banyak, jadi butuh ketelitian bagi kami untuk mengerjakan berkas itu, kami meminta waktu lagi,” kata Putri dihadapan majelis hakim dan ratusan peserta sidang.

Baca Juga  Kenali Tokoh Masyarakat Rawageni, Jaelani (2): Hobi Trabas, Dekat dengan Walikota Depok

Putri melanjutkan, pihaknya meminta kelonggaran waktu lagi kepada majelis hakim untuk menunda persidangan hingga Kamis (23/11). “Kami memohon kepada yang mulia untuk diberikan kesempatan sampai hari kamis, terimakasih yang mulia,” lanjut Putri.

Hal tersebut lantas membuat para peserta sidang yang didominasi oleh nasabah sekaligus korban bisnis, yang dijalankan oleh Dumeri alias Salman Nuryanto dan kawan kawan, geram dan memaki hakim dan jaksa yang dinilai tidak kooperatif dalam menyidangkan kasus tersebut.

Namun, majelis hakim yang diketuai oleh Yulinda Tri Murti Asih dengan hakim anggota YF Tri Joko dan Sri Rejeki Marsinta, bersikap tegas untuk menenangkan para peserta sidang dengan mengetukkan palunya.

“Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa kami sudah memberikan kesempatan dua kali, namun JPU belum menyiapkan berkasnya, jadi kesalahan ini bukan berada pada kami, karena kami telah memberikan kesempatan,” kata Yulinda.

Selain penundaan sidang untuk kedua kalinya, massa yang sudah memenuhi gedung PN Depok sejak pagi tersebut, juga sempat dibuat geram dengan jadwal sidang yang tak kunjung dimulai. Hingga pukul 15.00 WIB ruang sidang Garuda hanya dipadati peserta sidang.

Baca Juga  Nuryanto 14 Tahun, 26 Leader 11 Tahun 

“Mana ini majelis hakimnya, seret, seret, seret, jemput, jemput, ayoo kita sidang,” kata para peserta sidang sembari menaiki tangga untuk menghampiri ruang hakim.

Tak hanya itu, mereka juga berteriak memaki hingga menyanyikan lagu panggung sandiwara. “Ini sandiwara apa yang dimainkan, mana keadilan, kami menuntut keadilan,” seru para korban.

Beruntung aparat kepolisian yang berjaga berhasil mengamankan massa yang mulai marah tersebut dengan melakukan negosiasi dan menjaga akses menuju ruang hakim.

Massa tersebut marah karena pada sidang yang digelar pada hari senin (13/11), Persidangan ditunda karena salah satu Tim dari JPU tidak hadir dalam persidangan tersebut dengan alasan sakit.

Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Depok, Sufari mengatakan, pihaknya terpaksa menunda pembacaan tuntutan karena perlu ketelitian, mengingat jumlah terdakwa dan saksi yang cukup banyak.

“Jadi ini perlu ketelitian dan kehati-hatian. Karena saksinya banyak, barang bukti juga banyak sehingga kita perlu kecermatan. perkara ini ada enam berkas sekaligus harus dituntut, tapi waktunya hanya seminggu lebih waktunya tidak cukup,” katanya.

Baca Juga  Tukang Ojek Ditipu Pandawa Rp17 Juta

Tak hanya itu, setelah diteliti masing-masing berkas, lanjut Sufari memiliki beragam ketebalan berkas, ada yang 250 halaman hingga 150 halaman. Kalau ditotal total bisa mencapai 1.500 halaman lebih. Dengan 27 terdakwa, jumlah jaksa enam orang. Dalam waktu yang bersamaan harus menuntut enam berkas. tidak memungkinkan. Perlu keteltian dan kecermatan dalam menganalisa dalam perspektif hukum. “Namun hari Kamis nanti Insya Allah sudah final, saya jamin,” timpalnya lagi.

Ketika disinggung adanya dugaan permainan dalam kasus ini seperti yang ditudingkan sejumlah korban, Sufari mengatakan, pihaknya berusaha memaklumi hal tersebut.

“Itu lontaran dari mereka (korban) harus kita maklumi, tidak boleh ditanggapi dengan amarah. Kita nanti menjawab semua itu dengan tuntutannya seperti apa,” kata dia.

Sufari melanjutkan, yang jelas pihaknya dalam melakukan tuntutan berdasarkan fakta. Ada hal yang meringkan dan memberatkan. Tegas bukan berarti sembarangan. Harus ada analisa yuridis, kemudian ditunjang faktor-faktor membaratkan dan meringankan seperti apa. Sehingga dirasa adil.

Terkait hal tersebut, Sufari pun meminta pada para korban untuk bisa menahan diri dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. “Kami selaku pimpinan di kejaksaan mengharapkan adanya kasabaran dari saudara-saudara yang masuk dalam kegiatan Pandawa. Semua itu dalam rangka penegakan hukum. Tentu macam-macam perspektifnya. Berikan percayaan kepada kami dan Insya Allah kami akan betul-betul menegakkan hukum yang seharusnya,” tutup Sufari.(ade)