DEPOK-Angka penderita penyakit mematikan Aids di Kota Depok, tiap tahunnya meningkat. Berdasarkan catatan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, pada 2015 ada 55 pasien penderita Aids, 2016 ada 268 pasien, dan 2017 sebanyak 321 pasien, yang terhitung dari Januari sampai dengan November.

“Jumlah penderita aids di Depok berdasarkan laporan ke provinsi dan Kementrian Kesehatan. Jadi kalau data dari LSM berberda,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes Kota Depok, Rani Martina, kepada Radar Depok, kemarin.

Jumlah penderita aids ini didapat dari laporan 17 Puskesmas dan dua Rumah Sakit (RS) yakni RSUD dan Sentra Medika. Dari data kurun waktu tiga tahun belakangan ini grafik penderita aids meningkat setiap tahunya.

Hal ini justru bagus dalam artianya para pasein penderita penyakit warga Depok mau melaporkan dan berobat. “Biasanya penderita aids malu-malu untuk berobat atau mengecek kondisi apakah tertural atau tidak,” tuturnya.

Penyakit ini kata dia, bisa menular melalui narkoba mengunakan jarum suntik, berhubungan intim sesama jenis, dan  darah penderita aids. “Tentunya penderita aids, kami sarankan untuk rutin berobat seumur hidup. Untuk di Depok bisa di 17 Puskesmas dan RSUD dan Sentra Medika,” tutur dia.

Lebih lanjut kata Rani, Dinkes Depok terus mengupayakan memberikan sosialisasi pencegahan penyakit aids kepada warga Depok. Lalu ia juga mengajak para ibu hamil untuk mengecek apakah menderita HIV atau tidak. Seperti memberikan pengetahuan HIV secera komperesnsif, memutuskan mata rantai penularan HIV, penggunaan kondom pada hubungan seks beresiko, dan mengelar konseling dan tes HIV.

“Dinkes memberikan pelayanan konseling dan tes HIV, layanan   Antri Retro Faier (ARV), konseling kepatuhan berobat, dan membentuk kelompok mendukung mencegah dan penangulanganya. Atau merangkul seperti LSM peduli aids,” tuturnya.

Terpisah, Anggota Komisi D DPRD Depok, Lahmudin Abdullah merasa miris jumlah penderita aids meningkat dari tiga tahun belakangan. Menurut dia, ini prilaku manusia itu sendiri yang melaksanakan larangan agama. Namun, sisi lainya ada orang tidak bersalah tertural HIV.

“Wajar,  di saat agama semakin ditinggalkan, LGBT diberikan ruang, masjid dijauhi, ustad dicurigai, anak muda tidak dirangkul dan masih banyak lagi penyebabnya,” kata Lahmudin.

Sebab itu, persoalan ini tentu peran pemerintah dituntut semakin serius memberikan penyuluhan, baik lewat Puskesmas dan lainnya. “Saya  miris, mau dibawa kemana bangsa ini. Jika aids terus bertambah penderitanya.  Miris dan prihatin,” tutupnya.(irw)