ADE/RADAR DEPOK BNN : Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok yang terletak di Jalan Merdeka, Sukmajaya
ADE/RADAR DEPOK BNN : Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok yang terletak di Jalan Merdeka, Sukmajaya

DEPOK – Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Depok sepanjang Januari-Desember 2017 merehabilitasi 84 penyalahguna narkotika dan bahan obat berbahaya (narkoba). Jumlah tersebut mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, yang hanya 52 kasus.

Dokter Sie Rehabilitasi BNN Kota Depok, Lelly Simatupang mengatakan, kasus yang mereka tangani itu ada yang berupa klien voluntary atau pengguna yang datang kepada pihaknya untuk diberikan rehabilitasi dan ada juga klien compulsory atau pihak kepolisian yang meminta kepada pihaknya untuk melakukan pendampingan dan rehabilitasi selama proses hukum.

“Paling banyak kategori yang masuk ke BNN Kota Depok ialah laporan dari pengguna. Jumlahnya naik juga dari 20 kasus di tahun 2016 menjadi 48 kasus di tahun ini,” jelas Lelly saat ditemui Radar Depok di kantornya, Rabu (27/12).

Tak hanya pengguna yang meningkat, jenis narkotika yang paling banyak dipakai oleh pecandu juga mengalami perubahan. Jika dibandingkan dari tahun 2016, saat ini, banyak pengguna yang memilih ganja sebagai narkotika yang dikonsumsi ketimbang sabu-sabu.

“Pada 2016 itu data yang ada di kami, angka penggunaan ganja hanya mencapai 20 persen. Sedangkan tahun ini penggunaan ganja mencapai 70 persen dari angka penyalahgunaan narkoba,” sambungnya.

Kenaikan ganja sebagai jenis narkotika yang paling banyak dikonsumsi menurut dia, lantaran hingga saat ini, jenis narkotika yang satu ini paling mudah di dapat. Selain itu, barang haram tersebut juga lebih murah ketimbang sabu.

Sedangkan untuk jenis narkoba yang kini jarang dipakai terang Lelly ialah, Putau dan Ekstasi. Sebab, jenis narkotika yang satu ini mahal dan efek yang di dapat oleh pengguna  terbilang lebih keras dari narkotika lainnya.

“Klasifikasi umur pemakai yang paling muda itu 15 tahun dan yang paling tua yang pernah kami tangani berumur 64 tahun, ini menunjukkan tren peningkatan juga dibandingkan tahun 2016 itu paling muda berusia 16 tahun,” ungkap dia.

Lelly menjelaskan, jenis ketergantungan obat penenang dan penghilang rasa sakit juga mendapat perhatian pihaknya. Kasus-kasus semacam ini malah kata dia, tak sedikit terjadi. Umumnya pecandu obat-obat ini ialah mereka yang seharinya mampu mengkonsumsi obat mencapai 50 butir.

“Efek yang ditimbulkan juga sama saja dengan narkotika. Karena pemakaianmya yang mencapai puluhan butir per-hari,” terang dia.

Agar penanganan penderita mampu lebih optimal, kini kata dia, sudah ada belasan rumah sakit di Kota Depok yang telah bekerjasama dengan pihaknya. Selain itu juga ia berupaya di tahun 2018 pihaknya akan mencanangkan program after care, yakni membina seluruh pecandu yang telah melewati masa rehabilitasi.

“Selama ini para pecandu yang telah direhab dibiarkan saja, kedepan akan kami bina agar mereka memiliki ketrampilan dan semakin menjauhinya dari barang haram lagi,” pungkasnya. (ade)