RICKY/RADAR DEPOK RELIGIUS: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna bersama Ustad Solmed saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 Hijriah di Kota Depok.

 

RICKY/RADAR DEPOK
RELIGIUS: Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna bersama Ustad Solmed saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 Hijriah di Kota Depok.

Fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transeksual (LGBT), menjadi perhatian serius pemerintah. Hal ini menurut Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna perlu disikapi dengan bijak. Dia memiliki cara jitu untuk menangkalnya.

LAPORAN: Ricky Juliansyah

Akhir-akhir ini hangat dibahas mengenai keberadaan kelompok LGBT. Setelah setahun lewat sempat sepi, isu ini kembali marak , ketika Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan menolak pelapor tentang keberadan LGBT.

Pro kontra tetang putusan MK ini atau keberadaan LGBT ini sendiri menghangat. Interpretasi dan analisa pun ramai dari belbagai sudut pandang dan sudut posisi kepentingan masing-masing.

Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna mengatakan, masalah LGBT ini perlu disikapi secara arif dan bijaksana. Tak dapat dinilai dari satu atau dua sisi saja.

Bagi Pradi, LGBT mau tak mau, harus dilihat diatasi dengan sudut pandang agama secara ilmu tauhit, fiqih, dan tasauf.

“Perlu penanganan yang aplikatif. Tidak perlus secara keras, tapi jangan juga permisif dan diperbolehkan. Masalah ini tidak berdiri sendiri. Syahwat LGBT ini banyak faktor pengaruh, bisa dari pengaruh pribadi, keluarga, lingkungan, masyarakat, atau pun pengatur budaya berkesenian. Memang rumit,” ujar Pradi.

Pradi menjelaskan, dalam pendapat umum dan agama, LGBT adalah prilaku yang menyimpang. Namun, yang perlu dilakukan adalah bagaimana prilaku ini tidak dipamerkan di depan umum dan juga tidak usah memusuhi kelompok ini.

“Sebaliknya kita harus membantu supaya mareka kembali kepada perilaku yang normal,” jelasnya.

Kota Depok, dengan visi Nyaman, Aman, dan Religius punya program pembinaan keluarga yang dari aktivitas keagamaan. Pemkot juga melakukan pembinaan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Budaya.

“Ini masalah serius. semua pihak harus peduli, mulai dari diri sendiri, keluarga inti, keluarga besar, lingkungan, masyarakat, guru, tokoh agama, pemerintah, sampai negara harus peduli membentengi dari maraknya LGBT ini,” ulasnya.

Menurut Pradi, soal sifat atau prilaku negatif atau positif ada dalam pribadi masing-masing. Yang baik diterima umum dan yang negatif ditolak umum.

“Namun bagaimana hal yang negatif bisa hanya menjadi rahasia peribadi tidak usah ditampakan di depan umum atau masyarakat luas. Soal LGBT, soal penyalahgunaan narkoba, orangnya tak usah kita benci, tapi kita sayang, kita arahkan supaya sadar,” pungkasnya. (cky)