AHCHMAD FAHRY/RADAR DEPOK LUAS : Lokasi lahan luas RRI yang akan dibangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) tahun depan di Kelurahan Cisalak, Sukamajaya.
AHCHMAD FAHRY/RADAR DEPOK
LUAS : Lokasi lahan luas RRI yang akan dibangun Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) tahun depan di Kelurahan Cisalak, Sukamajaya.

DEPOK–Pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) di lahan RRI Kelurahan Cisalak, Sukmajaya sepertinya tidak berjalan mulus. Musababnya, aktifis lingkungan Kota Depok meminta Pemkot Depok menahan izin kampus tersebut. Alasanya, akan mengurangi ruang terbuka hijau (RTH) di Depok.

Koordinator Forum Komunitas Hijau (FKH), Heri Saefudin mengatakan, pembangunan UIII akan berimbas pada desakan terhadap ke keberlanjutan kota hijau. Tidak hanya itu saja,  urusan sampah dan penggunaan air tanah juga belum bisa diatasi. Apalagi, arus lalu lintas di lokasi itu saat ini belum ditemukan formulasi solutif untuk pemecahan masalah kemacetan.

“Kami sangat menyayangkan rencana pemerintah pusat yang  terkesan terburu-buru dalam membangun UIII, tanpa mengindahkan aspek keberlanjutan kota,” kata Heri kepada Radar Depok, kemarin.

Untuk itu, FKH mendorong Pemerintah Kota Depok agar mempertimbangkan bila perlu menstop ijin pendirian bangunan UIII. Lalu kawasan tersebut masuk dalam ruang terbuka hijau kota ini. “Pertimbangan yang kami minta ini sejalan dengan upaya penambahan ruang terbuka di Depok, yang sampai saat ini masih belum maksimal pemenuhannya,” ulas Heri Blangkon -sapaan akrabnya-.

Padahal, RTH sambung dia, sangat dibutuhkan selain sebagai pusat tumbuh kembang, regenerasi, sebagai pusat habitat, dan  penjaga keseimbangan ekosistem. “Kami (FKH) berencana menggulirkan program wakaf ruang terbuka hijau, agar dapat membantu pemerintah untuk dalam mewujudkan cita-cita sebagai Kota Bersahabat yang Layak Anak, Keluarga dan Ramah Lingkungan,” kata dia.

Diketahui di lahan RII itu terdapat bangunan Rumah Cimanggis situs sejarah Kota Depok yang dibangun pada abad 18. Terkait hal itu, Sejarahwan JJ Rizal mengatakan, Indonesia sudah banyak memiliki universitas Islam, bahkan berlebihan. Akan tetapi, Indonesia sangat jelas kekurangan bangunan bersejarah. ”Kekurangan bangunan sejarah, bahkan krisis karena langka,” jelas Rizal.

Jika pembangunan UIII menggerus situs sejarah di Kota Depok, yakni Rumah Cimanggis terbongkar dan didiamkan tidak diperhatikan. Ini tidak sesuai Nawacita ke-8 yang jelas-jelas menyebutkan sejarah sebagai sumber nilai. “Maka marilah kita hargai sejarah yang hidup salah satunya dalam warisan sejarah berupa bangunan tua,” ulas pria yang sempat mencalonkan sebagai Walikota Depok ini.(irw)