RUBIAKTO/Radar Depok MEGAH: Masjid Kubah Emas yang berada jalan Mruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, nampak megah dengan kubah emas dari Itali.
RUBIAKTO/Radar Depok
MEGAH: Masjid Kubah Emas yang berada jalan Mruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, nampak megah dengan kubah emas dari Itali.

Tidak hanya sebagai perhiasan dan aksesoris untuk mempercantik diri. Di Depok, emas yang sejatinya dijadikan perhiasan dan alat tukar, juga digunakan untuk melapisi kubah masjid yang menyajikan keunikan tersendiri.

Laporan: Rubiakto

 

Tidak terlalu sulit jika ingin mengunjungi salah satu masjid termegah di Kota Depok ini. Tepat berada dipinggir jalan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, sudah bisa langsung menemukan masjid Dian Al Mahri atau yang lebih familiar disebut Masjid Kubah Emas.

Sekitar satu kilometer dari pertigaan Parung Bingung menuju arah Cinere, sudah dapat melihat kubah besar berwarna kuning emas yang sangat mencuri perhatian.

Nama Kubah Emas menggantikan nama asli Masjid Dian Al Mahri yang diambil lansung dari nama pembuatnya. Megah, dan mewah, gaya arsitektur yang mengadopsi gaya timur tengah ditambah lima buah kubah besar berwarna emas, sudah menarik perhatian sejak memasuki pintu gerbang utama. “Itu emasnya langsung didatangkan dari Itali,” terang pengelola Masjid Kubah Emas, Soekarno.

Soekarno menjelaskan, ide pembangunan Masjid ini digagas Hj Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang telah membeli tanah ini sejak tahun 1996. Sejak tahun 1999 masjid Kubah Emas sudah berdiri. Namun, baru diresmikan pada tanggal 31 Desember 2006, yang kala itu bertepatan dengan Idul Adha.

Dengan luas kawasan 70 hektar, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8.000 meter persegi yang mampu menampung 8.000 jemaah. “Jika penuh masjid ini mampu menampung sekitar 20.000 jamaah,” kata Soekarno.

Keunikan masjid ini terletak pada kubahnya yang seluruhnya dilapisi dengan emas 24 karat, setebal 2 sampai 3 milimeter. Dari kelima kubah yang ada, satu kubah berukuran besar yang diletakan ditengah sebagai kubah utama, dan 4 kubah yang berukuran lebih kecil mengelilingi kubah utama.

Bentuk kubah utama menyerupai kubah Taj Mahal. Kubah tersebut memiliki diameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter, dan tinggi 25 meter. Sementara 4 kubah kecil memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter.

Tidak hanya kubah yang dilapisi emas 24 karat, enam menara yang berbetuk segi enam yang menjulan setinggi 40 meter juga dilapisi emas 24 karat. “Lima kubah melambangkan rukun islam, dan enam menara melambangkan rukun iman,” ujar Soekarno.

Selain itu, relief hiasan di atas tempat imam juga terbuat dari emas 18 karat. Begitu juga pagar di lantai dua dan hiasan kaligrafi di langit-langit masjid. Sedangkan mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas.

Secara umum, arsitektur masjid mengikuti tipologi arsitektur masjid di Timur Tengah dengan ciri kubah, minaret (menara), halaman dalam (plaza), dan penggunaan detail atau hiasan dekoratif dengan elemen geometris dan obelisk, untuk memperkuat ciri keislaman para yang di rancang oleh arsitektur asal Bandung, Uke Setiawan. Ciri lainnya adalah gerbang masuk berupa portal dan hiasan geometris serta obelisk sebagai ornamen.

Setelah memasuki bagian dalam masjid melihat lampu kristal besar tepat berada di bawah kubah utama yang didatangkan langsung dari Austria seberat 2,7 ton. “Lampu itu, ibu Hj Dian sendiri yang mendisain, karena di Autria tidak menyediakan lampu gantung untuk masjid, sebagian besar lampu yang dibuat disana untuk interior gereja,” kata Soekarno menjelaskan.

Ruang masjid didominasi warna monokrom dengan unsur utama warna krem, untuk memberi karakter ruang yang tenang dan hangat. Materialnya terbuat dari lebih dari 50 jenis bahan marmer yang diimpor langsung dari Turki dan Italia. (*)