DEPOK-Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok pastikan angka positif Difteri masih empat jiwa. Hanya saja, ada kenaikan pada suspek difteri, sebelumnya ada 12 kini menjadi 31 yang suspek difteri. Dan Puji Herni Puspa warga Kecamatan Sukmajaya yang dirawat di Rumah Sakit Simpanagan Depok atau Warsito di Jalan Raya Bogor KM36, Kelurahan Sukamaju, Cilodong bukan mengalami difteri.

“Yang di RS Simpangan Depok bukan suspek difteri,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Depok, Noerzamanti Lies Karmawati, kepada Radar Depok, kemarin.

Penderita difteri beradasarkan data Dinkes tidak bertambah. Namun saat ini untuk suspek (gejala) ada 31 orang berdasarkan data dari berbagai rumah sakit yang tersebar di Kota Depok.  “Yang positif tetap ada empat orang, tidak bertambah, suspeknya ada kenaikan,” sebut Lies.

Ia menghimbau, kepada warga Depok untuk tidak kontak dengan penderita difteri, dan segera ditangani oleh pihak medis. Bahkan, penderita harus diisolasi di ruang khusus di rumah sakit. “Kalau kontak harus minum antibiotik. Jadi harus berobat juga,” kata dia.

Untuk menekan agar tidak bertambah pihaknya (Dinkes) terus melaksanakan ORI di tiap lokasi pemberian vaksin. “Pencegahanya imunisasi harus terus dilaksanakan,” ucapnya.

Terpisah, keterangan dari RS Simpangan Depok tempat Puji Hesti Puspa, bahwa rumah sakit belum bisa memberikan penjelasan terkait diagnosa pasien tersebut. “Belum bisa memberikan penjelasan terkait pasien yang dirawat di rumah sakit ini, kami harap maklumi,” kata Satpam RS Simpangan Depok, Kosasi singkat.

Sementara, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok Sahat Farida Berlian mengatakan, membutuhkan waktu hingga empat bulan pelaksanaan imunisasi untuk menjangkau hingga anak se Depok guna mencegah penyakit difteri.

“Langkah Dinkes  yang  terus melakukan pemberian vaksi memang butuh waktu, karena sumber daya manusianya memang terbatas,” kata dia.

Untuk difteri ini, kata dia, orangtua harus memiliki kesadaran dan inisiatif tinggi untuk bisa  mendatangi langsung ke layanan kesehatan, puskesmas, klinik dan lainya untuk memberikan vaksim difteri ke anaknya. Lalu sambung dia, orangtua yang menolak anaknya divaksin dengan alasan halal haram.

Ia berharap, partisipasinya vaksin ini orangtua harus tahu,  mengingat difteri ini menular dengan penularan yang cepat. “Jadi jangan egois, pikirkan juga lingkungan sekitar,” kata dia.

Ia menambahkan,  dua hari lalu di RSUD Depok kewalahan menampung pasien difteri. Jadi perlu dicatat, ini penyakit menular dengan inkubasi yang cepat. ”Sasarannya bukan saja anak-anak, tapi dewasa juga ada. Apalagi dengan status Depok sekarang, KLB difteri,” bebernya.

Saat dikonfirmasi Humas RSUD Depok Riyanto, mengatakan bahwa di RSUD tidak ada pasien penderita difteri. “Sudah kosong, tidak ada pasien difteri,” ucap dia singkat. (irw)