RICKY/RADAR DEPOK BELAJAR : Aktivis lingkungan Depok saat bertandang ke wilayah Mbah Sadiman di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
RICKY/RADAR DEPOK BELAJAR : Aktivis lingkungan Depok saat bertandang ke wilayah Mbah Sadiman di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Memompa semangat untuk terus berbuat untuk lingkungan di wilayah memang perlu motivator yang sudah memiliki pengalaman dan bukti nyata. Aktivis lingkungan dari Depok pun menyempatkan diri ke Wonogiri untuk berjumpa derngan penerima Kalpataru, yakni Mbah Sadiman.

LAPORAN : Ricky Juliansyah

 

Di Desa Geneng, Kecamatan Bulukerto, sebuah desa di lereng Gunung Gendol, ujung timur Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di tempat paling tinggi dan paling ujung di desa itu, Mbah Sadiman menapaki jalan sempit berbatu di tepi jurang menganga bersama beberapa orang asing.

Kakinya masih cukup kuat dan cekatan menyusuri jalur terjal naik-turun di antara rumput dan batuan. Matanya menerawang, mengingat-ingat kebakaran yang pernah melanda dan penebangan pohon telah membuat hutan gundul dan mata air mati belasan tahun lalu.

Hampir setiap hari ia menjelajahi hutan, jika tidak sedang mengerjakan ladangnya. Ia bertani padi, tetapi lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus pohon-pohon beringin yang ia tanam di hutan atas.

Salah satu orang asing itu tidak lain adalah seorang aktivis lingkungan Depok yang juga merupakan pendiri Tunas Kali Pesanggrahan (Tulipe), Kristianto hadir diantara Mbah Sadiman dan rekan-rekannya dari Depok. Kata pria yang akrab disapa Anto,  sejak awal 1990-an, mbak Sadiman terus menanam bibit pohon di Hutan Gendol yang adalah hutan negara.

Sampai saat ini sedikitnya 11.000 pohon, dimana 4.000 di antaranya beringin sudah ia sedekahkan untuk alam. Karenanya, mbak Sadiman menjadi satu-satunya orang yang mendapat izin menanami lahan yang dikelola oleh Perhutani itu.

“Sejak 1996 telah melakukan rehabilitasi lahan kritis di lereng-lereng bukit serta penyelamatan dan perlindungan sumber mata air. Beliau berhasil menanam hingga 15 ribu pohon beringin di lokasi seluas 809 ha dan 5000 pohon yang ditanam bersama relawan,” kata Anto.

Haslinya pun berbuah manis, niat tulus ikhlas yang dilakukan Mbah Sadiman menjadikan penduduk Desa Geneng dan Conto yang terletak di lereng dan awalnya mengalami defisit air bersih pada musim kemarau, kini sudah tidak khawatir ketika jarang hujan. Pasalnya, keadaan mulai membaik beberapa tahun lalu, usaha mbah Sadiman menuai hasil setelah beberapa mata air yang bersumber di Gunung Gendol kembali mengalir dan mampu menghidupi sedikitnya 3.000 jiwa.

“Bahkan di saat musim kemarau panjang, ketika wilayah Wonogiri lainnya mengalami kekeringan dan mengandalkan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, desa tempat tinggal Sadiman bebas krisis air. Setidaknya, mata air masih mencukupi kebutuhan minum dan sanitasi,” papar Anto.

Walhasil, kakek yang kini berusia 61 tahun itu mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah Indonesia. Sebuah penghargaan yang tidak main-main, penghargaan perintis lingkungan yang diberikan di tahun 2016 kemarin.

Karenannya, semangat dan niat baik yang dilakukan sosok sedernaha, iklas, humoris dan fenomenal ini perlu ditiru dan dibawa ke Kota Depok.

“Ini luar biasa menambah semangat kami yang hadir untuk terus berbuat untuk lingkungan di Kota Depok,” kata Anto. (*)