RICKY/RADAR DEPOK PEMAHAMAN: Komite Nasional Gerakan Budaya dan Jati Diri Bangsa saat diskusi di Hotel Bumi Wiyata, Jalan Raya Margonda, Kecamatan Beji, Rabu (20/12).
RICKY/RADAR DEPOK
PEMAHAMAN: Komite Nasional Gerakan Budaya dan Jati Diri Bangsa saat diskusi di Hotel Bumi Wiyata, Jalan Raya Margonda, Kecamatan Beji, Rabu (20/12).

DEPOK Di tengah gempuran paham dan budaya asing yang tidak selaras dengan budaya dan jati diri bangsa, membuat identitas bangsa indonesia kian memudar. Untuk itu, perlu perlawanan untuk mengembalikan budaya dan jati diri bangsa sebagai identitas bangsa Indonesia.

Ketua Presidium Komite Nasional Gerakan Budaya dan Jati diri Bangsa, Hendry Yatna, memandang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah sempurna untuk menjadi pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Sebagai sebuah bangsa yang sejatinya selalu menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kemusyawarahan dan keadilan, seharusnya bangsa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang sejahtera, mandiri, damai dan sentosa,” kata Hendry saat menggelar diskusi di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok, Jalan Margonda Raya, Kecamatan Beji, Rabu (20/12).

Hendry mengungkapkan, tumbuh dan berkembangnya paham-paham seperti komunisme, sosiaslisme, liberalisme, kapitalisme dan teologisme di tengah-tengah masyarakat Indonesia adalah sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Paham-paham tersebut tidak hanya menjadi sebuah kajian ataupun kekayaan ilmu yang dimiliki masyarakat, tetapi sudah menjadi sebuah pergerakan berbahaya yang bertujuan menggeser ideologi bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

“Bahwa paham-paham tersebut masuk ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia dengan merusak budaya dan jatidiri bangsa Indonesia yang sesunguhnya, pergerakan paham tersebut menggunakan pola gerakan radikal dengan meniadakan rasa kemanusian untuk mencapai tujuan,” ungkapnya.

Pancasila, sambung Hendry, menjadi ideologi bangsa, yang digali oleh para pendiri bangsa ini dari nilai-nilai yang telah ada dalam sendi kehidupan masyarakat Indonesia selama berabad-abad lamanya. Nilai tersebut telah menjadi budaya, nilai-nilai tersebut adalah jati diri bangsa sesungguhnya yang kini mulai memudar.

“Oleh karena itu perlu adanya sebuah perlawanan, yaitu sebuah gerakan yang dilakukan oleh seluruh masyarakat Indonesia, bersama membangun perlawanan kepada paham-paham yang telah dan ingin merusak budaya dan jati diri bangsa, sehingga kembalinya identitas bangsa kita,” katanya.

Menurutnya, untuk mengembalikan budaya dan jatidiri bangsa Indonesia tersebut, kami akan melakukan sebuah gerakan nasional pengembalian budaya dan jati diri bangsa yang terstruktur, sistematis, dan masif, sehingga sebuah tatanan masyarakat yang Pancasilais dapat terwujud ditanah air tercinta ini.

“Dan demi rasa kemanusiaan, demi rasa keadilan, serta demi amanat UUD 45, bahwa penjajahan diatas muka bumi harus dihapuskan, maka kami turut mendukung Deklarasi KTT OKI di Istambul yang dihadiri oleh 57 negara, termaksud Negara Indonesia yang dengan tegas menyatakan bahwa Yerusalem adalah Ibu Kota Negara Palestina,” tandasnya. (cky)