PEBRI/RADAR DEPOK PELESTARIAN: Anak didik Sanggar Tari Kartika berfoto bersama dengan pelatih dengan orangtua di sanggar pusatnya yang berlokasi di Jalan H. Nirun, Kelurahan Kalibaru, Cilodong.
PEBRI/RADAR DEPOK
PELESTARIAN: Anak didik Sanggar Tari Kartika berfoto bersama dengan pelatih dengan orangtua di sanggar pusatnya yang berlokasi di Jalan H. Nirun, Kelurahan Kalibaru, Cilodong.

DEPOK – Prestasi. Itu yang menjadi target dari Sanggar Tari Kartika. Oleh karenanya, sanggar yang berlokasi di Jalan H. Nirun, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilodong tersebut selalu menciptakan tari-tari kreasi tiap tahunnya.

Ketua Sanggar Tari Kartika, Endang Sugiarti mengatakan, dengan prestasi, maka segalanya akan datang dengan sendirinya. Prestasi menjadi pembuktian, kalau memang apa yang dilakukan di Sanggar Tari Kartika bisa berbuah hal positif, untuk anak didiknya.

Endang menjelaskan, tari kreasi yang dibuat sanggarnya dimulai dari tahun 2011, dimana pada tahun itu ada Tari Kaulinan Barudak, dilanjutkan pada tahun 2012, menciptakan Tari Bermain Jumpritan. Ditahun 2013, ada lagi Tari Permainan Bakiak, di tahun 2014 ada Tari Kamucing, di tahun 2015 ada Tari Soyong, lalu di tahun 2016 ada Tari Dok Dok Lojor, dan di tahun 2017 ada Tari Caping.

“Semua tari kreasi tersebut, ada tari untuk anak-anak. Karena, dengan menciptakan tari kreasi tiap tahunnya, maka akan ada materi yang dapat diberikan ke anak untuk mereka menari, sehingga mereka akan kaya dengan materi tari,” ucapnya kepada Radar Depok.

Sanggar yang berdiri sejak September 2008 tersebut, memang produktif dalam menciptakan kreasi. Tidak hanya untuk anak-anak saja, tetapi ada juga tari untuk umum, yakni Tari Neang Sora pada tahun 2016 dan di tahun ini ada Tari Kembang Goyang. Tari-tari yang dibuat sanggat tersebut, adalah cerminan tentang kehidupan budaya di Kota Depok. Sehingga, Kota Depok memiliki seni dan budaya yang bisa berkolaborasi, dan akhirnya memiliki ciri khas sendiri.

Bahkan di tahun 2010, Sanggar Tari Kartika, pernah membuat Tari Petani Belimbing, yang bertujuan untuk menjadikan Kota Depok, memiliki tari khas dari daerah sendiri.

“Di tahun 2018, saya masih melakukan pendalaman materi untuk tari kreasinya. Tari yang sedang dibuatnya tersebut, yakni ingin mengangkat sejarah Situ Cilodong,” jelasnya.

Sekarang ini Sanggar Tari Kartika sudah memiliki 80 anak didik, yang dimulai dari usia dua tahun sampai tingkatan dewasa. Mereka terbagi dua, yakni di sanggar pusat yang ada di Jalan H. Nurin dan yang satunya lagi ada di kawasan Rawakalong, Kecamatan Cimanggis.

“Kami ingin tidak ada yang melupakan sejarah yang ada di Kota Depok, dengan dijadikan tari bisa lebih memasyarakat,” katanya. (peb)